MEWASPADAI SEKULERISME & LIBERALISME


Khutbah Iedul Fithri  1430 H

 Oleh : Shiddiq Amien Allahu yarham

ان الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلا هدي له ؛ اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له ، و اشهد ان محمد عبده ورسوله الذى لا نبي بعده ، اما بعد :

الله اكبر ، الله اكبر ، الله اكبر ، ولله الحمد

Ust. Shiddiq Amien

Al- A’idien wal A’idaat !

Pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt yang dengan bimbingan inayah, rahmat dan hidayah-Nya, kita masih diberi kesempatan dan kemampuan untuk menuntaskan kewajiban shaum dan amal ibadah lainnya selama bulan Ramadlan, serta merayakan hari  ‘Iedil Fithri  pagi ini. Kita semua berharap semoga amal ibadah kita tersebut diterima oleh Allah swt sebagai ‘amalan sholihan mabruran maqbulan, menjadi wasilah diampuninya segala kealfaan dan dosa kita yang pernah kita lakukan selama ini, dan hari ini kita benar-benar dalam keadaan fithri dalam arti bersih dari dosa.  Untuk kemudian kita isi lembaran hidup yang akan masih tersisa dengan prestasi hidup dan amal sholih yang lebih baik,  lebih berkualitas. Sehingga kelak di kemudian hari ketika kita dikumpulkan di Padang Mahsyar, kita dikumpulkan dalam keadaan lebih bahagia dari pada kebahagiaan kita pada hari raya ‘Iedil Fithri ini.

Al-A’idien wal-a’idaat !

Sebagaimana kita kita ketahui dan rasakan bersama, bulan Ramadan ini suasana ibadah kita dihiasi dengan datangnya musibah gempa bumi, dengan kekuatan 7,3 SR, dan telah mengakibatkan 70 orang wafat dan 37 orang dinyatakan hilang, sekitar 10.000 bangunan : rumah, masjid, madrasah dan fasilitas umum lainnya rusak, runtuh bahkan rata dengan tanah.

