Menulis itu Mudah!


“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.s [94] Al-Insyirah / Alam Nasyrah: 5-6)

Assalamu’alaikum,
Apa kabar para pembaca semuanya?
Alhamdulillah kalau sehat semuanya,
Kepada pembaca yang sakit, mudah-mudahan lekas sembuh, Allahumma robbanasi adzhibilbaksya isyfi wa antasyafi syifaa-an ila syifaa uka syifaa-an la yughodiru tsaqoma, Amien!.
Para pembaca sekalian, Alhamdulillah kita bisa bersua kembali (eh…kapan ketemunya ya? Maksudnya, para pembaca yang masih menyimak tulisan saya), dan perlu diketahui (bagi yang baru ‘bergabung’/membaca tulisan ini), bahwa tulisan saya ini yang berjudul “Menulis itu Mudah!” adalah tulisan ketiga dari dua tulisan sebelumnya, yaitu: tulisan pertama yang berjudul Sulitkah Menulis?! Dan tulisan yang kedua yang berjudul Masih Sulitkah Belajar Menulis?! (ya saya mendapat inspirasi dari para penulis profesional, dimana mereka ‘mempromosikan’ buku-buku hasil karyanya yang lain, dengan menyebutkan buku-buku sebelumnya, mereka biasanya menyebutkan, “Buku ini adalah serial kedua dari buku yang pertama, yang berjudul bla bla bla”, atau dengan mencantumkan daftar pustaka dalam bukunya tersebut, yang dimana salah satu/beberapa referensinya adalah buku lain milik penulis tersebut).

Pembaca yang saya hormati, dalam tulisan ketiga ini, saya memberikan judul “Menulis itu Mudah”. Mengapa saya memberikan judul tersebut, dalam tulisan kali ini? Karena saya hendak memberikan motivasi kepada pembaca (tentunya yang lagi belajar menulis, kayak saya, bukan penulis profesional) dan memberikan sebuah ghirah (semangat) agar para pembaca mempunyai rasa optimisme yang tinggi, bahwa SAYA BISA MENULIS! Atau TERNYATA MENULIS ITU MUDAH!, sehingga diharapkan para pembaca antusias untuk belajar menulis, maka dengan sendirinya, semangat tersebut bak roda gila yang menggelinding dan memacu hasrat untuk belajar menulisnya tinggi. Jadi jangan disalah artikan, bahwa saya memberi judul tulisan ini dengan “Menulis itu Mudah!”, sebagai suatu ketakaburan (menggampangkan suatu urusan). Sekali lagi saya tegaskan bahwa judul tersebut saya buat adalah untuk membangkitkan semangat para pembaca yang mau belajar menulis! Titik.

Pembaca sekalian, adapun dalam memberikan judul pada tulisan saya yang pertama, dengan judul Sulitkah Menulis?!, (alasannya adalah) merupakan suatu pertanyaan bagi mereka yang putus asa dalam belajar menulis atau mereka yang belum mencoba menulis, tapi sudah takut duluan (takut salahlah, takut enggak bisalah dan lain lain), sehingga mereka kesulitan untuk belajar menulis, oleh sebab perasaan mereka sendiri (kata orang sunda mah ‘Kumeok memeh dipacok’), jadi jangan sampai kalah sebelum bertanding.

Dan adapun saya memberikan judul pada tulisan yang kedua, dengan judul Masih Sulitkah Belajar Menulis?! (alasannya adalah) ditujukan kepada pembaca yang sudah mencoba / mempraktekan menulis, tapi masih kesulitan dalam belajar menulis. Tapi mungkin, pembaca merasa kecewa dengan tulisan kedua saya, mungkin pembaca berharap, bahwa dengan membaca tulisan saya yang kedua tersebut, pembaca mengharapkan metode, tips atau trik dalam tulis-menulis, tapi ternyata berbeda yang diharapkan oleh pembaca. Sekali lagi saya jelaskan, bahwa saya adalah bukan penulis profesional, tapi saya adalah seorang yang baru belajar menulis, jadi jangan berharap dalam tulisan yang kedua tersebut, pembaca menemukan metode dalam tulis-menulis.

Dalam tulisan kedua tersebut, saya lebih menitik beratkan kepada etika dan estetika (Akhlakul-Karimah) dalam menulis; serta memberikan motivasi atau semangat (ghirah) kepada pembaca dan saya sendiri, untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt. Mengapa demikian? (seperti yang pernah di ulas dalam tulisan pertama, bahwa manusia saat ini sudah berpikiran pragmatis, semua di ukur dengan materi, bila mengerjakan sesuatu, maka ia mesti mendapatkan imbalan/uang). Nah ketika seorang penulis pemula menulis, dan tidak (belum) mendapatkan hasil –dalam hal ini, uang- dari tulisannya, lalu ia putus asa, dan tidak mencoba lagi untuk menulis, sia-sialah dia, karena yang dikejar hanya ‘hasil’ di dunia, dengan menghiraukan pahala di akhirat kelak. Oleh sebab itu, maka dalam melakukan sesuatu -atau dalam hal ini, menulis-, harus disertai keikhlasan dan mengharapkan pahala dari Allah Swt.

