Al-Qur’an Sebagai Pelita Ilahi


“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.s [24] An Nuur: 34)

Dalam ayat tersebut, Allah Swt berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan…” yang dimaksud dengan ‘Ayat-ayat‘ dalam surat ke-24 ayat 34 tersebut adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai pelita (nur) Ilahi (Allah Swt), yang senantiasa menerangi bagi kehidupan makhluk-makhlukNya di muka bumi.

Al-Qur’an merupakan inspirasi bagi kehidupan umat manusia, sehingga tidak sedikit para ilmuwan yang masuk Islam, karena ada suatu kebenaran dalam Al-Qur’an dengan objek yang ditelitinya.

Al-Qur’an menjadi tolak ukur bagi umat Islam dalam beragama (beribadah) dan berbangsa (mu’ammalah).

Kemajuan yang diperankan Barat saat ini adalah karena mereka melepaskan kitab suci mereka (Sekularisme). Sebaliknya umat Islam yang melepaskan kitab Sucinya (Al-Qur’an), ia berada dalam kemunduran (Jumud dan taqlid). Maka perubahan yang paling mendasar bagi kaum pembaharu (Mujaddid) pada Abad 19-an adalah melakukan gerakan ijtihad dan menutup segala bentuk taqlid dan tahayulisme. Maka dalam tataran sejarah terkenalah berbagai organisasi Islam yang puritan. Gerakan pembaharuan dan ijtihad bukanlah dengan menafsir ulang (mengutak-ngatik ayat-ayat yang qoth’i) dengan kajian heremeneutika, yang sedang digandrungi oleh kaum Islam Liberal saat ini, tapi yang dimaksud dengan pembaharuan adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis (Back to Qur’an and Hadis), dimana saat itu umat Islam berada dalam keterbelakangan dan berada dalam kekuasaan kaum imprealis (Inggris dan konco-konconya).

Maka disini sangatlah jelas bahwa umat Islam akan berada dalam kejayaan kembali, bila umat Islam mau membaca, menghafal (tahfidz), mempelajari, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dan Hadis. Rasulullah Saw bersabda: “Aku tinggalkan bagi kalian perkara yang jelas engkau tidak akan sesat sepeninggalku (bila engkau memegang teguh keduanya, ketahuilah) yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” (H.r. Tirmidzi)

Pedoman umat Islam adalah Al-Qur’an dan Hadis. Al-Qur’an bersifat abadi dan relevan di sepanjang zaman. Berbeda halnya dengan faham-faham (isme) yang berkembang dan sempat menjadi pedoman umat manusia abad modern, seperti Sosialisme komunis yang sudah terkubur dalam sejarah, begitupun dengan Kapitalisme -yang sudah terlihat borok-boroknya (mengeksploitasi, menindas dan memperbudak umat manusia)- sedang diambang kehancuran.

Al-Qur’an berbeda dengan kitab yang lainnya. Al-Qur’an berbicara tentang orang-orang dan kejadian tempo dulu (kisah-kisah); berbicara masa sekarang dan berbicara masa yang akan datang. Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata tentang sifat Al-Qur’an: “Di dalamnya mengandung hukum untuk kalian, khabar tentang apa-apa sebelum kalian dan berita tentang apa-apa sesudah kalian…”

Al-Qur’an senantiasa terjaga keotentikannya (kemurniannnya), walaupun orang-orang yang skeptis (ragu-ragu) terhadap kebenaran Al-Qur’an, melakukan berbagai manuver dan agitasi (hasutan) untuk mengacak-acak Al-Qur’an, seperti halnya yang dilakukan oleh orientalis dan murid-muridnya yang menamakan dirinya tokoh Islam Liberal saat ini, mereka tak akan mampu untuk merubahnya -seperti keberhasilan mereka menafsirkan pada bible, dengan metode hermeneutika- Mengapa? Karena Allah Swt senantiasa menjaganya, firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Q.s [15] Al Hijr: 9)

Hal yang mereka lakukan (orientalis dan tokoh-tokoh Islam Liberal), yakni mengacak-acak dan menandinginya adalah pengulangan yang pernah dilakukan oleh Arab Jahiliyah, kaum jahiliyyah tak mampu menandinginya, walaupun diantara mereka ahli sastera dan bahasa, bahkan sekaliber Musailimah Al-Kadzab (Sang Nabi Palsu) pun tak mampu menyamai akan keindahan bahasa Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad Saw –Allah Swt memberikan mukjizat kepada para Nabi adalah sesuai konteks umat yang dihadapinya, seperti: pada zaman Nabi Musa Alaihi Salam, umat yang dihadapinya di antaranya adalah ahli sihir, maka Allah Swt memberikan mukjizat kepada Nabi Musa Alaihi Salam berupa tongkat yang bisa berubah jadi ular, dalam upaya mematahkan ‘argumentasi’ mereka. Pada zaman Nabi Isa Alahi Salam, diantara umatnya adalah ahli dalam bidang kedokteran dan pengobatan, maka Allah Swt memberikan mukjizat kepada Nabi Isa Alaihi Salam dengan keahliannya mengobati berbagai penyakit. Maka begitupun pada zaman Nabi Muhammad Saw, umatnya ahli sastera dan bahasa, maka Allah Swt memberikan mukjizat kepada Nabi Muhammad Saw dengan Al-Quran-. Dan jauh-jauh hari Allah Swt menantang kepada mereka yang ragu akan kebenaran Al-Qur’an untuk membuat satu surat semisalnya:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Q.s. [2] Al Baqarah: 23)

Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.

Firman Allah Ta’ala: “…dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu “

Al-Qur’an berbicara tentang kejadian dan orang-orang terdahulu, ini merupakan cerminan dan ibrah bagi kita masa sekarang, agar tidak tergelincir dalam kesesatan dan kedurhakaan kepada Allah Swt, seperti yang pernah diperankan oleh Fir’aun dizaman Nabi Musa Alahi Salam. Firman Allah Ta’ala: “dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (Q.s [43] Az Zukhruf: 56)

Oleh sebab itu maka bagi para penguasa Negara Adikuasa yang dzolim saat ini, hendaklah bercermin kepada kisah Fir’aun ini, sebelum mereka ditimpa azab yang serupa seperti Fir’aun, maka mari kita saksikan sang Fir’aun modern saat ini di ‘ganggayong’ oleh Allah Swt, seperti Ariel Sharon, mungkin Bush juga akan menyusul, kita do’akan saja.

Firman Allah Ta’ala: “…dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” Yaitu bagi orang yang bertakwa dan takut kepada Allah Swt. Maka jadilah umat Islam yang senantiasa membaca, menghafal, mempelajari, merenungkan isi kandungan Al-Qur’an dan menjaganya dari setiap ancaman dan upaya musuh Allah Swt, yang senantiasa mengacak-acak kemurnian Al-Qur’an.

Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah Ta’ala berikut ini:

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.s [21] Al Anbiyaa’: 10)

Referensi:
Al-Qur’an Digital
Tafsir Ibnu Katsir
Shalahuddin Hamid, Ulumul Qur’an
Dan bacaan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s