PEMUDA PERSIS SEBAGAI KADER PERSIS DAN UMAT


وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya: sedang Allah mengetahuinya, apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. {Q.s. Al-Anfal : 60}

Pemuda Persatuan Islam secara resmi berdiri pada tanggal 22 Maret 1936 di Bandung[1], organisasi otonom dari Persatuan Islam (Persis) ini sebelumnya adalah kaum muda hasil gemblengan A. Hassan, seperti Mohammad Natsir, Fakhrudin Al-Khairi, E. Abdurrahman, O. Qomarudin, dan Abdul Qadir Hassan.

Strategi perjuangan Pemuda Persis senantiasa ‘elastis’ sesuai dengan ciri khas kepemimpinan Ketua Umum dan juga sesuai pada konteks zamannya masing-masing, seperti bagaimana strategi perjuangan dimasa penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang, masa Orde Lama, masa Orde Baru, hingga masa Reformasi saat ini.

Adapun strategi perjuangan  pasca Muktamar 2010 di Tasikmalaya adalah lebih diprioritaskan pada pembinaan dan kaderisasi, dimana Pemuda Persis disiapkan sebagai kader Persis dan kader umat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam, Tiar Anwar Bachtiar[2] : Salah satu yang paling mendasar hasil Muktamar di Tasikmalaya tahun 2010 ini adalah mengenai penegasan bentuk organisasi Pemuda Persis. Fokus organisasi Pemuda Persatuan Islam kini lebih dititikberatkan pada penyiapan kader-kader Persis, pada khususnya, dan kader umat, pada umumnya.

Filosofi Hidup Berjama’ah dalam Jam’iyyah Persis

Pemuda Persis adalah Organisasi otonom Persatuan Islam (Persis)[3]. Oleh sebab itu, sebelum membahas Pemuda Persis lebih dalam lagi, saya akan membahas filosofi hidup berjama’ah dalam Jam’iyyah Persis terlebih dahulu secara global.

Persatuan Islam secara resmi berdiri pada hari rabu, tanggal 30 Muharam 1342 H yang bertepatan pada tanggal 12 September 1923 M. sebenarnya jauh sebelumnya telah didahului oleh kelompok penela’ahaan terhadap ajaran Islam yang ideal dan ajaran yang berlalu secara faktual, atas prakarsa Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus.

Gerakan pada awal mula berdirinya Persis ini bisa dibaca dalam buku Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, karya Deliar Noer[4], beliau mengungkapkan : Persis pada umumnya kurang memberikan tekanan bagi kegiatan organisasi sendiri. Ia tidak terlalu berminat untuk membentuk banyak cabang-cabang atau menambah sebanyak mungkin anggota. Pembentukan sebuah cabang tergantung semata-mata pada inisiatif peminat dan tidak didasarkan kepada suatu rencana yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat. Tetapi pengaruh dari organisasi Persis ini jauh lebih besar daripada jumlah cabang ataupun anggotanya.

Mengenai penamaan Jam’iyyah Persis ini kita bisa baca dalam Tafsir Qanun Asasi-Qanun Dakhili Persis, bahwa Persatuan Islam ialah nama Jam’iyyah, bukan sifat Jam’iyyah. Sebagaimana halnya seorang bapak memberi nama untuk anaknya, yang merupakan wadah harapan serta cetakan cita-cita, maka nama Persatuan Islam itu diberikan untuk mengarahkan Ruhul Jihad dan Jihad, berusaha dengan sekuat tenaga yang ada untuk mencapai harapan dan cita-cita, sesuai dengan kehendak wadah serta yang telah diberikan dan ditentukan, yaitu Persatuan Pemikiran Islam, Persatuan Rasa Islam, Persatuan Usaha Islam dan Persatuan Suara Islam. Nama itu diberikan kepada Jam’iyyah ini, diilhami oleh firman Allah Swt dalam Surat Ali ‘Imran ayat 103 :

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً  فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ  فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ  مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ ’{ال عـمران 103}

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah   dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya  agar kamu mendapat petunjuk”

Serta sebuah hadis yang berbunyi:

يَدُ الله مَعَ الْجَمَاعَة

“Tangan Allah bersama Jamaah”  {H.r. Tirmidzi}.

Seperti yang tertera didalam lambang Persatuan Islam itu sendiri. Dengan pengertian dan maksud dalam dalil tersebut, kita diperintahkan untuk bersatu dengan pedoman al-Qur’an dan as-Sunnah, serta dilarang untuk iftiroq (perpecahan, keluar dari as-Sunnah/melakukan bid’ah dan al-Jama’ah, keluar dari imam kaum muslimin sampai melakukan kudeta).

Mengenai iftiraq/firqah ini telah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw, diantara hadis-hadisnya sebagai berikut:

“Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka.” Lalu beliau ditanya: “Wahai Rasulullah siapakah mereka ?” Beliau menjawab: “Al Jamaah.” {H.r. Ibnu Majah}

“Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.”  Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?”  Nabi menjawab: ” Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” {H.r. Tirmizi}, pegangan Nabi Muhammad Saw dan para sahabat adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dalam sejarah Islam, yang pertama kali membuat firqah sesat adalah Syi’ah dan Khawarij. Syi’ah Rafidhah dalam ta’asubnya (fanatik) kepada Ali dan menafikan Khalifah yang tiga (Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin ‘Affan). Adapun Khawarij adalah yang keluar dari kepemimpinan Ali,

Kedua firqah ini tidak lepas dari fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Saba’. Mengenai Abdullah bin Saba’[5] ini Yusuf Al-isy menjelaskan: Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi dari Shan’a, ia masuk Islam pada masa Utsman, ibunya adalah orang Negro yang berkulit hitam. Ia sering berpindah-pindah di daerah-daerah Islam guna menyesatkan penduduknya. Diantara perkataannya adalah : Sudah ada seribu nabi, dan setiap Nabi mempunyai wasiatnya dan wasiat Muhammad adalah Ali, dari provokasi ini sehingga berakhir dengan terbunuhnya Utsaman bin Affan. Tidak berhenti disana, Abdullah bin Saba juga memprovokasi umat pasca peristiwa Tahkim antara Ali dan Muawiyah, sehingga melahirkan Khawarij, tokohnya bernama Dzul Khuwaishirah (seorang Arab Badui dari Yaman), yang berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.

Bersambung….

(Di sampaikan dalam Halaqoh PC. Pemuda Persis Cimahi Selatan di Masjid Al-Furqon Cikendal, pada hari kamis, tanggal 1 Maret 2012)


[1] QA-QD (Qaidah Asasi Qaidah Dakhili) Pemuda Persatuan Islam 2005-2010

[2]  Kata pengantar dalam QA-QD 2010-2015

[3] QA-QD 2010-2015 Pasal 3, ayat 1. Hlm. 1

[4] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta : PT Pustaka LP3ES, 1996),  hlm. 97

[5] Yusuf Al-Isy, Sejarah Dinasti Umawiyah (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1998),  hlm. 78.

One comment on “PEMUDA PERSIS SEBAGAI KADER PERSIS DAN UMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s