Inilah sebenarnya modal utama bagi penulis pemula, yakni semangat (ghirah) untuk menulis. Karena bila tidak ada semangat, jangan diharapkan ia menjadi penulis profesional, tapi ia akan menghentikan jari-jarinya yang sedang menari diatas toot-toot keyboard komputer. Dan lebih dari itu, sebagai pondasi bagi penulis pemula, supaya ketika mereka sudah berada di atas (menjadi penulis profesional), mereka sudah kuat, tidak akan goyah oleh terpaan godaan yang lebih dahsyat lagi (lebih tinggi pohon tumbuh, maka terpaan angin makin kuat), karena sudah ada pondasinya, yakni akhlakul- karimah dan keimanan. Maka dengan sendirinya, nilai idealisme tidak akan ‘di jual dengan harga yang sedikit’ (tsamanan qoliila), untuk mendapatkan/mengejar dunia (materi) yang fana ini.

Apakah Anda Masih Berharap, dengan Menulis Sekarang, Anda langsung Mendapatkan Hasil Sekarang Juga?!

Pada zaman dahulu ada seorang kakek yang sudah tua (dimana ya, ada seorang kakek yang masih muda? He..he..he). Kakek tersebut sedang menanam pohon kelapa. Lalu lewatlah seorang Khalifah (Raja). Sang Khalifah heran, melihat kakek tersebut menanam pohon kelapa. Dan ia pun bertanya: “Wahai kakek, mengapa kakek menanam pohon kelapa? Padahal pohon kelapa sangat lama berbuahnya, sedangkan kakek sudah tua, dan kakek tidak akan mungkin merasakan hasil (buah) dari menanam pohon kelapa itu”. Kakek tersebut menjawab: “Wahai khalifah, saya makan buah kelapa dari pohon kelapa, yang ditanam oleh kakek saya. Jadi wajar, kalau saya menanam pohon kelapa ini, walaupun saya tidak akan mendapatkan hasil langsung dari tanaman saya ini, tapi saya berharap cucu saya nanti yang akan memetik hasilnya (buahnya)”. Dengan mendengar jawaban kakek tersebut, khalifah pun merasa ta’jub, dan ia pun memerintahkan kepada pengawalnya, untuk memberikan beberapa uang dinar emas kepada kakek tersebut. Sang Kakek pun berkata: “Wahai khalifah, saya sudah ‘memetik’ hasil dari tanaman ini (sembari ia memperlihatkan uang dinar emas yang diberikan sang khalifah). (Kisah ini saya baca dari –kalau enggak salah- buku Muthola’ah, ketika saya belajar tingkat Mu’allimien, khalifah tersebut Harun Ar-Rasyid (?) –maaf kalau saya salah penyebutannya, karena mau merujuk lagi, bukunya ada yang pinjam, belum dikembalikan- tapi redaksinya, kurang lebih begitu)

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut adalah bahwa dalam hal tulis-menulis kita jangan memikirkan hasilnya (duit) dulu, yang penting adalah kita jalani dulu kegiatan menulis ini, hasil mah nanti juga menyusul. Maka bagi penulis pemula (seperti saya) kita belajar (proses) dulu menulis, nanti setelah menjadi penulis profesional, insyaallah akan mendapatkan hasilnya. Sesudah kita menjadi penulis professional, bukan kita mengejar duit, tapi duit mengejar kita. Lebih-lebih kita bisa memetik ‘hasil’nya yang lebih baik dari Allah Swt. Kita akan mendapat pahala yang setimpal dari sisi-Nya, sebagai buah amal sholeh (menulis) kita, dan ini merupakan bekal nanti di akhirat (yaitu ‘kehidupan’ setelah kematian).

Belajar dari Seorang Bayi

Apakah anda hanya melihat tubuh seorang binaragawan, sekaliber Ade Ray saat ini saja? Tanpa mau mengetahui SEBELUM Ade Ray sekekar saat ini?

Apakah anda hanya melihat penulis profesional, yang karya-karyanya selalu Best Seller saat ini saja? Tanpa mau mengetahui SEBELUM penulis tersebut menjadi profesional?

Mereka tidak langsung menjadi saat ini (Kekar atau Profesional), mereka menjalani dari bawah dulu, mereka belajar dulu, step by step.

