Ibrah Perjalanan Da’wah Nabi Saw Periode Makkah


Muqaddimah

Tetesan darah dan semangat yang tak pernah lelah walau keringat sudah habis terkuras, namun perjuangan da’wah Nabi dan para sahabat tidak pernah berhenti hingga malakul maut merenggut nyawa. Periode Makkah merupakan awal dari sebuah gerakan da’wah Rasulullah Saw, dimana tantangan, rintangan dan halangan bertubi-tubi yang dialami oleh Nabi dan para Sahabat, maka Hijrah merupakan srtategi terakhir dalam periode ini.

Kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw, selayaknya mengetahui alur dan jejak langkah da’wah beliau. Namun, bukan hanya sekedar mengetahui saja kisahnya, tapi lebih dari itu, kita jadikan Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah. Maka disinilah Sirah bukan hanya sekedar bacaan, tapi ia merupakan darah segar yang mengalir bagi para pejuang Haq, ia menjadi sebuah motivasi bagi aktivis da’wah masa kini dan yang akan datang.

Mengkaji sirah perjalanan da’wah Nabi Saw dalam periode Makkah selama 13 tahun tidak cukup dalam waktu 1,5 jam, maka oleh karena itu saya menuliskan secara global saja, makanya dalam penulisan judul diatas adalah “Ibrah”, nanti lebih banyak didalam forum diskusi.

Da’wah secara rahasia (Sirriyatud Da’wah)

Dalam dakwah secara rahasia (sirriyatud da’wah) yang berlangsung selama tiga tahun, pertama beliau merekrut istrinya sendiri Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As-shidiq dan setelah berkumpul sejumlah orang, Nabi Saw melakukan dakwah dan pendidikan di rumah Arqam bin Abil Arqam, yang kebanyakan mereka adalah kaum lemah. Dalam buku Fiqih Sirah, Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy (1999 : 7) menyebutkan, Ketika orang-orang yang menganut Islam lebih tiga puluh lelaki dan wanita, Rasulullah memilih salah seorang dari mereka, yaitu rumah Al-Arqam bin Abil Arqam, sebagai tempat pertama untuk mengadakan pembinaan dan pengajaran. Dakwah pada tahap ini mengahasilkan sekitar empat puluh lelaki dan wanita penganut Islam. Kebanyakan mereka adalah orang-orang fakir, kaum budak, dan orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan.

Dakwah Rasulullah Saw pada tahapan ini merupakan siyasah syar’iah (politik syariah) darinya sebagai imam, bukan termasuk tugas-tugas tablignya dari Allah sebagai Nabi. Maka dalam konteks saat ini harus dilihat dalam medan da’wah tersebut, misal dalam cakupan Negara, bila di Negara Indonesia secara kontekstual “aman”, maka lakukan da’wah secara terang-terangan (Jahriyatud Da’wah) dengan lisan dan tulisan tanpa perang, kecuali bila nanti kondisi Indonesia kembali pada era orde baru yang refresif dan tidak toleran, maka dalam strategi da’wah yang dipilih adalah Da’wah secara rahasia (Sirriyatud Da’wah), begitupula bila kondisi Indonesia dijajah kembali oleh Negara aggressor, maka ini bisa dilakukan da’wah secara terang-terangan dengan memeranginya dan membawa bendera jihad fi sabilillah, itu juga dilihat dari persiapan dan peralatan perang, bila musuh memakai senjata dan peralatan perang berat maka kita juga harus mengukur dari kesiapan kita juga dari hal tersebut (ulah sosoroh kojor), dan bila musuh menggunakan media (fikroh) sebagai alat untuk menyerang kita, maka kita pun serang mereka dengan media juga (ghazwul fikri) dan seterusnya, yang intinya adalah umat harus siap siaga dalam segala ruang dan waktu serta membekali diri dengan segala kemampuan kita, Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash Shaff  [61]: 4)

 “dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya: sedang Allah mengetahuinya, apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (QS Al-Anfal : 60)

Da’wah secara terang-terangan (Jahriyatud Da’wah)

Setelah selama tiga tahun Rasulullah Saw melakukan da’wah secara tersembunyi. Allah kemudian berfirman kepadanya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al Hijr [15] : 94). Maka Rasulullah Saw melakukan da’wah secara terang-terangan yang mengakibatkan kafir Quraisy membencinya, termasuk pamannya sendiri Abu Lahab, hingga turunlah surat Al-Lahab.

Reaksi Abu Lahab terhadapnya dan kesepakatan tokoh-tokoh Quraisy untuk memusuhi dan menentangnya hal ini kiranya cukup menjadi jawaban telak bagi orang-orang yang berusaha menggambarkan syari’at Islam salah satu buah nasionalisme (Arab) dan menganggap Muhammad Saw dengan da’wah yang dilakukannnya sebagai cerminan idealisme dan pemikiran arab pada masa itu.

