4 Kriteria Pemimpin Ideal Dalam Filosofi Sunda


Pulau Jawa

Pulau Jawa merupakan pulau terpadat penduduknya di negara Republik Indonesia, yakni hampir separuhnya penduduk Indonesia, walaupun luas wilayahnya sangat kecil bila dibanding dengan pulau Kalimantan. Maka tidak aneh dengan kelebihan yang dimiliki oleh pulau Jawa tersebut menjadi lahan empuk bagi para politisi untuk merebut suara rakyat, guna menempati kursi panas DPR.

Jawa Barat dan Urang Sunda

Pulau Jawa terbagi kepada beberapa Propinsi, antara lain: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Banten dan mungkin akan bertambah seiring “musim” pemekaran (yang masih menyisakan berbagai permasalahan), walaupun demikian “Syahwat” pemekaran kian terus menjadi model baru untuk konteks Indonesia saat ini (era refotnasi…eh reformasi).

Masih banyak yang berasumsi bahwa penduduk pulau Jawa identik dengan suku Jawa, khususnya penduduk di luar pulau Jawa, sebut misal ketika penulis “ulin jarambah” (maen jauh-jauh, -alah rancu menerjemahkannya-) ke Kalimantan Selatan, tepatnya ke Banjar Baru dan Martapura, ada saja orang yang mengenalkan penulis dari pulau Jawa, dan mereka menyangka penulis sebagai orang Jawa, walaupun bagi penulis sendiri tidak menjadi masalah, karena kalau kita masih mempermaslahkan suku dan bangsa mirip dengan zaman jahiliyah yang sangat dilarang dalam agama Islam yaitu ashobiyah

Kita ketahui bahwa pulau Jawa Timur dan Jawa Tengah mayoritas penduduknya adalah suku Jawa, dan Jawa Barat mayoritas penduduknya adalah suku Sunda, walaupun masih ada suku lain yang gak kesebut dan sudah banyak pula suku-suku yang berdatangan dan bermukim di Pulau Jawa, diantaranya: Suku Batak, Padang, dll, yang gak kesebut jangan marah termasuk suku jebrag dan suku rorombeheun.

Kriteria Pemimpin Ideal Dalam Filosofi Sunda

Di pentas nasional untuk setingkat Presiden, urang Sunda belum ada yang “mendudukinya”. Kursi panas tersebut masih didominasi oleh wong Jowo, sebutlah : Soekarn(o), Soehart(o), Susilo Bambang Yudhoyon(o), dll. Namun demikian urang sunda ternyata mempunyai filosofi yang begitu berbobot bagi kriteria pemimpin bangsa ini, diantaranya ada 4 kriteria:

1. Bageur (Baik)

Seorang pemimpin seyogyanya harus bageur, dalam artian ia harus baik kepada rakyatnya. Maka bagi para pemimpin seharusnya mengejawantahkannya dalam mengurus rakyatnya, bukannya ‘mengeksploitasinya’, dimana para kandidat pemimpin begitu baik kepada rakyatnya saat menjelang Pemilu tapi ketika pesta demokrasi tersebut usai, rakyatpun mulai dilupakannya, jadi rakyat hanya sebatas pendorong mobil mogok, dan setelah mobil maju merekapun ditinggalkannya.

2. Beneur (Benar)

Seorang pemimpin harus benar akhlaknya yang berpijak kepada dienullah, yang menjadi agama bagi pemeluk mayoritas dinegeri ini.

3. Cageur (sehat)

Seorang pemimpin harus sehat, bukan saja sehat jasmani, tapi juga sehat rohani.

4. Pinter (pintar / cerdas)

Seorang pemimpin mesti cerdas, bukan hanya cerdas otaknya namun ia juga mesti cerdas spiritual atau shaleh, karena pintar otaknya tanpa dibarengi dengan keshalehan akan menjadi pinter kablinger (kepintaran hanya digunakan untuk menipu rakyatnya). Dengan cerdas keduanya, seorang pemimpin tak akan tergantung dan berhutang kepada pihak asing, seperti: IMF, Bank Dunia, WTO dan lain-lain.

Demikianlah empat kriteria pemimpin ideal dalam filosofi Sunda -namun tidak menutup kemungkinan ada kriteria lain (yang berakhiran ‘er’)-, yang bila di laksanakan oleh pemimpin-pemimpin bangsa ini akan tercipta rakyat makmur dan sejahtera (dengan izin Allah Swt), dan kekayaan alam tidak hanya di nikmati oleh segelintir orang saja.

8 comments on “4 Kriteria Pemimpin Ideal Dalam Filosofi Sunda

  1. kwarrankarangtengah mengatakan:

    Salam kenal…..!!
    boleh tu artikelnya.
    stuju skl,
    krn aku sndiri org Sunda

  2. 41n9 mengatakan:

    salam kenal kembali kang..!
    hatur nuhun kang..ya, gitu deh kang..hasil ngutak-ngatik-ngetik, tapi henteu ari ngutuk mah..ha..ha..just kidding!

  3. Dadang Sucipta mengatakan:

    Lahir kedah dipikir
    Bathin kedah dipimpin
    Akherat kedah dijaga

    Janten kriteria pamimpin nu “4” teh teu ngawajibkeun janten persiden pan?? teu ngawajibkeun janten anggota DPR deuih. Kriteria nu 4 wajib kanggo mimpin diri hingga dugi katujuan di surgana Alloh SWT

  4. den iday mengatakan:

    bos aku linkan ke blog simkuring nya……punten we di link balik..bagus lah artikelna..leres

  5. 41n9 mengatakan:

    silahkan kang den iday….hatur tengkiw!

  6. DHS mengatakan:

    Kang, sim kuring mah dipapagahan ku almarhum nini jeung aki teh kieu cenah:
    1. Cageur, kahiji urang kudu cageur, da mun teu cageur mah moal walakaya
    2. Bageur, mun geus cageur, seug sing bageur, da loba nu cageur tapi teu balageur matak cilaka batur jeung dirina
    3. Bener, mun seug cageur tur bageur, kudu sing bisa istiqomah dina be-bener-an
    4. Pinter, pinter dina urutan ka-opat da gening kabuktian ayeuna mah jadi pamingpin cukup ku muruhan nu palinter sangkan urusan beres roes teh….

  7. zuLiG mengatakan:

    awas kabalinger😀
    soal loba pamimpin anu pinter tapi kabalinger pagaweanana ngakalan rakyat supaya makin sakarat dengan rayuan manisnya..

  8. badi mengatakan:

    kang…sae pisan..mun tiasa mah filosofi anu sanes kang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s