Tidak Ada Inspirasi Untuk Menulis


Inspirasi

Para pembaca sekalian, sekedar bocoran, dalam penulisan ketiga tulisan kemarin, yang berjudul Sulitkah Menulis?!, Masih Sulitkah Belajar Menulis?! dan Menulis itu Mudah!, saya tulis hari Ahad 20 Juni, Senin 21 Juni, dan Selasa 22 Juni. Namun hari Rabu 23 Juni saya belum mendapat inspirasi, hingga tadi siang (Kamis 24 Juni) belum juga mendapat inspirasi untuk menulis, judul apa yang hendak ditulis? muatan/pesan apa yang hendak disampaikan? belum juga didapat, walaupun sudah membaca 2 majalah (yang sudah ‘kadaluarsa’ -karena sudah lama tidak berlangganan Koran dan majalah-), belum juga mendapatkan inspirasi.

Setelah mata saya letih membaca, lalu saya nonton berita di Tv, mudah-mudahan dapat inspirasi untuk menulis, tapi enggak dapat inspirasi juga, karena berita-beritanya begitu-begitu terus. Ya apalagi kalau bukan tentang kisah ‘cinta segitiganya’ (bahkan katanya 23 atau 32, wah angka apaan ini?) Ariel-Luna-Cut Tari.

Ada lagi berita tentang tertangkapnya /tertembaknya teroris, aneh sekali teroris selalu identik dengan orang Islam dan atribut-atribut keislaman, seperti nama, pakaian bergamis, berjenggot, berkupiah, atau selalu mengumandangkan kata-kata Jihad, dan lain lain. Kayaknya ada sebuah penggiringan opini dech, oleh Barat, hingga media massa pun latah dibuatnya, bahwa Islam identik dengan terorisme, sehingga membuat umat Islam phobia akan Syari’ah-Nya; atau sengaja untuk memecah belah umat Islam (devide et impera).

Seharusnya yang pantas mendapat gelar teroris adalah Israel dan Amerika Serikat. Dimana Israel membantai rakyat Palestina dan menjarah tanah mereka (bahkan baru-baru ini Israel menembaki Kapal Mavi Marmara yang menampung relawan yang terdiri dari 50 negara, dan beraneka ragam agama, dalam misi kemanusiaan untuk rakyat Palestina). Oleh sebab itu, pantaslah bila Israel disebut The Real Teroris. Dan Amerika Serikat pantas mendapat julukan The King of Teroris, karena telah membombardir Irak (akibat serangan tentara-tentara Amerika Serikat itu, maka selain mengakibatkan perang saudara, antara Syi’ah-Sunni, juga dikabarkan banyak rakyat Irak menjadi Atheis. Disaat banyaknya yang meninggal dunia, hancurnya fasilitas dan lain sebagainya, sehingga mereka bertanya-tanya: “Dimana Tuhan?”) dan Afghanistan, dengan dalih memerangi terorisme (maling teriak maling); menjaga (memaksakan) Demokrasi; dan HAM.

Nah itu, curahan hati saya (Cieeeh…curhat nie ye), ketika saya tidak mendapat inspirasi untuk menulis, akhirnya saya memutuskan, untuk menulis apa adanya, dan ketika saya menulis, Alhamdulillah akhirnya saya dapat inspirasi! saya mendapatkan judulnya! apa judulnya? Ya judulnya diatas, yakni ”Tidak Ada Inspirasi Untukt Menulis”. Maka dengan begitu saya mendapat kesimpulan: “Dalam belajar menulis, jangan menunggu inspirasi. Tapi kalau inspirasi itu datang jangan didiamkan (mesti dicatat), nanti pergi lagi inspirasinya”. Anda setuju? Kalau tidak setuju, silahkan kritisi.

Pembaca yang saya hormati, setelah anda memahami pesan yang saya sampaikan, dalam ketiga tulisan saya kemarin, yakni, Sulitkah menulis?!, Masih Sulitkah Menulis?!, dan Menulis itu Mudah. Dan setelah kita terbiasa dalam dunia tulis-menulis, maka kita akan menemukan keindahan dalam tulis-menulis tersebut. Benarkah itu? Maka mari kita telisik bareng-bareng, arti dan makna tulis-menulis tersebut.

Para pembaca yang saya hormati, ilmu pengetahuan merupakan kelebihan tersendiri bagi umat manusia, yang tak lepas dari Pemberian dari Sang Pemilik Ilmu (Allah Swt). Dan ilmu pengetahuan yang didapat manusia tersebut, di abadikan dalam bentuk tulisan. Begitu dahsyatnya kekuatan tulisan tersebut, sehingga mampu memberikan inspirasi bagi umat manusia yang lainnya, dan generasi sesudahnya. Maka dengan sendirinya ilmu tersebut terus berkembang, seiring manusia berpikir dan menemukan hal-hal yang baru. Itu semua tidak lepas dari para pendahulunya, dan dikembangkan dengan berbagai penelitian dan penemuan, sehingga ilmu pengetahuan menjadi sebuah peradaban. Dan itu semua adalah merupakan tradisi pinjam meminjam. Ketika umat Islam ‘meminjam’ ilmu pengetahuan, menyerapnya, seperti halnya filosof dan ilmuwan-ilmuwan muslim mulai menerjemahkan dan memberikan anotasi (Syarah) pada filsafat dari filosof- filosof Yunani, dengan seiring menggeliatnya peradaban Islam, apalagi zaman Khalifah Al-Makmun (putra dari Khalifah Harun Ar-Rasyid), mendirikan Baitul Hikmah klik http://ms.wikipedia.org/wiki/Baitul_Hikmah, sebuah perpustakaan yang gemilang, maka munculah Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Kindi, dan lain lain. Dan setelah peradaban Islam meredup, maka munculah peradaban Barat, yang tidak bisa dipungkiri, mereka ‘meminjam’ ilmu pengetahuan dari Umat Islam.

Menulis itu Indah

Pembaca yang saya hormati, ternyata menulis itu indah, dengan menulis kita bisa merangkai kata-kata; menguntai kalimat demi kalimat, dan menorehkannya dalam lembaran kertas. Sehingga tulisan kita akan menawan hati dan menggugah perasaan sang pembaca, maka dengan sendirinya sang pembaca larut dalam alunan cerita tulisan kita. Namun disamping itu, kita mesti memberikan pesan yang bermanfa’at dan mashlahat bagi umat, bukan memberikan pesan mafsadat dan menyesatkan umat. Dengan demikian kita akan mendapatkan ‘award’ dari Sang Pemilik Keindahan, yaitu Allah Swt. So, menulislah kata-kata yang mengandung hikmah dan makna yang indah, karena Allah Swt menyukai keindahan. “innallaha jamil yuhibbul jamal”

Bagaimana caranya membuat tulisan kita indah?

Mengenai pertanyaan tersebut, kita mesti banyak membaca kisah-kisah dan biografi tokoh atau orang-orang sukses, mereka adalah inspirator yang nyata, atau kita bisa membaca alam raya ini dan segala isinya, seperti: kita merasakan sepoi-sepoi angin, gemericiknya hujan, atau mendengar suara kicau burung. Dan tentunya Sang Inspirator yang tak boleh dilupakan adalah Yang Menciptakan Alam raya ini, yaitu Allah Swt, melaui ‘Kalam’-Nya (Al-Qur’an) kita akan mendapatkan inspirasi yang banyak dan tiada duanya. Ya, inspirasi ada dalam Al-Qur’an.

Firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Q.s [17] Al Israa’: 9)

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s