Sulitkah Menulis?!


Muqoddimah

Pembaca yang saya hormati, melalui tulisan ini saya bukan hendak memberikan inspirasi, lebih-lebih memberikan trik dan tips tentang dunia tulis-menulis, karena saya sendiri bukan penulis handal, sebutlah penulis amatiran, mengapa? Karena saya tidak pernah menulis artikel di media cetak atau membuat karya tulis, sebutlah sebuah buku. Adapun motif saya menulis judul diatas, yaitu: “Sulitkah Menulis?!” adalah karena saya sendiri merasa kesulitan untuk menulis, oleh sebab itu saya menulis “Sulitkah Menulis?!” mudah-mudahan saya terbiasa menulis, dan pada akhirnya saya tidak kesulitan untuk menulis. Ya kalau para pembaca malas membaca tulisan saya ini, saya maklumi, karena saya sedang belajar menulis, bukan penulis profesional yang tiap karya tulisannya -berupa buku-, selalu Best Seller, ya setidaknya para pembaca memberikan masukan, pendapat, saran kepada saya, bagaimana menjadi seorang penulis, begitu lho! Makanya jangan heran bila dalam tulisan ini banyak sekali kesalahan, baik itu berupa tanda bacanya, pembendaharaan kata yang jauh dari standar penulisan ilmiah, sampai tidak memakai referensi atau buku rujukan -yang katanya, tidak disebut ilmiah (fiksi) bila sebuah tanpa rujukan-, makin banyak buku rujukan -selain buku, ada beberapa hal lagi yang jadi rujukan, seperti: website, kitab, wawancara, angket dll-, maka nilai keilmiahan patut diacungi dua jempol, lebih-lebih bila rujukan tersebut adalah langsung dari sumbernya, artinya bukan hasil terjemahan, baik itu kitab kuning ataupun kitab putih, berupa bahasa Asing, sebutlah bahasa Arab, Bahasa Inggris, Jerman, Latin dan lain sebagainya.

Menulis

Apa sih yang dimaksud dengan menulis?

Tidak terlalu sulit untuk mendefinisikan kata menulis, karena anak SDpun mengetahui apa itu menulis? Mereka akan menjawab: “Menulis adalah suatu pekerjaan yang dilakukan oleh tangan dengan menggunakan alat tulis seperti: pulpen atau pinsil pada selembar kertas atau sebuah buku, kalau ibu dan bapak guru pada papan tulis”, bahkan kegiatan menulis ini menjadi sebuah kegiatan yang terbatas akan sarananya, sekarang sudah ada mesin tik dan komputer. Atau kata orang aktivis (bukan aktebal) mah, bahwa menulis adalah mencurahkan gagasan dalam sebuah tulisan sebagai bentuk protes terhadap penguasa dikatator yang cinta kemapanan (status quo) atau mengkritisi sebuah sistem yang mendzalimi rakyatnya.

Tidak terlalu sulitkan, untuk mengetahui definisi menulis tersebut?! namun kalau mau lebih spesifik baca aja di Kamus Besar Bahasa Indonesia. atau bisa diklik di http://id.wikipedia.org/wiki/Menulis yaitu Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.

Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno.

Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda.

Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.

Sekilas pekerjaan menulis begitu mudah untuk diungkapkan, namun sulit untuk dikerjakan, mengapa? Ya, karena pekerjaan tersebut tidak dibiasakan, sehingga ada istilah “Bisa karena biasa”. ‘Alah cetek (gampang) atuh menulis mah’ kata seorang teman saya, ia melanjutkan omongan nya, ‘ya tinggal ngejiplak aja di buku, copi-paste (copas) di website’. Ya memang plagiarisme menjadi sebuah trend di dunia pendidikan negeri kita ini, bukan hanya siswa SMA, tapi juga sudah merambah ke tingkat Calon Doktor (S3),….sangat sulitkah melakukan karya tulis atau penelitian (Skripsi, Tesis, Disertasi), sehingga kita melakukan plagiat terhadap karya orang lain?

Apa sih gunanya menulis?!

Salah seorang teman kita akan berkata demikian bila kita ajak untuk sama-sama belajar menulis, ya enggak usah disalahkan teman kita itu, lebih-lebih kita menjustifikasinya sebagai orang bodoh.

