DALAM MEMBINA UMAT, KELUARGA ADALAH TANGGA PERTAMA BERCERMIN DARI KISAH NABI ISMA’IL ‘ALAIHI SALAM


Keberhasilan dan kesuksesan seorang pejuang dalam membina umat, tidak lepas dari peran sang istri. Begitupula kejatuhan dan kehancuran seorang pejuang atau tokoh, tidak lepas dari peran istri. Apalagi dalam kondisi sekarang yang tergerus oleh arus materialisme dan hedonisme, seorang istri ia akan selalu tergiur, menuntut dan mempengaruhi kepada suaminya untuk lebih ‘menikmati’ dunia yang fana ini. Oleh sebab itu mari kita tela’ah sejenak kisah rumah tangga Nabi Isma’il ‘Alaihi Salam.[1]

Setelah sekian lama di tinggal sang ayah (nabi Ibrahim Alaihi Salam), kini Nabi Isma’il Alaihi Salam telah dewasa. Ia telah berkeluarga dan menambah dzurriyyah, membina umat.

Dalam membina umat, keluarga adalah tangga pertama. Dalam keluarga sejahtera, kesalehan seorang istri adalah sandaran utamanya, sebab seorang istri bertugas sebagai ibu dan pendidik. Oleh sebab itulah kesalehan seorang istri lebih diutamakan dalam membina keluarga.

Pada suatu hari nabi Ibrahim, ayahanda Isma’il, datang menengok putranya. Kala itu Nabi isma’il sedang tidak ada di rumah, dan Ummu Isma’il pun telah wafat. Yang tinggal di rumah hanyalah istri Nabi isma’il.

Nabi Ibrahim menanyakan perihal kehidupan serta kebahagiaan mereka. Ditanyakan pula kemana suaminya. Ia mendapat jawaban bahwa Isma’il sedang bekerja mencari nafkah. Ketika memberikan jawaban itu, istri Isma’il mengeluh karena hidup serba kekurangan. Ia mengadukan kehidupan keluarganya yang tak menemui kegembiraan dan kecukupan: “Kami dalam kemalangan, dan kami dalam kesempitan.”

Mendengar penjelasan menantunya, Nabi Ibrahim berpesan agar disampaikan salamnya kepada Nabi Isma’il, dan di pesankan pula agar nabi Isma’il mengganti “ambang pintunya”. “Katakan saja kepada suamimu, agar ia mengganti ambang pintunya!”. Setelah itu Nabi Ibrahim pergi lagi.

Ketika Nabi Isma’il pulang, ia diberi tahu istrinya akan tamu yang datang ke rumahnya, yang menyampaikan salam dan menyuruh mengganti ambang pintunya. Nabi Ism’ail maklum, lalu dijelaskan kepada istrinya bahwa tamu itu adalah ayahandanya, dan bahwa arti mengganti ambang pintu ialah menganti istrinya dan menceraikan istrinya yang sekarang.[2]

Seorang istri di misalkan sebuah ambang pintu, sebab ambang pintu adalah tempat orang keluar-masuk. Betapapun banyaknya orang yang hendak masuk, bila ambang pintunya kecil, tentulah tak akan dapat masuk. Betapapun indahnya sebuah rumah, bila ambang pintunya telah lapuk, akan menimbulkan kecelakaan. Betapapun kuatnya pintu, bila ambang pintu telah rusak, akan mudah pencuri masuk.

Demikian juga seorang istri dalam rumah tangga. Betapa pun subur serta pesatnya perusahaan, tidaklah akan mendapat kebahagiaan bila si istri tidak saleh. Ia tidak akan memberikan keturunan yang saleh yang diharapkan pada masa depan bagi kehidupan bangsa dan negara. Bila istri tidak saleh, segala jerih payah suami siang-malam tiada artinya. Ia hanya akan menemui keluhan dan tekanan yang mendera jiwa serta keluarganya.

Akhirnya Nabi Isma’il mendapat seorang istri lagi.[3]

Tatkala ayahandnya berkunjung dan bertanyakan perihal keadaan keluarga mereka, istri Isma’il menjawab: “Kami berada dalam kebaikan dan kelapangan!” dan istrinya itu pun memuji syukur kepada Allah Swt. Nabi Ibrahim bertanya: “Apakah makanan kalian?”

Jawab istri nabi Isma’il: “Daging dan air!”

Mendengar jawaban menantunya itu Nabi Ibrahim berdo’a, kemudian ia berpesan agar putranya itu memperteguh ambang pintunya.

Datangnya kesenangan serta kelapangan bagi Nabi Isma’il tidak hanya karena berhasil dalam usaha atau naik pangkat, tetapi terutama karena kuatnya ambang pintu, tahan uji serta beragama dan mau bersyukur.

Pada kunjungan yang ketiga kalinya, barulah Nabi ibrahim bertemu dengan putranya. Kemudian mereka bersama-sama membina Masjidil haram.

[1] Kisah ini di kutif dari buku Risalah Wanita, Karya E. Abdurrahman.

[2] Dalam kitab Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir, bahwa Istri Nabi Isma’il yang diceraikan bernama Imarah binti Sa’ad bin Usamah bin Akil Al-Amaliqiy.

[3] Istri yang ini bernama As-Sayyidah binti Madhah binti Amr Al-Jurhumy, dari beliau melahirkan 12 anak, yaitu: Nabit, Qaidazar, Izbil, Maisiy, Masma’, Masy, Dusha, Ayar, Yathur, Nabisy, Thima, dan Qaidzama.

Di saat ajal telah dekat, Ismail ‘Alaihi Salam (wafat pada usia 136 Tahun) berwasiat kepada saudaranya, Ishaq ‘Alaihi Salam, serta menikahkan putrinya, Nismah dengan keponakannya Al-Aish bin Ishaq. Dari keduanya, lahirlah bangsa Romawi atau yang disebut Bani Ashfar (kuning) dikarenakan kulit Al-Aish berwarna kuning, dari padanya lahirlah bangsa Yunani/Spanyol.

Bangsa Arab Hijaz seluruh nasabnya kembali kepada kedua anaknya: Nabit dan Qaidzar.

2 comments on “DALAM MEMBINA UMAT, KELUARGA ADALAH TANGGA PERTAMA BERCERMIN DARI KISAH NABI ISMA’IL ‘ALAIHI SALAM

  1. kwarrankarangtengah mengatakan:

    Artikel tauladan. Boleh dong aku posting lg …?

  2. 41n9 mengatakan:

    terima kasih kang..
    silahkan kang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s