MENANGKAL VIRUS ISLAM LIBERAL


Buku ini berisi tentang konsep pemikiran Islam terkait kehidupan manusia atau yang biasa disebut Islamic worldview. Pada awalnya, buku ini merupakan diktat mata kuliah Islamic worldview untuk mahasiswa S1 di Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAIPI) Garut. (Pengantar Penulis. Hlm. x)

Buku Cetakan ke II ini ada perbaikan dilakukan pada content/isi buku dengan melakukan beberapa penambahan dan penajaman. Dari segi jumlah halaman, buku ini bertambah sekitar 100 halaman. Terdapat penambahan bab dengan memasukkan pembahasan “Trilogi Pemikiran Islam Liberal”. (Pengantar Penulis. Hlm. xi)

Khusus umat Islam Indonesia yang sudah campur aduk antara haq dan bathil akan sulit bangkit kecuali mereka komitmen terhadap sabda Rasul, “Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya: Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”. HR. Al-Hakim. (Pengantar Prof. Dr. Abdurrahman, M.A – Ketua Umum PP. Persatuan Islam. Hlm, xvii)

Inilah cara pandang seorang muslim terhadap Allah swt, Nabi Muhammad saw, dan Al-Qur’an. Cara pandang yang benar ini akan dapat diperoleh jika seorang muslim memahami konsep-konsep dasar dalam Islam dengan benar. Konsep-konsep inilah yang sekarang kita kembangkan dalam mata kuliah bernama Islamic Worldview diberbagai Perguruan Tinggi. Tujuannya tidak lain agar seorang Muslim memahami Islam secara mendasar, kokoh, dan mampu membentengi diri dari serbuan virus-virus pemikiran Asing, khususnya yang datang dari peradaban Barat modern. (Pengantar Dr. Adian Huasaini, M.A – Ketua DDII Bidang Ghazwul Fikri. Hlm. xxiii)

Pendahuluan.
“Menangkal Virus Islam Liberal”

Jika hendak diibaratkan virus, pemikiran Islam Liberal sebetulnya virus yang tidak ganas. Membahayakan tidaknya pada tubuh tergantung pada sejauhmana kekuatan antibodi tubuh tersebut. Jika antibodinya kuat, maka virus yang lebih ganas dari pemikiran Islam Liberal sekalipun, semisal kekufuran yang terang-terangan, tidak akan membahayakan tubuh. Tetapi jika antibodinya lemah, maka virus pemikiran Islam Liberal tentu akan mudah menggerogoti tubuh dan bisa menyebabkan kematian.

Maka dari itu hal terpenting yang harus dilakukan oleh seorang muslim dan para aktivis dakwah adalah memperkuat antibodi tersebut. Caranya adalah dengan menyuntikannya konsep berpikir Islami ke dalam kepala dan sanubari setiap muslim. Konsep berpikir Islami itu hari ini sering disebut dengan Islamic worldview (pandangan dunia Islam). (hlm. xxix)

Istilah worldview merupakan terjemahan Inggris dari weltanschauung yang dipopulerkan Immanuel Kant. Menurut Kant, weltanschauung adalah persepsi inderawi tentang dunia yang merupakan inti filsafat.
Di antara pemikir Islam modern yang cukup serius merumuskan worldview Islam di tengah-tengah hegemoni worldview Barat Sekular-Liberal seperti sekarang adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas (seorang cendekiawan Muslim Malasyia yang dikenal sangat kritis kepada Barat. Ia lahir di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 September 1931. Pada tahun 1987 ia mendirikan The International Instiute of Islamic Thought and Civilization –ISTAC). (hlm. xxx)

Di Indonesia Islamic worldview ini dikenalkan oleh beberapa intelektual muda muslim yang tergabung dalam INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization), seperti Adian Husaini, Hamid Fahmy Zarkasyi, Adnin Armas, Syamsuddin Arif, Henri Shalahuddin dan Nirwan Syafrin. (hlm. xxxi)