Mungkin karena kita berada di era globalisasi, maka lahirlah apa yang dinamakan sekularisme, materialisme, hedonisme, oportunisme dan pragmatisme (aduh bahasa apaan nih?!) ya sudah, saya enggak akan pake bahasa yang mesti mengernyitkan dahi, karena tulisan ini saya harapkan mampu dicerna oleh semua kalangan, mulai dari akar rumput sampai akar dagu (apaan tuh akar dagu? Jenggot maksudnya, he…he.. just kidding). Manusia tidak akan lepas dari duit (pulus, money, artos, uang dll), mereka akan berburu terhadap barang yang satu ini, dengan cara apapun, baik dengan cara yang halal, syubhat (antara halal dan haram) ataupun haram sekalipun. Makanya ketika disodorkan untuk pekerjaan menulis, ia akan bertanya: Apa sih gunanya menulis?! Apakah menghasilkan duit atau tidak? Aduh saya belum bisa menjawab pertanyaan tersebut, karena saya sendiri baru belajar menulis, belum merasakan ‘hasil’ dari tulisan saya ini, mungkin lebih baik tanya nya kepada para penulis profesional, baru pertanyaan tersebut bisa dijawab, tapi baik lah saya berasumsi, ketika menulis sebuah artikel di sebuah Koran ataupun majalah dan dimuatnya, maka ia mendapat honor, mulai sekitar Rp 25.000, Rp. 50.000, Rp. 100.000 dan seterusnya, tergantung oplah penjualan dari harian tersebut, dengan demikian ternyata menulis itu menghasilkan duit (kalau dimuat gitu juga, he..he..kalau enggak dimuat bagaimana?! Anda belum beruntung! He..he..Ya coba lagi, coba lagi dan coba lagi donk, jangan putus asa, apalagi sampai niat bunuh diri! Jangan ya! Dosa besar lho……Walaa taqtuluu anfusakum… (Q.s. An-Nisa: 29). Kata seorang penulis, “Tulisan kita kalau pengen dimuat di sebuah harian, maka tulisan kita ini harus ‘se-ideologi’ dengan harian tersebut, atau kita mesti tahu visi dan misi harian tersebut”.

Itu baru nulis artikel (opini atau gagasan kita terhadap realitas masa kini), belum nulis buku, dari hasil penjualan buku, maka seorang penulis akan mendapatkan royalti dari penerbit (yang amanah, mengapa? Karena, katanya sieh ada para penerbit yang enggak jujur, seperti: ada cetakan kedua tanpa bilang-bilang pada penulis, dll) tergantung Mou nya, apakah 50 %, 40 %, atau 30% dari hasil penjualannya. Kalau buku tersebut Best Seller, secara otomatis royalti nya pun akan besar, tidak sampai disitu brow, buku tersebut akan dibedah (wah jangan mikir dokter sedang mengotopsi mayat ya!, he..he..he), artinya penulis buku tersebut akan menjadi pembicaranya juga (wah…dapat pulus lagi nih!), atau bahkan dijadikan ‘referensi’ sebuah film (dapet duit lagi dong?! Yeey mata duitan..he..he..) dan katanya juga, bila si penulis buku tersebut meninggal, maka royalti nya pun tetap mengalir kepada ahli warisnya (eh…betul ga sih?).

Nah, itu dari sisi materinya, so mari kita belajar menulis!
Kapan?
Ya kapan lagi kalau ga sekarang!
Atuh iraha jadina mun teu ayena mah!
‘Gimana nanti’, seharus nya dirubah menjadi ‘Nanti gimana!’

Gimana caranya? (yaah nanyain ma ane lagi, udah tau ane bukan penulis handal…Tanya aja sama penulis profesional brow, banyak kok buku-buku yang menerangkan tentang tata-cara menulis (baik itu menulis artikel, cerpen, puisi, otobiografi, buku ilmiah, de el el).
Tapi katanya, kalau pengen bisa nulis, ya ‘nyemplung’ aja!, ambil alat tulis!, goreskan kata-kata yang terbersit dalam pikiran, lakukan sekarang juga!. Tulislah seperti air yang mengalir, biarkan ide tersebut mengalir dalam putihnya lembaran kertas, jangan little-litlle dihapus, sedikit-sedikit di delet, atuh kapan jadinya.

Kata sebagian penulis sieh, kemana-mana bawa catatan kecil, simpan dalam saku, nah ketika ada ide, maka tulislah seketika itu juga, jangan nunggu waktu menghilangkan ide tersebut. Setelah itu rangkai kata-kata tersebut, di bubuhi dengan referensi, sebagai penguat opini kita.

Eh…para pembaca, btw masih baca tulisan ini?
Terima kasih banyak, anda masih mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya ini, semoga Allah Swt membalas amal ibadah kita semua. Amien!

Tapi, saya mengharapkan kritik dan saran dari antum sekalian ya! Ya minimal motivasi bagi saya untuk tetap semangat dalam belajar menulis, karena mendawamkan (membiasakan) itu sangat sulit, karena banyak faktor, terutama faktor malas!.

Oke kawan-kawan…
Apalagi ya sekarang?
Yaah masih nanya lagi!
Ya nulis lagi donk…

Lantas buku apa yang hendak ditulis?

Ya itu tergantung antum sekalian, maksudnya, Siapa saja objek (pasar) yang hendak anda bidik? Kalau anda membidik pasar anak-anak, ya anda menulis tentang anak-anak seperti buku cerita, komik dll. Kalau anda membidik pelajar atau mahasiswa, ya bikin buku pegangan bagi mereka.

