GENERASI MUDA MUSLIM DAN TANTANGAN GLOBAL


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”. (Q.s. [3] Ali ‘Imran:110)

A. TANTANGAN DAN RINTANGAN TEMPO DULU

Pada abad 16 hingga saat ini merupakan abad kemunduran umat Islam di belahan jagat raya; banyak negara-negara muslim yang di jajah (baik itu secara fisik maupun secara pemikiran), yang mengakibatkan banyak umat Islam yang apatis dan inferior akan kekuatan mereka sendiri; mereka lebih memilih “berdiam diri” (sufistik) atau berdecak kagum akan superioritas Barat sembari mengekor; okelah kalau mereka mengekor dalam hal Ipteks bisa dimaklumi, karena saat ini Barat memang superioritas dalam hal Ipteks (dan itu juga merupakan “peminjaman” dari Islam, yang tidak pernah diakui Barat), namun mereka mengekor kepada Barat dalam segala aspek kehidupan, mulai dari life style yang glamour dan hedonistik, hingga cara pandang yang materialistik dan sekularistik.

Namun, pada abad 19-an lahirlah sosok-sosok pembaharu dalam kancah dunia Islam, sebutlah Jamaluddin Al-Afghani, Hassan Al-Bana, Rasyid Ridha dan lain-lain. Mereka mulai membuka kran kejumudan dan taqlid, dan mengalirkan gagasan ijtihad dan Harakatut-Tajdid. Hingga pada akhirnya ide dan gagasan tersebut mengalir deras ke berbagai belahan dunia muslim, tak terkecuali Indonesia yang pada saat itu sedang dijajah oleh Belanda. Maka dari Indonesia munculah nama-nama yang menorehkan sejarah pembaharuan dan menggebrak dunia pemikiran muslim di Indonesia, sebutlah A. Hassan, Ahmad Dahlan, Ahmad Surkati, Hamka, dan lain-lain.

Tantangan dakwah yang dihadapi para pembaharu tersebut dan terkhusus kaum muda muslim sangat berat, mereka harus berhadapan dengan kaum muslimin sendiri (baca: kaum tua/tradisional), pergulatan tersebut adalah masalah furu’iyyah; berhadapan dengan ideology komunis dan kolonialis-kapitalis. Hingga menjelang kemerdekaan pun mereka masih berhadapan dengan konsep ketatanegaraan, wacana demokrasi dan Islam pun tak bisa di hindari.

B. TANTANGAN DAN RINTANGAN PADA MASA KINI

Kalau ada yang berkomentar, ngapain kita mikirin orang lain? mending mikirin diri sendiri!; Jawabannya : Bukankah Nabi Muhammad Saw jauh-jauh hari telah bersabda:“Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan belas kasih serta cinta adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)”.

Atau kalau ada yang masih berpikiran, ngapain kita mikirin bangsa/negara lain!, wong bangsa/negara kita juga banyak yang harus diperbaiki!. Jawabannya : Bukankah Nabi Muhammad Saw bercerita pada Para Sahabat tentang Negara-negara adikuasa pada saat itu, seperti: Romawi, Persia, Kisra dan lain lain. Oleh sebab itu mari kita mulai peka terhadap kondisi saudara-saudara kita di belahan bumi.

Kini kita memasuki era globalisasi, tantangan dan rintangan dakwah pun makin kompleks; era globalisasi saat ini selain membawa arus modernisasi, juga membawa arus liberalisasi, baik dalam bidang politik, ekonomi, budaya dan bahkan agama. Kita sedang mengahadapi dunia yang tidak adil. Kepongahan Barat (AS dan sekutu-sekutunya)-pun di pertontonkan, mereka melakukan invasi terhadap negara-negara muslim, seperti: Irak, Afganistan, Pakistan, Chechnya, Kashmir, Pattani, Lebanon, dll) mereka adalah saudara-saudara kita yang dihancur leburkan; Palestina-pun tak luput dari keganasan Israel, tangisan dan cucuran darah hingga kini belum reda, pengungsian (baca: pengusiran secara paksa) besar-besaran ke negara tetangga, tak pelak peristiwa-peristiwa tersebut hanya menjadi sebuah suguhan berita dunia; disaat saudara-saudaranya di tersebut dijajah, seolah para pemimpin dunia muslim menutup mata, apalagi penguasa Mesir dengan ke-egoisanya membuat benteng. Jargon melindungi Hak Asasi Manusia (HAM)-pun hanya dipakai bagi kepentingan mereka (Barat) yang terganggu. Adapun bila mereka melakukan invasi, bukan melanggar HAM dan demokrasi, tapi mereka mempunyai dalih yang sangat jitu, yaitu: perang melawan Teroris!.

