PLURALISME AGAMA MERUPAKAN AGENDA KAPITALISME GLOBAL


ISLAM MENGAKUI PLURLITAS TAPI TIDAK UNTUK PLURALISME AGAMA

ISLAM MENGAKUI PLURLITAS

Islam mengakui Plurlitas (kemajemukan suku, bahasa dan agama), bahkan Islam bersifat egaliter Q.s. Al-Hujurat: 13, seperti Bilal, seorang bekas budak yang berkulit hitam bisa jadi Mua’adzin. Ini membuktikan dalam Islam tidak ada rasis dan diskriminasi.

Toleransi pun, pernah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad Saw, seperti dalam hal kemajemukan di Madinah membuat hidup berdampingan antara Muhajirin dan Anshar, bahkan dengan kaum Yahudi, adapun ada bentrokan dan perang itu karena ulah Yahudi yang selalu usil dan melanggar perjanjian.

Nabi Saw pun sering berdialog dengan kaum Nashrani dan Yahudi. Umat Islam tidak pernah menutup diri dalam dialog dengan agama lain, namun posisi dan tujuan jelas, yaitu: sebagai muslim, bukan netral agama. Landasan pokoknya adalah: Q.s. Al Kaafiruun: 6, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

PLURALISME AGAMA

Hartono Ahmad Jaiz, mengatakan dalam karyanya Aliran dan Paham Sesat di Indonesia (Pustaka Al-Kautsar, Jakarta: 2009), Ibnu Arabi tokoh sufi abad 13 yang dikafirkan 37 ulama, mengarah ke wihdatul adyan, satunya agama atau semua agama sama. Landasannya wihdatul wujud , satunya wujud, alam ini cerminan Allah, sehingga satu wujud, Khaliq ya makhluq, makhluq ya Khaliq. Maka penyembah berhala pada hakekatnya penyembah Allah juga, karena berhala itu perwujudan dari Allah. Itulah paham wihdatul adyan, yang sesat. Wihdatul adyan yang dicanangkan Ibnu Arabi itu dalam bahasa lain kini ada paham pluralisme, semua agama itu sama, paralel, sejajar, sam-sama mencari keselamatan benar. Dan inilah pendangkalan aqidah.

Tahun 2001 Islam Liberal di Indonesia sudah sampai pada pemahaman pluralisme, menganggap semua agama itu sama atau paralel, semua menuju keselamatan, dan tidak boleh memandang agama orang lain dengan agama yang kita peluk. Inklusivisme: menegaskan, kebenaran setiap agama harus terbuka. Perasaan soliter sebagai penghuni tunggal pulau kebenaran cukup dihindari oleh faksi inklusif ini. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat kekeliruan pada agama yang kita anut.

BEDJO, S.E., M.DIV mengkritik kaum pluralisme agama ini, ia mengatakan bahwa: Penganut pluralisme agama sering menuduh golongan yang percaya bahwa hanya agamanyalah yang benar (sering disebut eksklusivisme) sebagai fanatik, fundamentalis dan memutlakkan agamanya. Padahal dengan menuduh demikian, kaum pluralis telah menyangkali pandangannya sendiri bahwa tiap orang boleh meyakini agamanya masing-masing secara bebas. Jika seorang pluralis anti terhadap kaum eksklusivis maka ia bukanlah pluralis yang konsisten. Dalam realita, kita menemukan banyak pluralis yang seperti itu dan memutlakkan pandangan bahwa ”semua agama benar”. Kaum pluralis seringkali terjebak dalam eksklusivisme baru yang mereka buat yaitu hanya mau menghargai kaum pluralis lainnya dan kurang menghargai kaum eksklusivis.

ISLAM MENOLAK PLURALISME AGAMA

Maka untuk Pluralisme agama ini, Islam jelas-jelas menenentangnya, sebagaimana firman Allah Swt: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (Q.s. Ali-Imran: 19). Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala telah mengkhabarkan: bahwasannya tidak ada satupun agama disisi-Nya yang diterima kecuali Islam, dan mengikuti Rasul-rasul yang telah Allah utus kepada mereka pada setiap masa, sampai penutup para Rasul yaitu Nabi Muhammad Saw, yang Dia telah menutup seluruh jalan kepadanya kecuali dari arah Nabi Muhammad saw, maka barangsiapa yang Allah pertemukan setelah di utusnya Muhammad dengan agama atas selain syari’at-Nya maka tidak akan diterima, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi(Q.s. Ali-Imran:85). Bahkan Abu Al-Fida lebih spesifik dalam menafsirkan (I: 344) ayat ini: Wamayabtagi ghairul Islam diinan falayuqbalahu minhu, Yaitu barangsiapa yang melalui jalan-jalan (Thariqan) selain apa yang telah Allah syari’atkan maka tidak akan diterima oleh-Nya. Wahua fil akhirati minalkhosirin. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw dalam hadits yang shahih. Man ‘amila amalan laesa ‘alaihi amruna fahua roddun.

PLURALISME AGAMA MERUPAKAN AGENDA KAPITALISME GLOBAL

Pasca perang dingin, dan setelah “tumbangnya” komunisme, Barat (Kapitalisme) mulai “melirik” musuh utamanya, yaitu: Islam. Sehingga mereka menabuh genderang perang terhadap Islam (Barat menyebutnya: Teroris). Sehingga tidak aneh bila Negara-negara muslim banyak yang di invasi, dan adapun Negara muslim -termasuk LSM-LSM yg “mendakwahkan” inklusif, pluralisme- yang akomodatif, memberikan sejumlah dana yg sangat besar. Y. Herman Ibrahim mengatakan (Pikiran Rakyat, Selasa, 14 Desember 2004)”…bahwa di balik teologi inklusif, demokrasi, dan pluralisme itu tersimpan agenda tersembunyi yakni globalisasi ekonomi atas dasar paham ideologi neoliberal”. Oleh karena itu, supaya berjalan mulus dalam menjalankan agendanya, kapitalisme membuat berbagai cara termasuk menempatkan “antek-anteknya” yang sejalan dengan hawa nafsunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s