Kita memang ditakdirkan oleh Allah lahir dan tinggal di Indonesia. Sebuah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam, tapi juga memiliki potensi bencana alam yang cukup besar. Misalnya : Kita kaya akan Gunung Berapi. Kita memiliki 129 gunung Berapi aktif, atau 13 % dari jumlah Gunung Berapi aktif di dunia, yang berjumlah 820 buah gunung berapi. Indonesia ada pada ” Ring of Fire “ (Sabuk Gn. Berapi)  Bandingkan dengan Negara tetangga kita -Pilipinan- yang hanya punya 6 gunung berapi. Bisakah kita membayangkan jika yang 129 atau yang 820 buah gunung berapi itu meletus bersama-sama ? akan seperti apakah kehidupan di muka bumi ini?  Dalam Buku  Volcanoes in Human History karya Jelle Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sanders (2001)  disebutkan ada 4 Gunung berapi yang pernah meletus paling dahsyat dalam sejarah manusia. 3 diantaranya terjadi di Indonesia. Ranking pertama letusan Gunung Toba di Sumatra Utara yang meletus sekitar 74.000 tahun lalu. Untuk membayangkannya, bekas kawah Gunung Toba itu yang kini telah menjadi Danau Toba, danau terluas di Indonesia ( 1.773 km2 ). Pada tahun 1998 seorang antropolog – Stanley Amborse- dari University of Illinois at Urbana Champain, dalam Journal of Human Evolution menyebutkan ada kejadian besar yang disebut ” musim dingin vulkanis ” yang merupakan suhu terdingin setelah 1.000 tahun abad es. Dalam membuat hipotesis ini Amborse dibantu oleh beberapa ahli genetic dan ahli gunung berapi. Ia memperkirakan letusan itu telah menyebabkan musim dingin selama enam tahun dan mengubah secara signifikan iklim pada seribu tahun kemudian. Serta menyebabkan kelaparan dan kematian pada manusia dan hewan serta tumbuhan. Makanya Gunung Toba mendapat julukan ” Super Volcano”.  Ranking dua, letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, yang meletus 10-15 April 1815. Seperti ditulis Kathy Furgang dalam bukunya  Tambora a Killer Volcano from Indonesia ( 2001 )  Tambora gunung pembunuh dari Indonesia, karena korban jiwa diperkirakan mencapai 100.000 jiwa. Selama 200 tahun tercatat dalam Guiness Book of Record sebagai ” The Great Volcanic Eruption in History “  Tiga kerajaan kecil di Sumbawa : Tambora, Sanggar dan Pekat terkubur oleh endapan lahar dengan ketebalan rata-rata 3 meter. Suara letusannya terdengar jelas di Jakarta yang jaraknya kl 2.600 km dari Gn Tambora.  Tahun 1815 di Eropa dikenal dengan sebutan ” The Year Without Summer ” (tahun tanpa musim panas) karena langit Eropa tertutup debu dari Gn. Tambora. Kekalahan pasukan Napoleon Bonaparte dari Perancis atas pasukan Inggris dan Prusia di lembah Waterloo Belgia, juga tidak lepas dari efek tidak langsung dari letusan Gn. Tambora. Napoleon mengundurkan jam serangan karena langit gelap yang Ia kira akan turun hujan, padahal gelap bukan mau hujan tapi akibat debu Gn Tambora. Setengah hari tidak bergerak keburu dikepung pasukan sekutu, Petang 18 Juni 1815 ia terjepit pasukan Inggris dan Prusia, akhirnya kalah. Ranking ketiga, letusan Gn. Thera di Kep.Kreta, di wilayah Mediterania di Laut Tengah. Meletus tahun 1630 SM. Gn. Ini telah mengubur desa-desa di sekitar kepulauan tersebut.  Ranking empat,  Letusan Gn. Karakatau di Selat Sunda, yang meletus 26-28 Agustus 1883. Simon Winchester menulis buku berjudul  Karakatau The Day The World Exploded (2003) , digambarkan bahwa Gn.Karakatau waktu itu tinginya hanya 816 mt dari permukaan laut, tapi api yang menyembur dari kawah Gn. Tersebut mencapai ketinggian kl. 8000 mt. sehingga bisa dilihat di kota Semarang. 150 km2 hangus, korban jiwa mencapai  36.417 jiwa.  Letusannya diiringi dengan gelombang Tsunami setinggi 36 mtr. Suara letusannya bisa di dengar di Manila (2.900 km), di Pulau Alicespring Australia (3.600 km), dan sayup-sayup sampai bisa didengar di P. Madagaskar – Afrika ( 4.775 km ). Dunia gelap selama 3 hari dan redup hamper selama setahun.

 Al-A’idin wal A’idaat !

 Indonesia juga merupakan kawasan tempat  bertemunya tiga lempeng tektonik bumi, yakni : Indo-Australia, Eurasia, dan lempeng Pasifik. Pertemuan Indo-Australia dengan Eurasia sepanjang pantai barat Sumatra, pantai Selatan Jawa hingga Nusatenggara. Sementara Lempeng Indo-Australia denga Pasifik bertemu di Papua dan Maluku sebelah Utara. Ini berakibat Negara kita termasuk yang rawan terhadap gempa tektonik bersama-sama dengan : Iran, India, Pakistan, Bangladesh, Cina, Korea, Jepang, Pilipina, Venezuela, Mexico, AS dan beberapa Negara Eropa Timur. Kita masih belum bisa melupakan Gempa yang meluluh lantakkan Aceh  26/12-2004, 8,9 SR dengan Tsunami 40 mt, korban jiwa + 200.000 orang,  disusul 28/3-2005 , Gempa Nias dgn 8,2 SR, korban jiwa 622 orang, disusul gempa Yogya dan Bantul tgl. 27/5-2006, hanya dengan 5,9 SR tapi karena episentrum gempa di darat, korban jiwa 6.324 orang dengan kerusakan sangat parah.

Bencana gempa Ramadan kemarin masih bisa dibilang utung terjadi di siang hari, coba renungkan peringatan Allah :

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan/bencana dari kami kepada mereka di malam hari ketika mereka sedanglelap tidur? ( QS.Al-A’raf : 96 )

Bagi orang beriman, ketika terjadi gempa bumi, maka ingatan akan menerawang kelak saat kiamat terjadi, yang digambarkan oleh Allah swt dalam QS. Al-Haj : 1-2 :

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya gempa pada hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat.  pada hari itu kamu akan melihat  semua wanita yang sedang menyusui melalaikan  anak yang disusuinya dan semua wanita yang hamil melahirkan kandungannya (sebelum waktunya),  dan kamu akan melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal Sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah  yg  sangat kerasnya.

