MASIHKAH UJIAN NASIONAL SEBAGAI PENENTU KELULUSAN SEKOLAH?


Sebentar lagi siswa-siswi sekolah di Indonesia akan menghadapi pada Ujian Nasional (UN), yakni Maret 2010. UN menjadi momok bagi siswa-siswi sekolah, Mengapa? Karena UN menjadi penentu kelulusan sekolah, di mana mereka harus “ekstra keras” untuk memperoleh kelulusan tersebut -di mulai dengan latihan soal ujian sampai ikutan bimbingan belajar-, bahkan tidak sedikit siswa yang kesehariannya pintar, ketika di hadapkan dengan UN ia tidak lulus, di sebabkan rasa was-was dan tidak percaya diri terhadap kemampuannya, hingga pada akhirnya banyak yang mengambil jalan pintas, misal dengan cara “membeli” kunci jawaban, yang memang sudah menjadi rahasia umum bila kunci jawaban selalu ada yang “di bocorkan” oleh oknum guru, Kepala sekolah, anggota Dewan, hingga pejabat Diknas.

Namun, ada beberapa hal yang menjadi masalah dengan UN sebagai penentu kelulusan, yang harus segera di benahi,. Pertama, mutu pendidikan di kota-kota besar berbeda dengan di daerah-daerah yang terpencil, di sebabkan guru-guru yang mengajar sangat susah untuk mengakses kesekolah, karena alat transportasi yang jarang, ditambah dengan infrastruktur yang belum memadai, ditambah dengan sarana dan prasarana yang belum lengkap, berbeda halnya dengan mutu pendidikan di kota-kota besar, alat transportasi dan infrastruktur ditambah dengan sarana prasarana yang memadai, sehingga pada akhirnya guru-guru banyak yang enggan untuk mengajar di sekolah-sekolah daerah terpencil, dan ini mengakibatkan banyak guru yang bertumpuk di kota-kota besar, sehingga mengakibatkan kualitas para siswa sangat jauh berbeda, yakni mutu pendidikan yang ada di daerah dengan di kota. Nah, inilah salah satu kendala di mana ada sebuah ketimpangan bila UN masih di terapkan sebagai penentu kelulusan.

Kedua, Soal ujian biasanya dengan Pilihan Ganda (PG), maka saatnya harus dirubah, karena dengan PG tersebut membuat proses berpikir statis atau membuat paradigma yang tidak kritis terhadap permasalahan sosial yang di hadapi masa kini.
Ketiga, Soal ujian selalu berpijak pada “paradigma” buku, tanpa melihat relitas social yang di hadapi masa kini.

Maka solusi untuk yang pertama: penentuan kelulusan sekolah harus di kembalikan lagi kepada guru yang bersangkutan (sekolah), karena guru yang bersangkutan lebih tahu kepandaian para siswanya. Karena sangat tidak logis bila kelulusan sekolah, yang mana para siswa belajar selama tiga tahun harus di tentukan dalam 4 hari (UN), dengan tanpa melihat prestasi siswa dalam kesehariannya

Kedua, soal ujian seyogyanya harus di rubah, dari soal Pilihan Ganda menjadi soal essai. Di mana hal tersebut, akan membuat para siswa berkembang dalam hal pola pikirnya dan menjadikan mereka sedikit mampu memecahkan permasalahan.

Ketiga, soal ujian haruslah di benturkan dengan kenyataan sosial yang di hadapi siswa di daerah masing-masing dan masa kini, agar tidak menjadi siswa menara gading. Dan membuat siswa kritis akan realita sosial, yang pada akhirnya mereka akan menjadi agen of change, karena mereka-lah yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin sekarang di masa depan, oleh sebab itu kita harus mempersiapkan generasi yang terbaik (Khaeru Ummah).

Dan pada akhirnya penulis sodorkan sebagai contoh soal ujian pada mata pelajaran PKn:
1. Bagaimana anda menyikapi banyak budaya Indonesia (Batik, Tari pendet, Wayang Kulit) yang diklaim oleh Malasyia?
2. Mengapa di Indonesia banyak bencana alam seperti: gempa bumi, tsunami, banjir?
3. Mengapa di Indonesia kaya akan sumber daya alam yang melimpah, tapi rakyatnya kebanyakan miskin dan menganggur?
4. Mengapa di Indonesia banyak koruptor? Dan apa dampaknya bagi masyarakat kecil?
5. Apa yang anda ketahui tentang kasus perseteruan antara Polri dan KPK yang terjadi saat ini?

Ini hanya sebuah sumbangsih gagasan dari seorang pengajar terhadap dunia pendidikan di Indonesia, dan pada akhirnya penulis kembalikan kepada Mahkamah Agung (MA) dan Mendiknas yang mempunyai otoritas dalam hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s