Kapitalisme dan Seleksi Alam di Bidang Ekonomi


chk_captcha

HARUN YAHYA

Istilah kapitalisme berarti kekuasaan ada di tangan kapital, sistem ekonomi bebas tanpa batas yang didasarkan pada keuntungan, di mana masyarakat bersaing dalam batasan-batasan ini. Terdapat tiga unsur penting dalam kapitalisme: pengutamaan kepentingan pribadi (individualisme), persaingan (kompetisi) dan pengerukan kuntungan. Individualisme penting dalam kapitalisme, sebab manusia melihat diri mereka sendiri bukanlah sebagai bagian dari masyarakat, akan tetapi sebagai “individu-individu” yang sendirian dan harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. “Masyarakat kapitalis” adalah arena di mana para individu berkompetisi satu sama lain dalam kondisi yang sangat sengit dan kasar. Ini adalah arena pertarungan sebagaimana yang dijelaskan Darwin, di mana yang kuat akan tetap hidup, sedangkan yang lemah dan tak berdaya akan terinjak dan termusnahkan, dan tempat di mana kompetisi yang sengit mendominasi. Baca lebih lanjut

Evolusi: Inspirasi bagi Komunisme


PKI

oleh: HARUN YAHYA

Evolusi: Inspirasi bagi Marx dan Engels

Filsafat Materialisme, yang lahir di Yunani Kuno, memperoleh kemenangan di abad ke-19. Filsafat kuno ini meraih keberhasilannya melalui dua tokoh filsuf Jerman, Karl Marx dan Friedrich Engels. Baca lebih lanjut

Di Balik Tabir Nazi: Evolusi


Nazisme__un_avertissement_de_l_histoire_(6_episodes_complets)oleh : HARUN YAHYA

Nazisme lahir di tengah konflik politik yang dialami Jerman setelah Perang Dunia Pertama. Pemimpin Partai Nazi adalah Adolf Hitler, sosok yang sangat ambisius dan agresif. Hitler memiliki pandangan sangat rasis. Ia sangat meyakini keunggulan bangsa Jerman atau “Arya” di atas ras-ras lain. Ia memimpikan ras “Arya” Jerman akan segera mendirikan imperium yang bertahan selama seribu tahun. Baca lebih lanjut

YUSUF AL-QARDHAWI BERBICARA MASALAH POLIGAMI


poligami-arifin-ilham

Orang-orang Kristen dan Orientalis menjadikan tema poligami ini seakan merupakan syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, atau salah satu perkara yang wajib, atau minimal sunnah untuk dilaksanakan. Yang demikian ini tidak benar alias penyesatan, karena dalam praktek pada umumnya seorang Muslim itu menikah dengan satu isteri yang menjadi penentram dan penghibur hatinya, pendidik dalam rumah tangganya dan tempat untuk menumpahkan isi hatinya. Dengan demikian terciptalah suasana tenang, mawaddah dan rahmah, yang merupakan sendi-sendi kehidupan suami isteri menurut pandangan Al Qur’an. Baca lebih lanjut

Periode Baru dalam Da’wah


masjid-al-haram-7

Fathul Mekkah

 

  1. Perdamaian Hudaibiyyah

Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada bulan Dzulqa’dah, penghujung tahun ke-6 Hijriah. Penyebab terjadinya perjanjian ini berawal ketika Rasulullah Saw mengumumkan kepada kaum muslimin akan berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Ikut bersama beliau sejumlah sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Jumlah mereka sekitar 1.400 orang. Baca lebih lanjut

Hadis Dha’if: Sebaik-baik pengingat (untuk berzikir) adalah tasbih


نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ

Sebaik-baik pengingat (untuk berzikir) adalah tasbih.”

indexHadits ini maudhu’. Telah diriwayatkan oleh ad-Dailami dalam kitabnya Musnad al-Firdaus. Menurut saya, sanad hadits tersebut dari awal hingga akhir semuanya gelap, sebagian majhul dan sebagiannya lagi tercela. Kemudian Ummu al-Hasan binti Ja’far tidak ada biografinya, sedangkan Abdu Samad bin Musa telah disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam kitab al-Mizan seraya mengutip pernyataan al-Khatib yang berkata bahwa para ulama telah menyatakannya sebagai perawi yang lemah. Kemudian lebih jauh adz-Dzahabi berkata, “Abdus Samad juga terbukti telah meriwayatkan hadits-hadits munkar dari kakeknya, Muhammad bin Ibrahim.”

Baca lebih lanjut

Hadis Dha’if: Perselisihan (Ikhtilaf) di antara umatku adalah rahmat


اِخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

Perselisihan di antara umatku adalah rahmat.

Businessmen fighting June 4, 2001

Businessmen fighting June 4, 2001

Hadits ini tidak ada sumbernya. Para pakar hadits telah berusaha mendapatkan sumbernya dengan meneliti dan menelusuri sanadnya, namun tidak menemukannya. As-Subuki mengatakan, “Hadits tersebut tidak dikenal di kalangan para pakar hadits dan saya pun tidak menjumpai sanadnya yang sahih, dha’if ataupun maudhu’. Pernyataan itu ditegaskan dan disepakati Syeikh Zakaria al-Anshari dalam mengomentari tafsir al-Baidhawi II/92. Di situ ia mengatakan, “Dari segi maknanya terasa sangat aneh dan menyalahi apa yang diketahui para ulama peneliti.”