Penyiksaan, siasat perundingan, pemboikotan ekonomi.

Penyiksaan yang diterima oleh Rasulullah Saw bersama para sahabat itu merupakan sebuah konsekwensi dalam perjuangan da’wah, dan itu merupakan sunnatullah.

Diriwayatkan oleh imam Bukhari dari Khabab ibnul Arit, ia berkata, “Aku datang menemui Rasululllah Saw  ketika beliau sedang berteduh di ka’bah. Pada beliau aku berkata ”wahai Rasulullah, apakah anda tidak memohonkan pertolongan kepada Allah bagi kami? Apakah anda tidak berdo’a bagi kami?” beliau menjawab, “diantara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya menjadi dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir besi hingga kulit kepalany terkelupas. Akan tetapi, siksaaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan agama. Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri semua persoalan itu sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadramaut tanpa rasa takut kepada siapapun juga selain Allah dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Akan tetapi, kalian tampak terburu-buru.”

Dalam perundingan Seorang tokoh cendikiawan, Utbah bin Rabi’ah harus bertekuk lutut ketika Rasul membaca surat Fushshilat [41]: 13. Dimana Harta, tahta dan wanita tidak berlaku kepada seorang pejuang sejati. Seandainya da’wah Rasulullah Saw semata-mata mengejar kekuasaan dan harta kekayaan, niscaya beliau tidak akan bersedia menanggung penyiksaan dan tidak akan menolak tawaran mereka seraya mengatakan : ”Aku tidak berdakwah menginginkan harta kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabb-ku dan aku sampaikan nasihat kepadamu. Jika kamu menerima da’wahku kebahagiaanlah bagimu dunia dan akhirat. Jika kamu menolak ajakanku, aku bersabar mengikuti perintah Allah hingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu.”

Ditengah glamournya hedonistik ini menjadi tantangan tersendiri bagi para da’i pada masa kini, apakah ia akan hanyut didalamnya atau Rasul sebagai Qudwah?  Himpitan ekonomi, kebutuhan hidup yang semakin urgen dan lain sebagainya, kalau saja keimanan para da’i ini terlena akan bujuk rayu syetan untuk menerima harta, tahta dan wanita, maka habislah generasi penerus Nabi Saw.

Pemboikotan ekonomi. Setelah kaum Quraisy tidak berhasil membunuh Rasulullah Saw, mereka sepakat untuk mengucilkan Rasulullah Saw dan kaum Muslimin yang mengikutinya serta Bani Hasyim dan bani Muththalib yang melindunginya. Untuk tujuan ini, mereka telah menulis suatu perjanjian bahwa mereka tidak akan mengawini dan berjual beli dengan mereka yang dikucilkan. Mereka tidak akan menerima perdamaian dan berbelas kasihan kepada mereka sampai bani Muththalib menyerahkan Rasulullah Saw kepada mereka untuk dibunuh. Naskah perjanjian itu mereka gantungkan di dalam Ka’bah.

Rasulullah Saw bersama kaum Muslimin berjuang menghadapi pemboikotan yang amat keras ini selama tiga tahun, mereka menderita kekurangan bahan makanan hingga mereka terpaksa makan dedaunan. Ini merupakan sebuah gambaran bagaimana penderitaan bagi pembawa risalah Allah Swt, oleh sebab itu tidak aneh bila saat ini, para pelanjut Rasulullah Saw senantiasa mendapat rintangan dan halangan. Namun dengan demikian yang Haq selalu menang terhadap yang bathil, Allah Swt mengirimkan anai-anai (rayap) untuk menghancurkan surat perjanjian tersebut kecuali beberapa kalimat yang menyebutkan nama Allah.

Tahun berduka cita (‘Amul Huzni)

Pada tahun kesepuluh kenabian, istri Nabi Saw, Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya Abu Thalib wafat. Berkata ibnu Sa’ad dalam thaqabatil, “Selisih waktu antara kematian Khadijah dan Abu Thalib hanya satu bulan lima hari.” Nabi Saw menamakan tahun ini sebagai “Tahun Dukacita” karena begitu berat dan hebatnya penderitaan di jalan da’wah pada tahun ini, karena setelah kematian keduanya gangguan serta siksaan kafir Quraisy makin memuncak, mereka lebih berani karena yang membela Nabi Saw sudah tiada.

Disini tampak suatu fenomena penting yang berkaitan dengan prinsip aqidah Islam. Seandainya Abu Thalib berusia panjang mendampingi dan membela Rasulullah Saw sampai tegaknya Negara Islam di Madinah dan selama itu Rasulullah Saw dapat terhindar dari gangguan Kaum Musyrik, niscaya akan timbul kesan bahwa Abu Thalib adalah tokoh utama yang berada dibalik layar da’wah ini.

