Masih Sulitkah Belajar Menulis?!


Muqoddimah

Pembaca yang saya hormati, terima kasih masih mau menyimak tulisan saya lagi. Pembaca sekalian, tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya, yaitu : “Sulitkah Menulis ?!”. Saya ber khusnu-dzon (berperasangka baik) kepada pembaca, bahwa setelah membaca tulisan pertama saya tadi, yaitu yang berjudul “Sulitkah Menulis ?!” anda sudah mencoba untuk menulis, entah itu menulis pelajaran, artikel, opini, makalah, diary, surat-menyurat, biografi, otobiografi, puisi, cerpen, dan lain lain, atau bahkan anda sudah lebih baik baik dari saya, kalau saya baru bisa mempostingnya diblog, mungkin tulisan anda sudah di muat di harian/koran/majalah atau anda sudah membuat buku, wah! berarti saya mesti belajar banyak sama anda, atau mungkin anda belum juga mencoba untuk menulis, karena takut salah, atau takut enggak bisa, atau anda sudah mencoba tapi masih juga kesulitan untuk belajar menulis? Kalau itu masalahnya, mari kita sama-sama belajar untuk menulis! Ok bro! Ya oce lah kalau begitchu.

Basmalah

Pertama-tama sebelum menulis, kita ucapkan Basmalah (Bismillahirrahmaanirrahiim), mengapa? Karena dengan membaca Basmalah terlebih dahulu, kita akan mendapat berkah dari tulisan kita itu, lebih dari itu, supaya kita tidak takabur (sombong), yang merupakan ciri-ciri dari orang atheis dan sekular, dan ini sudah diperagakan tempo dulu, oleh Fir’aun, Haman dan Karun di zaman Nabi Musa ‘Alaihi Salam, kita bisa mengetahuinya dalam Al-Qur’an, bagaimana arogansi dan kesombongan mereka tonjolkan, mari kita simak bersama-sama:

Allah Swt menguji Karun dengan melimpahkan harta dan kekayaan:

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Q.s [28] Al Qashash: 76)

Tapi apa yang dilakukan oleh Karun, ketika Allah Swt memberikannya harta dan kekayaan, bukannya ia bersyukur kepada-Nya, tapi ia malah berlaku sombong:

Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Q.s [28] Al Qashash: 78)

Apakah kita tidak akan menjadikan ibrah kisah Karun ini, sebagimana Karun tidak menjadikan umat yang terdahulu, yang Allah Swt binasakan?!
Dan inilah balasannya bagi orang yang sombong itu:

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (Q.s [28] Al Qashash: 81)

Bahkan sikap Fir’aun lebih melampui batas, kalau Friedrich Wilhelm Nietzsche hanya mengatakan God is dead (Tuhan telah mati), maka Fir’aun mengatakan:

(Seraya) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (Q. s. [79] An Naazi´aat: 24)

Inilah balasan bagi orang yang angkuh itu:

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan (Q.s. [2] Al-Baqarah: 50)

Begitu pula keangkuhan sang arsitek, Haman, tak jauh beda dari keduanya:

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (Q.s [40] Al Mu’min: 36)

dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). ( Q.s [29] Al ‘Ankabuut: 39)

So, kita semua mesti menjadikan mereka (Karun, Fir’aun dan Haman) sebagai pelajaran, kita jangan sampai mengikuti jejak dan langkah mereka, yaitu berlaku sombong, karena segala sesuatu yang ada di alam raya ini adalah Kepunyaan-Nya, Ilmu, harta keayaan dan apapun itu adalah Milik-Nya, oleh sebab itu kita mawas diri, dan senantiasa merasa kecil di hadapan-Nya, oke pelajaran pertama adalah membaca Basmalah. Makanya dalam ayat pertama dalam surat Al-‘Alaq, Allah Swt berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

Membaca

Pembaca yang saya hormati, tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam dunia tulis-menulis, kita juga tidak bisa melepaskan dari dunia membaca. Menulis tanpa membaca ibarat bikin kopi tanpa gula (bagaimana rasanya ya, minum kopi tanpa gula? Pasti jawabannya pahit), why? Because, jika kita menulis tanpa membaca, kita akan kehilangan ide untuk menulis; kita tidak mempunyai referensi untuk menjadi rujukan sebagai penguat dari argumentasi tulisan kita; dan tulisan kita tidak akan terasa ‘ruh’nya. So, banyak-banyaklah membaca. Hidupkan gerakan membaca, penuhi harta kekayaan kita dengan buku (dibaca, bukan hanya sekedar pajangan), jadikan membaca sebagai guru yang terbaik, Reading is the best teacher.