Kepedulian dan uluran tangan kita bagi yang tertimpa akibat buruk dari musibah itu, terutama mereka yang rumahnya runtuh bahkan rata dengan tanah, merupakan panggilan nurani dan iman kita. Nabi saw. Mengingatkan :  Man lam yahtamma bi amril muslimiena, fa laisa minna – HR. Muslim – Di hadits lain Nabi saw menjanjikan :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَىٰ مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً، سَتَرَهُ اللّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَاللّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.

ر مسلم  عن ابي هريرة

Al-Aidien wal-Aidaat, Allahu Akbar 2x Wa Lillahilhamdu.

Musibah lain yang sedang menimpa dunia Islam dan muslimien saat ini adalah  “Fitnah Teroris”  yang sedang digiring dan dialamatkan kepada Islam dan muslimien, serta Ghazwul Fikri ( perang pemikiran ) yang  nampaknya disetting secara sistemik dan massif oleh kekuatan global yang anti Islam. Rasulullah saw pernah mengingatkan kita :

«يُوشِكُ الأُمَمُ أنْ تَدَاعى عَليْكُم كَمَا تَدَاعى الأكَلَةُ إلَى قَصْعَتِهَا، فقالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قالَ: بَلْ أنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثُيرٌ، وَلَكِنَّكُم غُنَاءُ كَغُنَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِ عَنَّ الله مِنْ صُدُورِ عَدُوكُمْ المَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ الله في قُلُوبِكُم الَوَهْنَ، فقالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ الله وَمَا الْوَهْنُ؟ قالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ المَوْتِ». ر ابو داود عن ثوبان

” Hampir tiba dimana banyak bangsa akan mengeroyok kamu (umat Islam), sebagaimana banyak orang mengerubuti makanan dalam satu wadah.” Seorang sahabat bertanya :” Apakah disebabkan kita sedikit jumlahnya waktu itu ?”. Nabi saw menjawab :” Justru kamu sekalian waktu itu jumlahnya banyak, tapi kondisi kalian (sangat lemah ) seperti buih di sungai. Dan sesungguhnya Allah telah menghilangkan rasa takut dari musuh-musuhmu, dan Allah telah menyimpan dalam hati kalian “Al- Wahan “. Sahabat bertanya :” Ya Rasulullah apakah al-wahan itu ?” Nabi saw menjawab : “(al-wahan itu) cinta dunia dan takut mati.”  HR. Abu Daud 4 : No. 4297 dari Tsauban ra.

 Apa yang Rasulullah saw ingatkan sekian ratus tahun yang lalu, saat ini kita menyaksikan dan merasakan kenyataannya. Umat Islam di berbagai belahan dunia telah menjadi sasaran permusuhan bahkan serangan bangsa-bangsa lain . kita lihat Irak dan Afganistan misalnya yang tercabik-cabik akibat agresi dan arogansi AS dan sekutunya, dengan alasan yang dibuat-buat .  War against Terorism ( Perang melawan terorisme ) telah bergeser menjadi war against Islam ( perang melawan Islam ).

 Al-A’idin wal A’idaat,

Teror berasal dari kata “ Terere “ bahasa latin , yang artinya menakut-nakuti atau yang menyebabkan ketakutan.  Jadi “ Teroris “ adalah orang atau kelompok orang atau bahkan negara dan penguasa yang membuat orang lain ketakutan. Jadi siapapun dan dimanapun pada dasarnya bisa melakukan aksi teror.