Seandainya Nabi Saw berhasil dalam da’wahnya tanpa penderitaan atau perjuangan berat, niscaya para sahabatnya dan kaum Muslimin sesudahnya ingin berda’wah dengan santai sebagaimana yang dilakukan oleh beliau, dan merasa berat menghadapi penderitaan dan ujian yang mereka temui dijalan da’wah.

Isra Mi’raj

Isra adalah perjalanan Nabi Saw dari Masjidl Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di al-Quds. Mi’raj ialah kenaikan Rasulullah Saw menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam semalam. Menurut Ibnu Sa’ad didalam Thabaqat-nya, peristiwah ini terjadi delapan bulan sebelum Hijrah. Dalam perjalanan ini, Rasulullah Saw menunggang buraq yakni sejenis binatang yang lebih besar sedikit dari keledai dan lebih besar sedikit dari unta.

Isra dan mi’raj sebagai penghormatan dari Allah dan penyegaran semangat dan ketabahannya. Disamping sebagai bukti bahwa apa yang baru dialaminya dalam perjalanan hijrah ke tha’if bukan karena Allah murka atau melepaskannya, melainkan hanya merupakan sunatullah yang harus berlaku pada kekasih-Nya. Sunnah dakwah Islamiyah pada setiap masa dan waktu.

Betapa tinggi dan mulia kedudukan Baitul Maqdis di sisi Allah. Hal ini juga merupakan bukti nyata akan adanya hubungan yang sangat erat antara ajaran Isa as dan ajaran Muhammad saw. Seolah-olah hikmah ilahiyah ini mengingatkan kaum muslimin zaman sekarang agar tidak takut dan menyerah menghadapi kaum yahudi yang tengah menodai dan merampas rumah suci ini, untuk membebaskannya dari tangan-tangan najis dan mengembalikannya kepada pemiliknya kaum muslimin.

Pilihan Nabi Saw terhadap minuman susu, ketika jibril menawarkan dua jenis minuman, susu dan khamr, merupakan isyarat secara simbolik bahwa Islam adalah agama fitrah yakni agama yang aqidah dan seluruh hukumnya sesuai dengan tuntutan fitrah manusia. Di dalam Islam tidak ada sesuatupun yang bertentangan dengan tabiat manusia. Seandainya fitrah berbentuk jasad niscaya Islam akan menjadi bajunya yang pas. Islam adalah satu-satunya system yang dapat memenuhi semua tuntutan fitrah manusia.

Hijrah

Makkah

Cobaan berat yang dialami oleh para sahabat Rasulullah Saw semasa di Makkah adalah berupa gangguan, penyiksaan, cacian, dan penghinaan dari kaum musyrik. Setelah Rasulullah Saw mengizinkan mereka berhijrah, cobaan berat itu kini berupa meninggalkan rumah, tanah air, harta kekayaan dan keluarga.

Para sahabat dengan setia dan ikhlas kepada Allah Swt menghadapi kedua bentuk cobaan tersebut. Semua penderitaan dan kesulitan mereka hadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Hingga ketika Rasulullah Saw memerintahkan mereka berhijrah ke Madinah, tanpa merasa berat, mereka berangkat meninggalkan tanah air, kekayaan, dan rumah mereka. Mereka tidak bisa membawa harta benda dan kekayaan karena harus berangkat secara sembunyi-sembunyi. Semua itu mereka tinggalkan di Makkah untuk menyelamatkan agamanya dan mendapatkan ganti berupa ukhuwah yang menantikan mereka di Madinah. Ini adalah gambaran yang benar tentang pribadi muslim yang mengikhlaskan agama kepada Allah Swt, tidak memedulikan harta kekayaan, tanah air, dan kerabat demi menyelamatkan agama dan aqidahnya. Itulah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Saw di Makkah.

Bagaimana halnya penduduk Madinah yang telah memberikan perlindungan dan pertolongan kepada mereka? Sesungguhnya, mereka telah menunjukan keteladanan yang baik tentang ukhuwah Islamiyah dan cinta karena Allah Swt. Allah Swt telah menjadikan persaudaraan aqidah lebih kuat ketimbang persaudaraan nasab. Karena itu, pewarisan harta kekayaan di awal Islam didasarkan pada asas aqidah, ukhuwah dan hijrah di jalan Allah. Maka di Madinah terbentuklah darul Islam yang kuat.

(Di sampaikan dalam Halaqoh Pasca Tafiq I PD. Pemuda Persis Purwakarta, Sabtu, 14 April 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s