Tema apa yang hendak ditulis?

Lagi-lagi saya serahkan kepada anda, maksudnya, apakah anda seorang idealis atau pragmatis? Kalau anda seorang idealis, ya tema nya tentang Gerakan (harakah), analisis-kritis terhadap realitas de el el, ya konsekunsi bagi penulis idealis adalah karyanya tersebut hanya dibaca (dibeli) oleh segelintir orang (untuk kondisi rakyat Indonesia saat ini, mungkin puluhan tahun kedepan akan banyak rakyat Indonesia yang tercerahkan), artinya bahwa ia akan mendapat royalti enggak terlalu banyak, namun jangan salah, karya-karya penulis idealis, ia akan dibaca oleh para aktivis yang dimana mereka adalah agent of change, maka dengan sendirinya para penulis idealis memberikan kontribusi atau inspirasi bagi para aktivis untuk melakukan perubahan.. Berbeda halnya dengan penulis pragmatis (jangan pragmatis atuh, bisi dikritik ku para penulis pragmatis, sebutlah penulis yang ‘bisa melihat pangsa pasar’), ia akan memilih tema-tema yang laku di pasaran (ingat bukan pasaran dalam bahasa sunda ya! Artinya keranda -untuk menggotong mayat ke liang lahat)

Apa ‘bahasa’ yang hendak digunakan?

Bahasa disini adalah, penggunaan kata-katanya, yakni, apakah bahasa ilmiah, atau bahasa yang mudah dicerna oleh semua kalangan. Ya tergantung si penulisnya lagi dong kalau begitu mah, apakah ia akan membidik siapa? Orang awam ? (kebalikan dari khos, artinya kebanyakan)kah atau kaum intelektual?

Waduh kehabisan kata-kata nieh!
Apalagi ya?
Ya ane minta saran lagi sama antum yang masih baca sampai sini, apa yang belum kebahas.

Tring (ada ide) buru-buru tulis ah bisi poho!

Yah pembaca sekalian, jangan anda lewatkan tulisan saya yang terakhir ini, pameng sakedik deui nya! Nya kituh, da kasep (pami pameget), gelis (pami istri)!

Seorang pembaca akan menghentikan bacaan nya pada sebuah buku, bila buku tersebut kurang ‘greget’; bikin jenuh; di ulang-ulang; bahasa tulisannya ga ada ‘ruh’nya, ya pokoknya bete abis gitu lho (wah ga kan jadi Best Seller dong?). Maka penulis harus brilian; ia harus pandai mengolah kata-kata; kata-katanya gak di ulang-ulang; ia harus menjiwai tulisan nya tersebut, sehingga si pembaca merasa renyah untuk mengunyah (kayak makanan aza ya..he..he..) buku tersebut sampai tamat. Wah saya kayak penulis profesional aja ya ngajarin anda semua (muji sorangan, narsis kalee ye..he..he..), bukan itu maksudnya brow, (ah…saya mah enggak akan bilang-bilang kalau saya suka membaca, takut disebut sombong), saya pribadi kalau mau beli buku, suka lihat dulu siapa penulisnya, judul bukunya apa, lihat belakang bukunya, karena dengan begitu saya mengetahui isi bacaannya, jadi bukan saya sebagai seorang penulis profesional, gitu lho….gitu aza kok repot.

Apakah niat tulisan kita itu?

Apakah untuk mencari duit?
Apakah untuk hal yang positif atau yang hal yang negatif?
Apakah untuk berda’wah? Da’wah dengan tulisan (da’wah bil-kitabah)?
Apakah untuk mencerahkan umat? Atau menyesatkan umat?
Itu semua tergantung anda semua, apakah anda hendak menikmati kesenangan sesaat di dunia ini, dengan cara ‘mencuci otak’ umat lewat tulisan anda?! Ataukah anda sebagai ‘khalifah’ yang mau mencerahkan umat agar tidak tersesat dijalan-Nya dan menuntun umat ke jalan yang lurus yang diridoi oleh Allah SWT?!
Ingat setiap amal kita akan di hisab di Yaomil-akhir, walaupun sekecil apapun, firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat ke-99, Al Zalzalah:

7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Bagaimana brow? Mau mencoba menulis?!
Kalau mau?
Selamat menulis brow?!
Good luck for all
Wassalam

3 comments on “Sulitkah Menulis?!

  1. camera mengatakan:

    mantap…

    tips nya keren…

    jadi termotivasi…

    makasih banyak….

    salam hangat…

  2. Internet Murah mengatakan:

    berkunjung antar blog kawan

    thanks untuk sharing ilmunya sangat bermanfaat
    Cara Menghindari penipuan Di Internet
    Ready Stock

  3. 41n9 mengatakan:

    you’re welcome kawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s