Akal, Agama dan Rasa Malu


Otak dan Akal

Otak dan Akal

“Sesungguhnya Malaikat Jibril turun menemui Adam, dan berkata kepadanya: Sesungguhnya Allah Swt menyuruhku untuk menawarkan satu pilihan dari tiga pilihan, yang ditawarkan-Nya, yaitu: Akal, Agama dan Rasa malu. Adam menjawab: Aku memilih Akal. Maka Rasa malu dan Agama pun berkata: Kalau begitu, kami bersama kamu wahai Adam, sebab Allah telah menyuruh kami agar selalu bersama akal dimanapun ia berada”

  1. Segala sesuatu yang ditolak oleh Akal, maka ia tidak termasuk agama. Orang yang tidak berakal, berarti tidak beragama dan tidak mempunyai rasa malu, sekalipun ia melakukan shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari.
  2. Selama Agama tidak terpisah dari Akal dalam bentuk apapun, maka menutup pintu Ijtihad berarti menutup pintu Agama, karena arti Ijtihad adalah melepaskan belenggu-belenggu yang mengikat akal serta memperluas wawasan (peluang) untuk menarik beberapa masalah dari akar-akarnya (ushulnya).

    Ijtihad

    Ijtihad

(Muh. Jawad Mughriyah, al-Fiqh ‘ala al-Madzaahib al-Khamsah, terjemahan: Fiqih 5 Mazhab Ja’fari, Hanafi, Maliki, Safi’i & Hambali, Penerjemah: Masykur dkk, Lentera, Jakarta: 2000. hlm. xv-xvi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s