Dalam buku ini pembaca akan mendapatkan ulasan enam konsep terkait Islamic worldview, yaitu konsep Tuhan, agama, wahyu, kenabian, manusia, dan ilmu. Semua konsep tersebut penting sekali untuk mengenyahkan virus Islam Liberal yang berwujud pemikiran pluralisme agama, relativisme, desakralisasi al-Qur’an dan syari’ah, dan kebebasan manusia tak terbatas. Konsep tuhan secara khusus akan membatalkan teori transcendent unity of religion; sebuah teori yang menyatakan semua agama hanya berbeda dalam tataran eksoteris (kulit luar)-nya saja, sementara dalam tataran esoteris (lapisan inti)-nya semua agama sama, karena sama-sama menuju pada satu tuhan.
Konsep agama secara khusus akan mengkaji kedudukan agama Islam sebagai agama wahyu yang tidak tunduk pada sejarah. Konsep agama Islam dengan tegas menolak dekonstruksi syari’ah. Konsep wahyu, dengan konsep ini akan diketahui bahwa hermeneutika al-Qur’an adalah sebuah metodologi memahami al-Qur’an yang menyesatkan. Konsep kenabian, akan terlihat betapa rapuhnya gagasan yang menyatakan bahwa Islam, Yahudi dan Kristen sama-sama agama para nabi, dan dengan sendirinya terjamin masuk surga. Sebuah gagasan yang sering dilindungkan dibalik jargon Abraham Faiths/Religion atau millah Ibrahim. (hlm. xxxiii)

Konsep manusia, dari kajian ini akan diketahui bagaimana semestinya kita menyikapi isu humanisme, kebebasan, hak asasi manusia, dan feminisme. Konsep ilmu akan membuktikan bahwa Islam menolak relativisme dan skeptisisme. Ilmu dan kebenaran itu ada dan mesti dicari. (hlm. xxxiv)

1.
Mengenal Islam Liberal

Istilah ‘Liberalisme’ berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya ‘bebas’ atau ‘merdeka’. Menurut Syamsuddin Arif, ideologi liberalisme yang kebablasan pada akhirnya mengajarkan tiga hal : Pertama, kebebasan berpikir tanpa batas alias free thinking. Kedua, senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias sophisme. Ketiga, sikap longgar dan semena-mena dalam beragama.

Menurut Adian Husaini, munculnya liberalisme yang seperti itu di Barat tidak terlepas dari tiga faktor. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan. Kedua, problem teks Bible. Ketiga, problem teologis Kristen (hlm. 14-15)

Pemikiran khas Barat seperti ini kemudian mendunia seiring kolonialisasi dan sekularisasi yang dilancarkan Barat ke berbagai belahan dunia termasuk Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. (hlm.16)

2.
Trilogi Pemikiran Islam Liberal

Trilogi Pemikiran Islam Liberal adalah sekularisme, liberalisme dan pluralisme. (hlm. 35). Asal kata secular berasal dari bahasa latin saeculum yang berarti ruang dan waktu. Secular dalam pengertian ruang bermakna ‘dunia’ atau ‘duniawi’, sedangkan secular dalam pengertian waktu bermakna ‘sekarang’ atau ‘kini’. (hlm. 37).

Harvey Cox dalam bukunya, The Secular City menuturkan sekularisasi melibatkan tiga proses, yaitu: (1) pembebasan alam dari ilusi. Pembebasan alam dari pengaruh ilahi yang mencakup kepercayaan animistis, dewa-dewa, dan sifat magis dari alam. (2) desakralisasi politik, peniadaan kesucian dari kewibawaan agama dari politik. dan (3) pembangkangan terhadap nilai-nilai. Penghapusan kesucian nilai-nilai, termasuk nilai agama dari kehidupan. (hlm. 38-39).