Ibnu Hazem dalam al-Ahkam fi Ushulil-Ahkam, V/64 menyatakan, “Ini bukan hadits.” Barangkali ini termasuk sederetan ucapan yang paling merusak dan membawa bencana. Bila perselisihan dan pertentangan merupakan rahmat, pastilah kesepakatan dan kerukunan itu merupakan kutukan. Ini tidak mungkin diucapkan apalagi diyakini oleh kaum muslimin yang berpikir tenang dan teliti. Masalahnya, hanya dua alternatif yakni bersepakat atau berselisih, yang berarti pula rahmat atau kutukan (kemurkaan).

Menurut saya, kata-kata ini akan berdampak negatif bagi umat Islam dari masa ke masa. Perselisihan yang disebabkan perbedaan antar mazhab benar-benar telah mencapai klimaksnya, bahkan para pengikut mazhab yang fanatik tidak segan-segannya mengafirkan pengikut mazhab lain. Anehnya, jangankan para pengikut mazhab, para pemimpin atau para ulamanya pun yang mengetahui syariat dan ajaran Islam tak seorang pun yang berusaha kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabawiyah yang sahih padahal, itulah yang diperintahkan oleh para imam mazhab yang mereka ikuti. Imam-imam yang menjadi panutan mereka itu telah dengan tegas berpegang hanya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, ijma, dan qiyas. Karena itulah para imam dengan tegas pula menyatakan secara bersama, “Bila hadits itu shahih, maka itulah mazhabku. Dan bila ijtihad atau pendapatku betentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah yang shahih, ikutilah Qur’an dan Sunnah serta campakanlah ijtihad dan pendapatku.” Itulah mereka.

Ulama kita dewasa ini kendatipun mengetahui dengan pasti bahwa perselisihan dan perbedaan tidak mungkin dapat disatukan kecuali dengan mengembalikan kepada sumber dalilnya, menolak yang menyalahi dalil dan menerima yang sesuai dengannya, namun tak mereka lakukan. Dengan demikian, mereka telah menyandarkan perselisihan dan pertentangan ada dalam syariat. Barangkali ini saja sudah cukup menjadi bukti bahwa itu bukan datang dari Allah, kalau saja mereka itu mau benar-benar mengkaji dan mempelajari Al-Qur’an serta mencamkan firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 82, yang artinya:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-­Nisa’: 82)

Ayat tersebut menerangkan dengan tegas bahwa perselisihan dan perbedaan bukanlah dari Allah. Kalau demikian, bagaimana mungkin perselisihan itu merupakan ajaran atau syariat yang wajib diikuti apalagi merupakan suatu rahmat yang diturunkan Allah? La haula wala quwwata illa billah!

Karena adanya ucapan itulah, banyak umat Islam setelah masa para imam –khususnya dewasa ini — terus berselisih dan berbeda pendapat dalam banyak hal yang menyangkut segi akidah dan amaliah. Kalau saja mereka mau mengenali dan mencari tahu bahwa perselisihan itu buruk dan dikecam Al-Qur’an dan Sunnah, pastilah mereka akan segera kembali ke persatuan dan kesatuan.

Ringkasnya, perselisihan dan pertentangan itu dikecam oleh syariat dan yang wajib adalah berusaha semaksimal mungkin untuk meniadakan dan menjauhkannya dari umat Islam sebab hal itu menjadi penyebab utama melemahnya umat Islam seperti yang difirmankan Allah:

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ” (QS. Al-Anfal: 46)

Adapun merasa rela terhadap perselisihan dan menamakannya sebagai rahmat jelas sekali menyalahi ayat Qur’an dan hadits-hadits sahih. Dan nyatanya ia tidak mempunyai dasar kecuali ucapan di atas yang tidak bersumber dari Rasulullah.

Barangkali muncul pertanyaan: para sahabat Rasulullah telah berselisih pendapat, padahal mereka adalah seutama-utamanya manusia. Lalu apakah rnereka juga termasuk yang dikecam Al-Qur’an dan Sunnah? Pertanyaan semacam itu dijawab oleh Ibnu Hazem: Tidak! Sama sekali, tidak! Mereka tidak termasuk yang dikecam Al-Qur’an dan Sunnah, sebab mereka masing-masing benar-benar mencari mardhatillah dan demi untuk-Nya semata. Di antara mereka ada yang mendapat satu pahala karena niat yang baik dan kehendak demi kebaikan. Sungguh telah ditiadakan dosa atas mereka karena kesalahan yang telah mereka lakukan. Mengapa? Karena mereka tidak sengaja dan tidak bermaksud (berselisih) dan tidak pula meremehkan dalam mencari (kebenaran). Bagi mereka yang mendapat kebenaran baginya dua pahala. Begitulah umat Islam hingga hari kiamat nanti.

Adapun kecaman dan ancaman yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah ditujukan bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan Qur’an dan sunnah setelah keduanya sampai di telinga mereka dan adanya dalil-dalil yang nyata di hadapan mereka serta kepada mereka yang menyandarkan pada si Fulan dan si Fulan, bertaklid dengan sengaja demi satu ikhtilaf, mengajak pada fanatisme sempit ala jahiliah demi menyuburkan firqah. Mereka sengaja menolak Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah. Kecaman dan ancaman tadi khusus untuk mereka yang bila isi Qur’an dan Sunnah sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya lalu mereka ikuti; tetapi bila tidak sesuai, mereka kembali pada ashabiyah jahiliahnya.

Karena itu, berhati-hati dan waspadalah terhadap semua itu bila Anda mengharap keselamatan dan kesuksesan pada hari yang tiada guna harta dan keturunan kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Lihat al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam, V/67-68).

Sumber: Muhammad Nashruddin a-Albani, Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu’ah wa Atsaruhas-Sayyi’ fil-Ummah (Silsilah Hadits Dhaif & Maudhu’)

Baca lebih lanjut