PEMUDA PERSIS SEBAGAI HAROKAH TAJDID


Pemuda Persis adalah organisasi kader dan harokah tajdid (Qaidah Asasi Pemuda Persis 2010-2015, Bab I, Pasal 3, Bentuk, Sifat, dan Gerakan, ayat 2, hal. 2)

Adapun ruang lingkup jihad Pemuda Persis diantaranya disebutkan, Membina kader untuk menjadi mujahid, mujtahid, mujadid, ashabun dan hawariyyun Islam (QA Pemuda Persis 2010-2015, Pasal 7, ayat 3, hal. 3)

Dalam Qaidah Asasi Pemuda Persis, Pasal 3 bentuk, sifat, dan gerakan Pemuda Persis adalah organisasi kader dan harokah tajdid. Mengenai organisasi kader telah kita bahas pada pertemuan pertama dalam halaqah ini, adapun yang akan kita bahas adalah Pemuda Persis sebagai harokah tajdid.

Melihat Qaidah Asasi Pemuda Persis di atas ada dua macam istilah, yakni tajdid (pasal 3) dan mujadid (pasal 7). At-Tajdid artinya pembaharuan, sedangkan Al-Mujadid artinya pembaharu (reformer) (Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap). Maka yang dimaksud dengan harokah tajdid adalah gerakan pembaharuan, dan  pelakunya disebut mujadid.

Sedangkan dalam tafsir Qaidah Asasi diterangkan bahwa yang dimaksud harakah tajdid adalah mengacu pada hadis: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Berdasarkan apa yang aku ketahui dari Rasulullah Saw, beliau bersabda,

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini orang yang akan memperbaharui agamanya pada setiap seratus tahun.” (Sunan Abi Dawud, Juz 11 hal. 362).

Al-Alqami dalam syarah-nya terhadap hadis ini mengatakan, “Makna tajdid adalah menghidupkan kembali amal berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dan memerintahkan untuk mengikuti tuntutan Al-Qur’an dan Sunnah itu.” (Aunul Ma’bud Syarh Abi Dawud, Juz. 9 hal. 326)

Berdasarkan hadis dan penjelasannya di atas dapat dipahami bahwa tajdid yang dimaksud oleh Pemuda Persis adalah “memperbaharui kembali amaliah umat agar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.” Berdasarkan prinsip ini, dalam segala bidang kehidupan yang akan diterjuni, Pemuda Persis senantiasa berjuang agar bidang tersebut berada pada rel Al-Qur’an dan Sunnah. Tambahan lagi, Pemuda Persis juga selalu berjuang untuk mengaktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah dalam setiap konteks kehidupan yang dihadapinya yang selalu berubah. (Tafsir Qaidah Asasi Pemuda Persis 2010-2015, Bab I, Pasal 3 ayat 2, hal. 46-47)

Merangkum sejarah pergerakan dan pemikiran Tajdid

Dalam berbagai analisis terhadap hadis diatas banyak yang mengemukakan bahwa diantara para mujadid itu diantaranya Umar bin Abdul Aziz, Imam Syafi’i, ibnu Taimiyyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan lain sebagainya. Entah apa yang dijadikan persyaratan dijadikan seorang mujadid. Namun kalau kita melihat lagi teks hadis dan syarahnya, bahwa patokan atau syarat seorang mujadid itu adalah menghidupkan kembali amal berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, membuka kembali ruang ijtihad, mendobrak kebekuan tradisi taqlid dan amar ma’ruf dan nahyi munkar terhadap amalan yang sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Hadis, seperti: Syirik, TBC (Tahayul, Bid’ah, Churofat) dan Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme).

Bisa dipahami bila nama-nama diatas bisa dijadikan para pembaharu (mujadid) karena mereka concern pembelaannya terhadap Islam dan umat Islam, dengan menjalankan berbagai ijtihadnya sesuai dengan konteks zamannya masing-masing, dengan berlandaskan al-Qur’an dan hadis.

Selain itu mereka bahkan menjadi rujukan para pembaharu di Indonesia, yang pada saat itu disebut kaum modernis, bahkan majalah Urwatul wusqonya Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh menjadi rujukan HAMKA, Persis (A.Hasan, M. Natsir), Muhammadiyah (Ahmad Dahlan), al-Irsyad (Ahmad Soorkati), tak ketinggalan dengan majalah al-Manar nya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir menjadi sebuah roda gila yang menggerakan semangat kembali kepada al-Qur’an dan hadis juga dalam rangka melawan para penjajah di Negara-negara Islam.

Pembaruan pemikiran Al-Afghani didasarkan pada keyakinan bahwa agama Islam sesuai untuk semua bangsa, zaman, dan keadaan. Tidak ada pertentangan antara ajaran Islam dan kondisi yang disebabkan perubahan zaman.

Dalam pandangan Afghani, jika ada pertentangan antara ajaran Islam dan kondisi zaman saat ini, maka harus dilakukan penyesuaian dengan mengadakan interpretasi baru terhadap ajaran-ajaran Islam yang tercantum dalam Alquran dan hadits. Untuk mencapai hal ini dilakukan ijtihad, dan pintu ijtihad menurutnya masih tetap terbuka.

