Meratapi Masa Lalu Hanya Akan Mengebiri Produktifitas (Masih Tentang Dunia Tulis-Menulis)


Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.s. Al-‘Ashr: 1-3)

Prolog

Ada sebuah penyesalan dalam diri, ketika dalam mengarungi hidup ini, dan selalu bertanya-tanya (menyesali) dalam hati: “Mengapa dulu tidak begini dan begitu?! Jadi sekarang tidak begini! ‘Kaduhung tara tihela’, begitu kata orang Sunda bilang.

Para pembaca sekalian, jangan pernah kita meratapi masa lalu, yang lalu biarlah berlalu. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa yang kita hadapi saat ini. Yang penting sekarang adalah kerjakan hal yang positif, penuh optimisme dan antusisme dalam menjalani hidup, untuk meraih masa depan yang lebih baik. Kecuali apabila kita sudah meninggal dunia (kita tak akan pernah kembali lagi kedunia/reinkarnasi). Hanya penyesalanlah yang akan dirasakan. Kehidupan setelah kematian, bukanlah untuk menanam kembali amal, namun kita akan memetik hasilnya. So, sebelum penyesalan yang tidak bisa ditolerir tersebut tiba, maka seyogyanya kita gunakan sisa usia kita untuk terus menanam amal shaleh, guna memetik hasil yang baik berupa Surga.

Lantas apa hubungannya hal tersebut, dengan dunia tulis-menulis? Para pembaca sekalian, Saya punya pengalaman pribadi mengenai hal tersebut. Begini ceritanya:

Ketika dulu saya hobi membaca buku (kutu buku), ada sebuah penyesalan dalam diri, mengapa tidak tepikir oleh saya, sehabis melahap buku bacaan, kenapa tidak diresensi? Namun meratapi masa lalu, tanpa memulai lagi sekarang, hanyalah akan mengebiri produktifitas kita. So, bagi para pembaca (dan saya sendiri tentunya), mulai sekarang, bila kita belum bisa menulis atau belum juga mendapatkan inspirasi untuk menulis, maka kita bisa melatih menulis, dengan cara meresensi buku hasil bacaan kita. Banyak media massa, entah itu Koran, majalah atau tabloid, yang menyediakan kolom untuk resensi buku baru. Kirimkan saja hasil resensi kita, soal dimuat atau tidak dimuat itu persoalan belakangan, yang penting sekarang bagi kita adalah berusaha seoptimal mungkin. Jadikan meresensi buku, sebagai awal belajar untuk menulis.

Hasil Diskusi, Kenapa tidak ditulis?

Ketika saya masih bersemangat untuk berdiskusi, tepatnya tahun 2005-2007, yakni ketika saya memimpin Jam’iyyah (Organisasi) Pemuda Persatuan Islam (Persis), Pimpinan Cabang Cimahi Selatan. Kami mengadakan berbagai kegiatan, seperti seminar; dialog interaktif, dengan menghadirkan para pakar dan para tokoh, mulai dari intern (Persis) dan ekstern (lintas Persis); mengadakan Pesantren Ramadhan; Aksi dan lain sebagainya. Namun dari berbagai kegiatan, yang paling ‘remen’ (sering)/kontinyu adalah Agenda Halaqah. Halaqah ini diadakan satu kali dalam seminggu. Dan terbagi dalam dua sesi, yaitu halaqah I dan halaqah II. Untuk halaqah I dihadiri oleh simpatisan dan anggota, kajian materinya seputar tafsir, hadis, dan kajian keislaman lainnya, metodenya ceramah dan tanya jawab, waktunya pkl 19.00-21.00. Sedangkan halaqah II dihadiri oleh anggota (namun tidak semua anggota, paling banyak sekitar 6 orang), dan metodenya adalah diskusi, waktunya pkl 22.00 sampai pkl 24.00 (bahkan sampai menjelang shubuh). Dalam halaqoh II ini, kajiannya mencakup tentang berbagai hal, dari mulai Masalah Agama, Kajian aliran sesat, QA-QD (AD-ART) Pemuda Persatuan Islam, hingga membahas Politik, Ekonomi, Pendidikan, Sosial, Budaya, Militer, dalam dan luar Negeri.

Apa yang saya sesali dari hal tersebut? Yang disesali adalah mengapa hasil diskusi tersebut tidak ditulis, tidak dibukukan atau minimal dikirim kepada surat kabar, sebagai manifesto PC. Pemuda Persis Cimahi Selatan. Namun sekali lagi saya sadar, bahwa Meratapi Masa Lalu Hanya Akan Mengebiri Produktifitas. So, mulailah sekarang juga untuk menulis.

Begitu Pentingkah Diskusi Melalui Tulisan?

Setelah berdiskusi face to face, maka saatnya kita berdiskusi dengan buku (tulisan), karena berdiskusi face to face tak membekas (kecuali diamalkan), tapi diskusi dengan buku (tulisan), bisa diabadikan dan dibaca oleh generasi setelah kita, kita ambil contoh, A. Hasan (guru utama Persis) dan M. Natsir berdebat dengan Soekarno (Presiden RI Pertama) melalui tulisan, dalam surat kabar, maupun dalam majalah. Seperti dalam tulisan Soekarno, Islam Sontoloyo, dalam buku tersebut ada beberapa penggalan surat-surat (diskusi) Soekarno kepada A. Hasan (namun dalam buku tersebut, tidak disebutkan surat-surat dari A. Hasan).

Epilog

Seiring usia bertambah, seyogyanya cara berpikirpun harus senantiasa bertambah dewasa. Dewasa dalam berpikir dan dewasa dalam bertindak. Jadi janganlah meratapi masa lalu, karena hal tersebut akan mengebiri produktifitas kita.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar, maka sekaranglah waktunya untuk berkarya, mari kita menulis!. Menulis artikel, menulis buku, lebih-lebih ‘menulis’ hidup ini dalam bingkai mardotillah, karena waktu berlalu dengan cepat dan tidak bisa diputar kembali. Apalagi bila maut menjemput kita. Oleh sebab itu mari kita menulis, sebagai amal shaleh.

Wassalam

2 comments on “Meratapi Masa Lalu Hanya Akan Mengebiri Produktifitas (Masih Tentang Dunia Tulis-Menulis)

  1. Rosyidi Hamzah mengatakan:

    Banyak hal yang harus dilakukan untuk masa depan pada saat sekarang, karena untuk mengubah masa lalu adalah hal yang tidak mungkin, mayat tak akan pernah hidup kembali, bayi yang telah lahir tak mungkin masuk kembali kedalam perut ibu nya,,,mari berbuat demi masa depan…salah satunya dengan menulis karena ketika kita sudah tak lagi hidup di dunia ini, tetapi hasil buah pikiran kita masih tetap hidup melalui tulisan……

    Salam kenal Sobat…..

  2. 41n9 mengatakan:

    betul kang.
    salam kenal jg kang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s