LOVE IS BLIND


Dalam dunia tarik suara (musik/lagu) diperkirakan hampir 90 % bernuansa cinta, sampai genre musik yang “ideologis”-pun, semisal band yang beraliran cadas, mereka bermetamorfosis menjadi musik yang bernuansa mellow, menyesuaikan dengan keinginan pasar, yaitu musik yang sedang digandrungi kawula muda, mereka berlomba-lomba meraup pundi-pundi uang dan popularitas, melalui konser, penjualan kaset/vcd, sampai Nada Sambung Pribadi (NSP / RBT). Sehingga kalau kita dengar musik, Sarah Sechan akan bilang Looove melulu.

Kalau kita seorang “Sufi” (Suka film), tentu kita akan tahu, bahwa dalam setiap film, mulai dari film sekular hingga film (katanya) yang bernuansa religius -dari setiap alur cerita film selalu ada pesan yang hendak disampaikan, sebutlah Ayat-ayat cinta, dalam film tersebut ada pesan untuk tidak/anti poligami-, film-film tersebut selalu dibumbui dengan cerita roman. Sehingga bila kita menonton film, dari mulai film action sampai film cinta 100%, kita akan melihat adegan-adegan romantis, sehingga ada istilah cinta sampai mati, begitu “kata” Romeo and Juliet.

REFLEKSI TAFSIR CINTA

Jika kita berbicara tentang cinta dan syahwat, maka akan langsung terbersit dalam pikiran kita adalah saling sukanya antara laki-laki dan perempuan; bersatunya dua insan (kecuali Homosex, Lesbi, dan sejenisnya). Namun kecintaan dan keinginan (syahwat) manusia bukan hanya itu, tapi juga meliputi Anak, harta, materi, kendaraan, rumah mewah, sampai cinta akan jabatan (kekuasaan), sehingga manusia sering mengungkapkan dan berusaha mengejar apa yang dinamakan Harta, Tahta dan Wanita. Sehingga untuk mendapatkannya kadang dengan hal yang tidak rasional dan keluar dari rel Syari’ah, sebutlah ketika ingin kaya dan jabatan mereka pergi ke dukun atau minta ke kuburan; surat Yusuf di pakai bacaan mantera/azimat untuk memelet wanita, dan lain-lain.

Kaum Quraisy-pun dalam membujuk Nabi Muhammad Saw dengan wanita tercantik seantero Arab dan harta yang melimpah, supaya Nabi Muhammad Saw tidak mencela berhala-berhala mereka dan mau meroling peribadatan (dalam hal ini maka turunlah Q.s. Al-Kafirun).

Cinta dan syahwat merupakan fitrah manusia, sebagaimana firman Allah Swt:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Q.s. [3] Ali ‘Imran: 14)

Dalam ayat tersebut, yang pertama kali diungkapkan, adalah kecintaan dan keinginan terhadap kaum Hawa, karena sesungguhnya mereka adalah fitnah (ujian) yang sangat berat dan berbahaya bagi kaum Adam. Ingat, bagaimana Kabil berani membunuh saudarnya sendiri, Habil, karena wanita; Banyak perseteruan antar pemimpin-pemimpin dunia, mereka menggunakan para wanita sebagai spionase, dengan cara merayunya hingga ketempat tidur, untuk mencari informasi tentang kelemahan lawan-lawannya; Tidak sedikit para pemimpin dunia yang jatuh dalam lubang kehinaan, gara-gara wanita. Dalam Tarikh disebutkan bagaimana kebencian Abu Lahab terhadap Nabi Muhammad Saw dan para Sahabat, karena selalu dikompori (namimah) oleh istrinya (Baca: Q.s. [111] Al-Lahab: 4-5), namun hal tersebut tidak berlaku bagi wanita sholehah, Rasulullah Saw bersabda: “Addunyaa mataa’un wa khoeru mataa’ihaa mar’atush-shoolihatu in-nadzoro ilaehaa sarrathu, wain amarahaa atho’athu, wain ghooba ‘anhaa hafidzothu fii nafsihaa wamaalihi”

Dan yang kedua adalah kecintaan terhadap anak (keturunan). Hal ini merupakan sesuatu yang di idam-idamkan bagi pasangan suami-istri, untuk meneruskan perjuangan mereka, sebagaimana kisah Nabi Zakaria (Baca: Q.s. [19] Maryam: 5-7). Dan banyak anak-keturunan yang beribadah kepada Allah Swt serta tidak mensekutukan-Nya, ini merupakan kebanggaan bagi Nabi Muhammad Saw di hari Kiamat, “Tazawwajuu waduuda waluuda fainni mukaatsirun bikimuul umama yaomal qiyaamati”, makanya bagi umat Islam, KB harus ditinjau ulang.

Dan selanjutnya adalah kecintaan akan harta. Harta yang melimpah ruah merupakan suatu prestise dan kebanggaan bagi sebagian umat manusia, sampai ada majalah yang getol mempublikasikan orang terkaya sedunia, orang terkaya se-Asia bla bla, bahkan di dunia ini kekayaan dan sumber daya alam hanya di kuasai oleh segelintir orang, dibandingkan dengan mayoritas penduduk dunia.

Di Akhirat kelak harta akan ditanya 2 kali, yaitu dimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan, Sabda Nabi Saw: “Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan.” (HR. Ahmad), oleh sebab itu bagi para Markus (Makelar kasus) -yang lagi naik daun saat ini- dan para koruptor hendaklah bertaubat, sebelum harta tersebut menjadi ular yang mematukinya di neraka.

Dan banyaknya harta-kekayaan (dalam istilah basa Sunda Lubak libuk kebon lobak teu kalebok) jangan dijadikan alat kesombongan, apalagi menindas kaum lemah. Tapi hendaklah dipakai untuk berinfaq kepada kerabat dan faqir miskin serta berjihad fi sabilillah. Tak sedikit dari para sahabat Nabi Saw yang mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk berjihad di jalan Allah, sebutlah Abu Bakar As-Sidieq, Utsman bin Afan, sampai Abdurrahman bin Auf, mereka adalah para saudagar muslim yang istiqomah terhadap perjuangan Islam dan Umat Islam, mereka tidak takut miskin untuk menginfakan harta-harta mereka.

Dzalika mata’ul-hayaatid-dunyaa (itulah kesenangan hidup di dunia), yaitu sesungguhnya ini adalah kembang dan hiasan dalam kehidupan dunia, yang bersifat fana (cepat rusak dan lenyap), sehingga kenikmatan akan kesenangan yang ada di dunia ini, Fatkay akan bilang ”Beginilah cinta, deritanya tiada akhir”. Sedangkan surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali, Wallahu ‘indahu husnul maab (dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik [surga]).

Dan ayat selanjutnya (Q.s. [3] Ali ‘Imran: 15) adalah mengkhabarkan tentang keindahan dan kenikmatan yang abadi dan tak akan rusak dibandingkan dengan kehidupan (keindahan) duniawi, Firman-Nya:

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?.” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Q.s. [3] Ali ‘Imran: 15)

Itulah bagi orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), mereka akan mendapatkan surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dari berbagai macam minuman, mulai dari madu, susu, bahkan khomer-pun ada, serta air yang lainnya, yang belum pernah dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga. mereka kekal (tinggal) didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan, yaitu suci dari berbagai kotoran dan najis seperti: darah haid dan darah nifas.

Akhirul Kalam: “Ya Allah, anugerahi aku akan cinta-Mu, dan cinta orang, yang cintanya bermanfa’at bagiku, di sisi-Mu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s