Ahmad Hassan: Kesederhanaan Sang Ideolog


A Hasan
A Hasan

Hassan Bandung. Demikian nama populer ulama kharismatik ini. Apakah berarti ia lahir di Ibu Kota Jawa Barat? Bisa penting bisa juga tidak menjawab pertanyaan tadi. Tapi baiklah, agar bisa sedikit menuntaskan rasa penasaran pembaca, penulis coba untuk menjawab, lengkap dengan sekelumit kiprahnya menyebarluaskan Islam di sepenggal bumi Allah, Indonesia.

Nama lengkapnya KH Ahmad Hassan. Seorang ulama asal Singapura, keturunan suku Tamil, India. Menyengaja datang ke Bandung, mulanya Hassan ingin belajar tenun. Namun kemudian, ia “terjebak” pada lingkaran dakwah Islam di kota itu. Pergulatannya sebagai dai di Bandung, menempatkan dia sebagai ideolog dan guru utama Persatuan Islam (PERSIS), salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Padahal Hassan bukanlah pendiri ormas Islam yang lahir di Bandung itu. Bahkan sampai ada sebagian kalangan yang melontarkan istilah kontroversial bahwa PERSIS adalah Hassanisme.

Sang Ideolog

Perjalanan A. Hassan memang unik. Walaupun sejak usia belia ia sudah menjadi alim ulama di Singapura, namun tujuan dirinya menginjakan kaki di negeri ini bukanlah untuk berdakwah. Tahun 1921, ia datang ke Surabaya untuk mengurus perniagaan milik pamannya.

Orang India lain sekelas Hassan pun turut menjadi pengrajin tekstil dan memiliki perusahaan keluarga dalam bidang serupa di Indonesia. Ia Hassan diberi tanggung jawab untuk mengurusnya.

Lantaran keterbatasan ilmunya dalam bidang tenun, di tahun 1924, ia mulai menjejak kota Bandung dengan tujuan belajar. Di kota inilah semangat keislamannya kembali membara. Allah menakdirkan dia tinggal di rumah seorang pendiri PERSIS, Muhammad Yunus, seorang pedagang asal Palembang. Perjumpaannya dengan tokoh dan aktivitas PERSIS seolah menyulut bara semangat keislaman dia.

Ketika itu tahun 1924, PERSIS baru berdiri 1 tahun. Ahmad Hassan sudah mulai tertarik dan jatuh hati. Jiwanya yang dekat dengan Islam dan dakwah merasa menemukan tempat yang pas dengan nalurinya. Dua tahun kemudian, di tahun 1926, A. Hassan resmi menjadi anggota PERSIS.

Di tangannya, PERSIS menjadi sebuah wadah dakwah yang mapan. Ahmad Hassan membentuk format yang belum ditelurkan oleh dua pendirinya, Muhammad Yunus dan H. Zamzam. Sikapnya yang pemberani dalam mengatakan kebenaran memberikan kesan tegas di mata masyarakat. Apalagi gaya dakwahnya yang cenderung menekankan pemurnian ajaran Islam dari tradisi masyarakat yang kurang tepat, kadangkala tidak begitu saja bisa diterima oleh kalangan ulama sebelumnya.

Dua metode dakwahnya yang sangat menonjol adalah melalui dialog dan tulisan. Lewat dialog, A. Hassan mampu beradu argumen dengan siapa saja, bahkan musuh sekalipun.

“A Hassan ini memiliki kemampuan argumentasi yang kuat. Bukan asal ngomong, selalu ada dalil yang ia kemukakan. Ia berani mengatakan yang benar itu benar, dan salah itu salah,” ungkap salah satu tokoh PERSIS yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Dr. Atip Lathifulhayat, SH, LLM, PhD, kepada tabloid Alhikmah.

Masih menurut Atip, di tangan Ahmad Hassan, penyebaran Islam semakin kukuh. Bersama PERSIS ia membentuk format ormas yang mengusung kembalinya gerakan kepada Alquran dan assunah. Kejumudan beragama mulai dihidupkan kembali di pelosok kota bandung. Semangat bertauhid disemarakkan dengan sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah Saw.

Pengaruh Ahmad Hassan tidak hanya dirasakan di Bandung. Di tingkat nasional, ia diakui dan mampu menunjukan eksistensinya. Presiden pertama negeri ini, Soekarno, pun disebut-sebut sebagai salah satu muridnya dalam belajar Sebuah kumpulan “Surat-surat Islam dari Endeh” adalah saksi bahwa Soekarno secara langsung menganggap Hassan sebagai gurunya. Islam.

“Dalam surat itu, korespondensi bukan sebatas urusan pribadi. Melainkan korespondensi intelektual. Jelas di sana, Soekarno mengakui sosok A. Hassan memberikan pencerahan kepadanya. Secara tidak langsung, Soekarno bukan saja tertarik pada A. Hassan melainkan sedikit banyak terpengaruh pola pikirnya,” tambah Atip.

Totalitas dalam Dakwah

Karena A. Hassan lebih memilih jalan dakwah, maka ia mulai meninggalkan urusan perniagaannya. Bersama PERSIS ia menjajaki setiap pemeluk Islam agar menjadi manusia purna dalam beribadah. Mencoba meruntuhkan tembok kemalasan, kejumudan beribadah dan tradisi masyarakat Islam yang menyimpang.

Sekitar 25 tahun pergulatan seorang Ahmad Hassan dengan dunia dakwah di Bandung, banyak warisan yang ia berikan untuk negeri ini. Salah satu masterpiecenya yang hingga saat ini masih dijadikan rujukan umat adalah tafsir Alfurqon. Bahkan ia pun turut mengkader generasi ulama terbaik pelanjut dakwah Islam negeri ini. Mereka diantaranya; M. Natsir (Perdana Menteri ke-5 Indonesia, Pendiri Masyumi), KH Isa Ansyari, KH Endang Abdurrahman dan KH Rusyad Nurdin.

“A. Hassan adalah sosok yang fenomenal dengan ketegasannya. Namun ia adalah pribadi yang sederhana, zuhud, shaleh dan mandiri. Ia berdakwah dengan uangnya sendiri, hidup dengan kerja kerasnya. Ia tidak pernah mau menjadi beban umat. Ia tidak pernah takut, selalu tegap berdiri untuk mengatakan kebenaran,” papar Atip ketika ditanya ihwal kepribadian Hassan Bandung.

Maka wajar jika masyarakat muslim Bandung menyandingkan nama Hassan dengan nama kota kebanggannya. Selain lantaran tempat dia menyebarkan ajaran Islam memang lebih banyak di Bandung, nama Ahmad Hassan pun demikian melekat di hati para pengagum dia di kota berjuluk Parisnya Jawa itu.

alhikmahonline

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s