Umat Islam dalam Tiga Kekuasaan (Orla, Orba, dan Reformasi)


Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….. (QS. Ali-Imran: 110)

Soeharto-Soekarno

Umat Islam mempunyai andil dan peranan yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia, baik itu pra kemerdekaan (masa penjajahan) maupun pasca kemerdekaan hingga melalui berbagai masa yang dilalui, dari Orde lama (Orla), Orde baru (Orba), hingga sampai saat ini, orde reformasi. Dalam masa pra kemerdekaan umat Islam yang berada digarda terdepan melawan penjajah, sebutlah Sultan Hasanuddin, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dan lain-lain.  Selain itu juga melalui organisasi kemasyarakatan hadir SDI, SI, Al-Irsyad, Muhammadiyah, Persatuan Islam, NU dan lain sebagainya dalam rangka merebut kemerdekaan dari tangan penjajah (Belanda, Spanyol, Portugis, Jepang).

Kekuasan identik dengan politik, dalam politik ada istilah tidak ada kawan sejati dan lawan  abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Ketika umat Islam dihubungkan dengan kekuasaan (penguasa/pemerintah yang berkuasa), maka istilah tersebut berlaku, ketika penguasa memerlukan umat Islam maka ia  akan dirangkul dan dijadikan kawan, tapi ketika umat Islam tidak diperlukan lagi, maka ia akan dijadikan lawan, dikucilkan bahkan diberangus sampai keakar-akarnya. Itu pula yang terjadi pada umat Islam di Indonesia dalam tiga kekuasaan (Orla, Orba, Reformasi).

Orde Lama
Dalam perjalanan sejarahnya umat Islam bergolak dalam pemikiran, yang saat itu dunia masih dalam keadaan Perang Dingin, perang ideology antara kapitalisme dan sosialisme marxis, maka ideology dan pemikiran tersebut mempengaruhi sejumlah tokoh di Indonesia, ada yang terpengaruh dengan idologi sosialisme marxis (komunisme), ada yang berpemikiran nasionalis-sekular, dan ada yang berpemikiran Islam, hingga detik-detik proklamasi para pendiri bangsa ini masih bergulat dengan pemikiran, apakah landasan bagi Negara yang belia ini, apakah nasionalis-sekular atau Islamis? Maka yang terjadi, sehari pasca pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapuskan.

Begitulah yang menimpa umat Islam pada awal-awal kemerdekaan pada era Soekarno (menjabat sebagai Presiden selama 21 tahun, 1945-1966), dimana umat Islam yang gigih berjuang melawan kolonial harus dihianati oleh kaum nasionalis-sekular (atas ‘rekomendasi’ minoritas-kristen) dengan dihapusnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yang tertulis: “…Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat berdasarkan kepada : Ketuhanan, dengan kewajban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya….”


Sang proklamator pun tidak segan-segan untuk memberangus lawan-lawan politiknya, diantaranya ia membubarkan Partai Islam Masyumi dan menangkapi tokoh-tokoh Islam dan memasukkan mereka ke penjara sebagai tahanan politik. Presiden pertama ini pula menafsirkan pancasila dengan Nasakom (Nasionalis, agama dan komunis), bahkan elit PKI juga dekat dengannya, hingga ada indikasi Soekarno terlibat dengan G 30 S/PKI, maka ia menjadi tahanan politik untuk di ajukan ke Mahkamah Militer terkait dengan gerakan tersebut. Pada tanggal 21 Juni 1971 ia meninggal dunia.

Orde Baru
Orde Baru merupakan peralihan dari Orde Lama, dimana masih adanya simpang siur terhadap mandat Presiden Soekarno kepada Soeharto yang terkenal dengan sebutan SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret). Soeharto menjabat sebagai Presiden selama 32 tahun (1967-1998).

Pada era ini umat Islam penuh kecemasan, karena Soeharto menggunakan tangan besi, ia bersikap represif terhadap umat Islam, padahal sebelum ia diangkat menjadi Presiden, umat Islam menyertai Angkatan Darat menyingkirkan Komunis.

UU Subversi menjadikan landasan bagi Orba untuk memberangus umat Islam, apa yang terjadi pada tahun 1976-1981 dengan Komji (Komando Jihad) yang merupakan rekaan Ali Moertopo untuk mendiskreditkan dan melemahkan umat Islam, pada bulan September 1984 terjadi tragedy Tanjung Priok, ratusan umat dibantai dengan timah panas dengan Panglima ABRI nya LB. Moerdani dan Pangdam jayanya Try Sutrisno dan kasus-kasus berat lainnya yang melanggar HAM. Bahkan dalam era ini pula seorang mubalig harus punya SIM (Surat Izin Mubalig).

Namun di masa akhir-akhir jabatannya ia mulai merangkul umat Islam, dimana mulai berdiri ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), merestui BMI (Bank Muamalat Indonesia)  pembangunan Masjid, dan kebijakan lainnya, hingga media massa pun menamakan ‘ijo royo-royo’.

Soeharto meninggal dunia pada hari Ahad 27 Januari 2008, meninggal dalam usia 87 tahun. Ia meninggalkan kenangan bagi bangsa Indonesia, ia meninggalkan utang luar negeri, ia mewariskan KKN kepada anak negeri, ia meninggalkan Pancasila sebagai asas tunggal, sebagai bapak pembangunan yang disponsori oleh IMF dan Bank Dunia ia harus rela ditumbangkan dari kursi kekuasaan pada tanggal 21 Mei 1998.

Era Reformasi
Era Reformasi merupakan masa perubahan bangsa Indonesia dimana setelah 32 tahun dalam hegemoni Negara (Orba), era dimana Soeharto ‘ditumbangkan’ dari kursi kepresidenan. Berturut-turut kursi kepresidenanpun digilir dimulai Bj. Habibie, Gusdur, Megawati, hingga SBY kini, namun yang menimpa umat Islam adalah ia hanya sebagai pendorong mobil mogok, setelah mobil maju, maka umat Islam pun ditinggalkan. Demikian yang terjadi penguasa-penguasa era reformasi, dari Walikota hingga Presiden, ketika ia butuh dukungan suara, maka ia merapat dan mendatangi kepada rakyat kecil, ke pesantren-pesantren dan umat Islam, namun setelah ia menjabat, umat pun tidak didengar dan ditinggalkan.

Itu sekilas sejarah umat Islam dalam tiga kekuasaan, dalam rentang yang cukup lama tidak bisa dirangkum dalam 2-3 halaman kertas HVS, namun ini sebuah pengantar, untuk selanjutnya saya persilahkan kepada ikhwatu iman untuk membaca kembali sejarah tersebut dalam berbagai literatur baik buku maupun internet, itu semua untuk dijadikan ibrah (pelajaran) bagi umat Islam agar tidak terperosok lagi kedalam lubang yang sama, dalam rangka menatap masa depan yang lebih baik. Wassalam.

(Di sampaikan dalam Halaqoh Pasca Tafiq I PD. Pemuda Persis Purwakarta, Sabtu, 14 Mei 2012 M)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s