Jurgensmeyer dalam bukunya  ” Terror in the Mind of God, The Global Rise of Religious Violence “ menjelaskan bahwa batas antara teroris dengan bukan teroris sangatlah tipis, tergantung  dari sudut pandang mana dan siapa yang menilai. Seseorang  seperti halnya Usamah bin Laden atau Imam Samudra oleh suatu negara dianggap sebagai seorang teroris, tapi oleh para pengikutnya, santrinya dan masyarakat yang bersimpati kepadanya mereka justru dipandang sebagai mujahid atau pejuang.  Sebaliknya dengan Ariel Sharon dan George W Bush oleh para pendukungnya mungkin dianggap sebagai pejuang HAM dan perdamaian, tapi oleh bangsa lain seperti Palestina, Irak, Afganistan, dsb. Justru keduanya diangap sebagai Super Teroris. Tapi karena media massa terkemuka baik nasional maupun internasional mayoritas dikuasai Yahudi dan Kristen, maka sekarang ini stigma atau tuduhan  teroris itu sepertinya identik dengan Islam. Bisa dikatakan dewasa ini sedang terjadi viktimisasi dan stigmanisasi atau pencitraan buruk terhadap Islam sebagai teroris. Sedang berlangsung perang menggempur Islam dengan selubung dan dalih terorisme. Seperti dikatakan oleh Prof. Richard Bulliet dari University of Columbia : “ We at some point are going to reach a threshold where people no longer need evidence to believe in a generic terrorist threat, from religious muslim fanatics “.  (Orang  suatu ketika akan percaya dan meyakini tanpa perlu bukti apapun, bahwa ancaman teroris selalu datang dari orang muslim fanatik. ). Apa yang dikatakan oleh Prof. Richard tersebut sekarang sudah jadi kenyataan, ketika terjadi aksi teror, telunjuk orang selalu dialamatkan kepada Islam atau gerakan Islam. Padahal seperti dikatakan Noam Chomsky dalam buku  ” 11 September “ (2001 ) : ” We should not forget that the US itself is a leading terrorist state “. ( Kita tidak boleh lupa bahwa AS sendiri adalah biang dari negara teroris ).

 Pasca peristiwa 11 September 2001, stigma teroris berbalik 180 derajat, War Against Terrorism bergeser menjadi War Against Islam. masyarakat internasional seperti terjangkit penyakit paranoid, kemudian menabuh genderang perang dan melakukan perburuan internasional. Proses perburuan-pun berlangsung begitu cepat, sebelum kita sempat memahaminya. Dunia diilustrasikan sedang berada diujung kiamat oleh ancaman senjata nuklir dan biologi kaum teroris. Bangsa Afganistan yang mayoritas rakyatnya buta huruf, dengan usia harapan hidup rata-rata 48 tahun, dengan kondisi ekonomi termiskin di Asia, akibat perang melawan imperialisme Uni Soviet dan perang saudara yang berkepanjangan, telah menjadi korban pertama dari perburuan itu.  Disusul Irak sebagai korban berikutnya, kekejaman dan kebrutalan dengan kedok demokrasi dan kebebasan berlangsung setiap saat. Sentimen anti Islam terus dikobarkan. Bernard Lewis, dalam artikelnya berjudul “ The Roots of Muslim Rage “ yang dimuat dalam jurnal  Atlantic Monthly, September 1990, Samuel P. Huntington dalam buku terkenalnya  The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order  ( 1993 ) dan buku barunya  Who Are We ? : The Chalenges to America’s National Identity  ( 2004 ), Keduanya telah menempatkan Islam sebagai musuh utama “ Barat “ ( baca : Western Christendom = Dunia Kristen Barat ). Selain Afganistan dan Irak, Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim juga dibidik sebagai sarang teroris, sarangnya Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyyah (JI). Bantahan yang dikemukakan oleh banyak pihak, bahwa Indonesia bukanlah sarang teroris seakan dijawab  dengan  rentetan Bom di Indonesia mulai dari Bom Bali I ( 12 Oktober 2002 )  hingga Bom JW Marriott dan Ritz Carlton (17 Juli 2009 ). Diakui atau tidak, sebagian pelakunya adalah aktifis masjid, guru ngaji, alumni pesantren, dengan argumen dalam rangka  jihad. Sehingga kata “Jihad” kemudian banyak digugat, bahkan banyak yang kemudian menjadi  alergi menyebut dan mendengarnya. Buku-buku tentang jihad-pun akan diteliti ulang. Bahkan ada petinggi BIN yang mengusulkan agar buku-buku karya : Sayyid Qutub, Muhammad Qutub, Hassan Al-Banna, dsb supaya dilarang, bahkan dengan  tendensius telah mengaitkan terorisme dengan Wahabisme. Sepertinya ada  setting atau upaya untuk membangkitkan sentimen anti Wahabi.  Bahkan awal Ramadan kemarin Polri juga berencana mengambil langkah kontroversial untuk mengawasi kegiatan ceramah Ramadan dengan menempatkan aparat kepolisian di tiap mesjid atau pesantren. Tapi kemudian diralat oleh Kapolri setelah muncul banayak reaksi dari berbagai pihak. Jika langkah seperti itu jadi dilaksanakan, akan menjadi sebuah pengulangan sejarah terror oleh Negara model Orde Baru dulu. Terakhir ada fenomena orang berjubah, bercadar dan berjengotpun dicurigai. Ada upaya pencitraan sistemik  yang terus menerus dengan target menimbulkan stigma negatif terhadap Islam.