Seorang bayi bisa kita jadikan sebuah pelajaran. Ketika sang bayi lahir, ia tidak ujug-ujug bisa larikan?! (wah enggak bisa dibayangkan, kalau seorang bayi pas baru lahir, ia langsung bisa lari). Sang bayi ketika lahir, ia mulai belajar menangis, terus ia belajar merangkak, sesudah bisa merangkak, maka ia mulai berdiri; terpapah; dan ia pun bisa berjalan; dan akhirnya ia pun bisa berlari. Step by step, belajar menulis tidak bisa instant (langsung bisa), mulailah selangkah demi selangkah, bangun lagi-bila jatuh, carger lagi bila semangat sudah down, dan bersabar ketika menjalani/belajar menulis, karena pasti banyak godaan dan gangguan. Maka bagi penulis pemula, seyogyanya merenungi filosofi naik tangga, yakni menginjakkan sebelah kaki ke atas tangga, dan mengayunkan kaki satu lagi, menuju tangga yang lebih atas, terus dan terus, silih berganti kaki mengayun, sehingga ia mencapai puncak yang ia inginkan, yaitu menjadi penulis profesional.

Ternyata Menulis itu Mudah!
Tidak Ada Alasan untuk Berhenti Berkarya!

“Ternyata Menulis itu Mudah”!. Kata-kata tersebut seyogyanya terus membisiki hati, dan terus gelorakan dalam dada, karena hal tersebut akan memicu semangat dan menjadi sugesti bagi penulis pemula, ia akan meraih apa yang dicita-citakan.

Ketika seseorang di ajak untuk belajar, ia akan menjawab: “Aduh enggak ada waktu buat nulis, soalnya aku sibuk”, ini yang menjadi salah satu ‘tameng’ bagi mereka yang malas, coba kita perhatikan (baca biografi) para aktivis pergerakan, luang dan waktu mereka kayaknya begitu sempit, bila kita memperhatikan keaktifannya dalam dunia pergerakan, tapi ternyata karya-karyanya sangat banyak sekali, seperti Isa Anshori, salah satu pentolan Persis (Persatuan Islam), kesibukannya bukan hanya di jam’iyyah (organisasi) Persis saja, namun ia bergerak dengan lincah, di Masyumi (Parpol Islam pada era Orde Lama), di FAK (Front Anti Komunis), bahkan ia terkenal sebagai Singa Podium, pidato-pidatonya menggelegar, sehingga jama’ah dari berbagai pelosok berdatangan hanya untuk mendengar orasinya. Tapi sesibuk apapun, ternyata ia melahirkan karya (buku) yang lumayan banyak. Jadi tidak ada alasan bagi kita, untuk tidak ada waktu untuk menulis, apakah kita sibuk atau lagi santai? Yang penting dipertanyakan pada diri kita adalah : “Ada Kemaun atau Tidak?”

Dimanapun anda berada, goreskanlah penamu, alirkan ide dan gagasanmu dalam putihnya lembaran kertas, terus dan terus, supaya sejarah mencatatmu. Seperti kita ketahui para aktivis tidak henti-hentinya memberikan inspirasi dan semangat bagi para pejuang yang lainnya, dalam bentuk tulisan, jeruji besi tak bisa memadamkan aktivitas menulisnya, seperti kita ketahui Sayyid Quthb menulis Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an di dalam penjara.

So, tidak ada alasan untuk berhenti berkarya, kita harus belajar pada para pendahulu kita, mereka terus berkarya, ‘berton-ton’ tulisannya, walaupun sarana dan tranfortasi belum memadai, tidak seperti zaman kita sekarang, dimana sarana dan fasilitsas serba modern dan canggih (sudah ada komputer, internet dan pesawat terbang), tapi dengan sarana dan fasilitas yang minim (bahkan Imam Syafi’i ‘buku-bukunya’ segudang/dalam artian, buku-bukunya masih pakai alat yang kasar dan tebal), terbukti ide-ide mereka sangat brilian, mereka mampu menghasilkan karya yang sangat dahsyat dan berbobot (Masterpiece), kita dapat membacanya dalam karya-karyanya dan menjadikan mereka sebagai rujukan, ambil contoh ibnu Hajar Al-Asqolani, begitu briliannya beliau dalam menghasilkan karya-karyanya (Bulughul-Marom dan Fathul-Bari, diantara karya-karyanya), dan menyumbangkan gagasan dan pikirannya kepada umat Islam seantero jagat raya, yang tak lapuk dimakan zaman.

Oleh sebab itu saatnya berkarya, mumpung masih muda (bagi yang muda), mumpung masih hidup (bagi yang tua), so, jadikan sisa usia kita dengan hal yang bermanfa’at, jangan sia-siakan usia kita, dengan membuangnya percuma.Rasulullah Saw bersabda: “Ightanim khomsan qobla khomsin: Hayataka qobla mautika, Wa Syababaka qobla haramika, Wa Shihhataka qobla saqamika, Wa Ghinaka qobla faqrika, Wa Sa`atika qobla dloiqika.”
Manfa’atkan lima macam (kesempatan) sebelum datang lima macam keadaan (sebaliknya), yaitu:
1. Hidupmu sebelum matimu,
2. Sehatmu sebelum sakitmu,
3. Saat lapang sebelum sempit (sibuk),
4. Mudamu sebelum tuamu,
5. Kaya sebelum Miskin. (H. r. Ahmad, An-Nasa’i, Al-Baihaqi)

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s