Membaca merupakan awal dari sebuah ilmu pengetahuan, maka surat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad Saw adalah mengenai membaca (Iqro), yaitu: Q. s. Al-‘Alaq, ayat 1-5. Firman Allah Swt:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dengan membaca ayat-ayat tersebut, kita dapat mengetahui bahwa Allah memuliakan manusia dengan ilmu, bahkan jauh-jauh hari Allah Swt mengistimewakan manusia dengan mengajarkan ilmu kepada Nabi Adam ‘Alaihi Salam, dibanding kepada para Malaikat. Firman Allah Ta’ala:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (Q.s. Al-Baqarah: 31-33)

Setelah Allah Swt menyuruh kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya untuk membaca dalam surat ‘Al-‘Alaq ayat 1-3, maka dalam ayat ke 4-5 nya, Allah Swt sebagai pemilik Kalam, Dia menyuruh kita untuk menulis. Ilmu yang terdapat dalam akal dan lisan kita, maka kita mesti ‘mengikatnya’ dengan tulisan.

Masih Belum ‘Yakin’ dengan ‘Kekuatan’ Tulisan?

Menulis berbeda halnya dengan berbicara, jika kita berbicara atau da’wah bil-lisan, setelah selang sehari, isi da’wah tersebut hilang ditelan masa (kecuali ada yang membekas, dijadikan amal bagi mustami’/pendengarnya), maka dengan tulisan atau da’wah bil-kitabah, maka pesan tersebut masih bisa dibaca sampai generasi sesudah kita. Bagaimana kita mengetahui hadis (ucapan, perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad Saw), bila hal tersebut (dengan izin Allah) tidak ditulis oleh Ahli Hadis, Semisal Imam Bukhori, Imam Muslim, Abu Daud, An-Nasai dan lain sebagainya. Bagaimana kita mengetahui penjelasan isi kandungan Al-Qur’an (Ulumul Qur’an dan Tafir) bila (dengan izin Allah) tidak ditulis oleh ibn Katsir, Al-Qurthubi, HAMKA, A. Hasan dan lain sebagainya. Bagaimana kita mengetahui hukum Islam (fiqih dan ushul fiqih), bila (dengan izin Allah) tidak ditulis oleh Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim dan lain sebagainya. Bagaimana kita mengetahui ilmu pengetahuan, seperti ilmu kedokteran, filsafat, ilmu falak (astronomi), matematika, ilmu tata negara, dan lain sebagainya, bila (dengan izin Allah) tidak ditulis oleh Ibnu Sina, Al-Farobi, Al-Kindi, Imam Al-Ghozali dan lain sebagainya. Bagaimana kita mengetahui tentang sosiologi, bila (dengan izin Allah) Ibnu Kholdun tidak menuliskannya dalam ‘Muqoddimah’. Dan banyak lagi yang belum saya sebutkan, namun yang paling penting dan pesan yang hendak saya sampaikan, bahwa ilmu yang ‘diikat’ dengan tulisan, ia akan bersifat ‘abadi’, ia akan dibaca dan dijadikan rujukan oleh generasi sesudah mereka, dan pada akhirnya ia bak ‘Dana pensiun’ yang senantiasa mengalir walaupun sang empu tulisan tersebut telah meninggal dunia.

Kok masih membaca?

Ayo sekarang gerakan hatimu, curahkan segala gagasanmu, goreskan penamu dan mulailah menulis, menulis dengan dihayati akan lebih menjiwai dari isi tulisan kita, dengan begitu secara emosional, tulisan kita itu akan ‘menghipnotis’ para pembaca, dan tergerak hatinya untuk mangamalkan da’wah bil kitabah kita, dan itu menjadi amal sholeh bagi kita semua, dan menjadi ‘dana pensiun’ bagi kita, karena ia menjadi ilmu yang bermanfa’at, ia akan mengalir tanpa putus, walaupun kita sudah meninggal dunia. Rasulullah Saw bersabda:

“Iza matabnu adama in-qoto’a ‘amaluhu illa min salasin : Shodaqotin jariatin, Au-‘ilmin Yunfa’u bihi, Au Waladin Solihin Yad’u” (Apabila mati manusia putuslah pahala amalnya kecuali dari tiga perkara :Sedekah Jariah, atau Ilmu yang dapat diambil manfaat dengan dia, atau Seorang Anak yang Muslim yang dapat mendo’akan bagi orang tuanya.”)

Kok masih membaca?
Ayo kita menulis!

Wassalam

One comment on “Masih Sulitkah Belajar Menulis?!

  1. thanks for posting, I really enjoy it, I can learn a lot from this.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s