Menurut Budhy Munawar-Rachman, Liberalisme adalah paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan individu dan mendorong kemajuan sosial. Liberalisme merupakan tata pemikiran yang landasannya adalah manusia yang bebas. (hlm. 52)

Islam Liberal menetapkan agenda perjuangan sebagai berikut: (1) Melawan teokrasi. (2) Mendukung gagasan demokrasi. (3) Memperjuangkan kesetaraan gender/feminism. Di antara syari’at yang akan mereka dekonstruksi adalah poligami, hak kaum pria menceraikan istri, hak waris pria yang lebih besar, jilbab/hijab, perempuan tidak boleh memimpin. (4) Memperjuangkan hak-hak non-muslim. Hukum murtad, dikotomi darul-Islam dan darul-harb harus ditafsirkan ulang dengan standar HAM. (5) Memperjuangkan kebebasan berpikir dan kemajuan. (hlm. 56).

Pluralisme berasal dari kata pluralism yang berarti jamak atau lebih dari satu. (hlm. 124). Pluralisme agama adalah koeksistensi (kondisi hidup bersama) antar agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas, dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama. (hlm. 125)

Menurut Syamsuddin Arif, fakta bahwa agama yang ada di dunia ini sangat banyak, telah melahirkan dua aliran pemikiran besar, yaitu: (1) Skeptisisme, beragamnya agama tersebut menjadi pembenar bahwa kebenaran dalam agama itu tidak ada. (2) relativisme, beragamnya agama merupakan merupakan sebuah fakta bahwa kebenaran itu tidak satu, ia ada pada setiap agama.

Kaum relativis memiliki tiga aliran pemikiran, yaitu: (1) Esensialisme, semua agama pada esensinya sama, percaya pada ketuhanan. Perbedaan hanya pada bentuk formalnya saja. (2) Sinkretisme, menyatukan agama-agama dalam satu format keagamaan. (3) Pluralisme, agama-agama itu sama dalam porsinya masing-masing, mengakui persamaan dalam perbedaan. Sama-sama benar dalam posisi dan kedudukannya masing-masing. (hlm. 126).

Ayat-ayat yang mereka (Islam Liberal) kutif untuk menjustifikasi argumen pluralisme agama adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al-Baqarah: 62)

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al-Maidah: 69)

Ayat yang mengajarkan ide toleransi dan pluralisme antar-agama

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya (Q.S Ali-Imran: 64)

Kalimat sawa’ itu sendiri sebagaimana dijelaskan Q.S. Ali-Imran: 64 adalah pengakuan akan kemahatunggalan Allah swt yang tidak ada sekutu baginya. Maka al-Qur’an mengingatkan pelanggaran Ahli Kitab mengenai hal tersebut dalam beberapa ayat, yaitu Q.S. An-Nisa’: 171 dan Q.S. al-Maidah: 72-75. (hlm. 136)

Konsepsi Iman dan Amal Shalih

“Apakah umat yang menyekutukan Allah dan menolak kenabian Muhammad saw juga kitab al-Qur’an, bisa dikategoriklan beriman kepada Allah dan beramal shalih?” jawabannya tentu tidak. Karena jika benar beriman kepada Allah, pasti semua titah-Nya akan dipenuhi, termasuk kepada Nabi Muhammad saw dan al-Qur’an. Karena juga jika beramal shalih, pasti mereka akan mengamalkan apa yang telah dititahkan Allah termasuk menaati Muhammad saw dan al-Qur’an (hlm. 137-138).

Millah Ibrahim
Millah Ibrahim itu bukan hanya hanif dan muslim, tapi juga wa maa kaana minal musyrikin; bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. Periksa QS. Al-Baqarah: 135. Ali-Imran: 67, 95. Al- An’am: 79. An-Nahl: 120, 123. (hlm. 141)

MENANGKAL VIRUS ISLAM LIBERAL Panduan Islamic Worldview untuk Para Aktivis Da’wah, Karya NASHRUDDIN SYARIEF, Cetakan Kedua, Persis Press, Bandung: 2011 (Bedah Buku Dalam Kajian I’tikaf PC. Pemuda Persis Cimahi Selatan bertempat di Mesjid Al-Furqon Melong-Cikendal, Pada Tanggal 26 Agustus 2011 M/ 27 Ramadhan 1432 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s