Itulah problematika dunia muslim saat ini, mereka di jajah (invasi), lantas bagaimana negara-negara yang mayoritas muslim lainnya, semisal Indonesia? Apakah tidak di invasi? Jawabannya: ya, ada beberapa negara di dunia ketiga yang tidak di invasi, namun mereka di intervensi! Penghisapan terhadap kaum muslimin-pun sampai saat ini mereka lakukan; kerusakan lingkungan hidup tak dipedulikan, belitan utang, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang melanda negeri ini hanyalah sebuah proyek dari kaum imprealis-kapitalis global. Sehingga melahirkan kesenjangan sosial antara negara maju dan negara-negara berkembang, apalagi saat ini ASEAN dan Cina melakukan perjanjian pasar bebas (ACFTA), apakah Indonesia mampu berkompetisi (dengan biaya produksi yang tinggi, karena tidak ditunjang dengan infrastruktur yang memadai) dengan (Harga) Cina?.

Belum lagi perampokan (KKN) di negeri ini sudah menjadi habit, susah untuk di rubah, kecuali di potong tangannya; rakyat sudah jenuh ketika melihat kasus perampokan 6,7 triliun yang dipolitisasi.

Belum lagi masalah liberalisasi agama (Islam); bahkan baru-baru ini kaum Islam liberal (yang menganut paham Pluralisme Agama) mereka tergabung dalam AKKBB mengajukan uji materil UU Penodaaan Agama, dalam hal ini mereka menginginkan kondisi Indonesia berada dalam kekacauan (chaos); mereka menginginkan aliran sesat dan sekte sempalan hidup dan berkembang biak di Negeri yang mayoritas muslim ini.

Demikianlah tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh dunia muslim saat ini yang kian hari, makin menggila. Oleh sebab itu generasi muda muslim harus ikut andil dalam memberantas kemungkaran-kemungkaran tersebut. Dan diharapkan generasi muda muslim melakukan lompatan-lompatan pemikiran yang lebih maju (progresif); seyogyanya “roda gila” ijtihad harus terus di gerakan guna menghadapi tantangan dakwah masa kini; Ruhul jihad generasi muda muslim tak boleh berhenti, yang senantiasa berhadapan dengan berbagai masalah Keumatan. Denyut nadi dan gelora Harakatut-Tajdid harus terus di pompa, guna menghadapi tantangan dakwah yang tak kalah beratnya dengan para pendahulunya. Esatafet kepemimpinan pemikiran pembaharuan-pun harus cepat diambil!, jangan sampai generasi muda masa kini kehilangan momentum untuk menggebrak jagat pergulatan pemikiran nasional, lebih-lebih di tingkat internasional yang pernah ditorehkan oleh M. Natsir dan kawan-kawan segenerasinya; generasi muda muslim jangan hanya “reueus” (bangga) dengan para founding fathernya sambil ‘berongkang-ongkang kaki’!.

Generasi muda muslim haruslah aktif berada dalam garis depan, Karena ini menyangkut kehormatan Islam dan umat Islam yang sudah di ambang kehancuran; maka menegakkan amar Ma’ruf dan Nahyi Munkar, berdakwah bilisan, bilkitabah dan bilhal dalam segala ruang dan waktu menjadi sebuah yang urgen dan krusial; generasi muda muslim kini harus bisa menangkap pesan Risalah Kenabian sebagai pembebas dari problematika umat masa kini; dan “ngeuh” (peka) terhadap isu-isu kontemporer yang menerpa umat tersebut; dan melawan setiap bentuk ketidakadilan (kezaliman) dan diskriminasi yang diperankan oleh musuh-musuh Islam saat ini, dan menyongsong kehidupan yang lebih manusiawi, yang diridhoi oleh Ilahi Rabbi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s