Ia melihat bahwa kemunduran umat Islam bukanlah karena Islam tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan perubahan kondisi. Kemunduran mereka disebabkan oleh beberapa faktor. Umat Islam, menurutnya, telah dipengaruhi oleh sifat statis, berpegang pada taklid, bersikap fatalis, telah meninggalkan akhlak yang tinggi, dan telah melupakan ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa umat Islam telah meninggalkan ajaran Islam yang sebenarnya menghendaki agar umat Islam bersifat dinamis, tidak bersifat fatalis, berpegang teguh pada akhlak yang tinggi, dan mencintai ilmu pengetahuan.

Faktor lainnya adalah adanya paham Jabariah dan salah paham terhadap qada (ketentuan Tuhan yang tercantum di Lauh Mahfuz/belum terjadi). Paham itu menjadikan umat Islam tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh dan bekerja giat.

Lemahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan umat Islam tentang dasar-dasar ajaran agama mereka, lemahnya rasa persaudaraan, dan perpecahan di kalangan umat Islam yang dibarengi oleh pemerintahan yang absolut, mempercayakan kepemimpinan kepada yang tidak dapat dipercaya, dan kurangnya pertahanan militer merupakan faktor-faktor yang ikut membawa kemunduran umat Islam.

Ia juga ingin melihat umat Islam kuat, dinamis, dan maju. Jalan keluar yang ditunjukkannya untuk mengatasi keadaan ini adalah melenyapkan pengertian yang salah yang dianut umat Islam dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya. Menurut dia, Islam mencakup segala aspek kehidupan, baik ibadah, hukum, maupun sosial. .

Selain Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, Ide-ide pembaharuan yang dikumandangkan Rasyid Ridha pun menjadi barometer perjuangan kaum modernis di Indonesia, juga di Negara-negara yang mayoritas muslim yang saat itu banyak di jajah oleh bangsa Eropa.

Rasyid Ridha mengatakan bahwa umat Islam lemah karena mereka tidak lagi mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang murni seperti yang dipraktikkan pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Melainkan ajaran-ajaran yang menyimpang dan lebih banyak bercampur dengan bid’ah dan khurafat.

Ridha menegaskan jika umat Islam ingin maju, mereka harus kembali berpegang kepada Alquran dan sunah. Ia membedakan antara masalah peribadatan (yang berhubungan dengan Allah SWT) dan masalah muamalah (yang berhubungan dengan manusia). Adapun masalah yang pertama menurut Ridha, telah tertuang dalam Alquran dan hadits, yang ketentuannya harus dilaksanakan serta tidak berubah meskipun situasi masyarakat terus berubah dan berkembang.
Sedangkan untuk hal kedua, dasar dan prinsipnya telah diberikan, seperti keadilan, persamaan, dan hal lain. Namun, pelaksanaan dasar-dasar itu diserahkan kepada manusia untuk menentukan dengan potensi akal pikiran dan melihat situasi dan kondisi yang dihadapi, sepanjang tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. (REPUBLIKA.CO.ID)

Liberalisasi Islam Bukan Tajdid

Sejak munculnya Jaringan Islam Liberal mulai membuka kembali pemikiran dalam Islam, mereka berasumsi bahwa yang mereka bawa adalah merupakan bentuk Ijtihad dan Tajdid yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ijtihad dan gerakan tajdid yang mereka maksud adalah menafsir ulang teks al-Qur’an dan Hadis sesuai ‘semangat zaman’ (hawa nafsu), dan menempatkan kedudukan keduanya (al-Qur’an dan hadis) dibawah akal-akal mereka. Ayat-ayat yang Qhot’I pun tidak luput dari ’tafsiran’ mereka, bahkan dalam tahapan kebijakan, lahirlah Rancangan Undang-Undang Kesetaraan Gender, maka dengan demikian akan benar-benar terjadi Hak Asasi Manusia diatas Hak Asasi Tuhan, bahwa Al-Qur’an dan Hadis harus sesuai dengan kacamata HAM.

Maka dengan demikian bagi Pemuda Persis sebagai harokah tajdid hendaknya mampu mengkanter pemikiran-pemikiran yang menyesatkan umat dan berdampak terhadap rusaknya syari’at Islam dan hancurnya tatanan masyarakat Indonesia. Firman Allah Swt: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali ‘Imran: 104)

(Di sampaikan dalam Halaqoh PC. Pemuda Persis Cimahi Selatan di Masjid Al-Furqon Ciberem, pada hari kamis, tanggal 10 Mei 2012)

One comment on “PEMUDA PERSIS SEBAGAI HAROKAH TAJDID

  1. […] (baca: Ibrah), seperti: apakah gerakan pembaharu dulu masih bisa dinamakan para pembaharu? apakah liberalisasi sama dengan tajdid? tokoh-tokoh Islam liberal cocok menyandang gelar mujadid? dan lain […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s