Apa yang pernah dikatakan DR. Joseph Goebbels, juru propaganda Nazi dan Hitler bahwa jika kita mengulang-ngulang kebohongan sesering mungkin, dan dengan keteguhan, rakyat akan mempercayai kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran. Pemerintah George W. Bush dibantu oleh media massa yang patuh telah membuktikan keampuhan kata-kata DR. Joseph Goebbles tersebut. Contohnya dalam kasus Irak di bawah regim Sadam Husein yang dituding memproduksi senjata pemusnah massal, mendukung al-Qaeda, dsb. Sehingga para pemimpin dunia banyak yang percaya dan mendukung langkah agresi AS dan sekutunya ke Irak, padahal di kemudian hari terbukti bahwa klaim  dan tudingan regim AS itu dusta belaka.  Hampir sepanjang sejarah, mainstream pers di Amerika dengan patuh mengambil peran sebagai unquestioning propagandists for the establishment ( corong setia bagi penguasa ). Demikian juga pers di Indonesia, seperti dikatakan Farid Gaban, direktur Yayasan Pena Indonesia, pers telah menjadi unquestioning propagandists bagi polisi, BIN, Gedung Putih, dalam kasus Jemaah Islamiyyah (JI) . Proses stigmanisasi  terjadi tanpa bisa dibendung, karena semua sumber berita datang dari saru pintu yakni aparat kepolisisan. Sementara wartawan dan masyarakat tidak nampak upaya utk melakukan verifikasi terhadap klaim atau penjelasan polisi. Sebagain besar berita tentang terorisme bersumber dari polisi. Kebenaran berita menjadi bertumpu pada kredibilitas polisi. Sementara wartawan dan media massa sepertinya siap merendahkan martabatnya sekedar menjadi trashbin (keranjang sampah)  aparat tanpa upaya melakukan verifikasi atas klaim polisi.  Dari  mana datangnya sebutan Jemaah Islamiyah ? Bukankah sebalik dari Jemaaah Islamiyah adalah Jemaah Kafiriyah ? Tidakkah Jemaah Islamiyyah itu sebuah stigmanisasi yang dipublikasikan secara berulang-ulang lalu diterima sebagai sebuah fakta, tanpa ada upaya mengklarifikasi dan mengkritisi informasi polisi tersebut ?

Al-A’idin wal A’idaat,

Kita tidak sedang membantah kenyataan soal pelaku teroris di Indonesia yang sebagian besarnya  berasal dari kelompok Islam radikal yang fikirannya telah dikendalikan oleh gejala miopia atau penyempitan cara pandang dalam memaknai jihad. Mereka tanpa menyadari telah menari dengan tabuhan gendang dari negara yang paling mereka musuhi yakni AS. Mereka merasa berjihad  dengan bom bunuh diri ( bom istisyhad ) tetapi hakekatnya malah membuat lawan-lawannya (AS) tertawa karena mendapat pembenaran dari klaim atau tudingan mereka bahwa Islam identik dengan teroris. Bahkan tidak mustahil para pelaku terror itu tidak menyadari bahwa mereka telah masuk dalam grand scenario kekuatan anti Islam untuk mendeskriditkan Islam dengan mengeksploitasi semangat jihad mereka. Mereka tidak menyadari, apa yang telah mereka perbuat telah membawa dampak yang serius terhadap citra Islam dan muslimin. Sehingga Dunia nampaknya makin tidak beri’tikad baik terhadap Islam, dan iklim serupa juga menjangkiti mereka yang mengaku muslim, tapi tidak apa! Silahkan pengaruhi terus orang di muka bumi ini untuk membenci, mencurigai, bahkan meninggalkan Islam. Islam akan tetap Islam, tidak akan pernah berubah seincipun, Laa Raiba Fihi,  Insya Allah.

Al-A’idin wal A’idaat,

Serangan terhadap Islam dan muslimin juga berlangsung di lapangan pemikiran, Ghazwul Fikri.  Dalam rangka menghancurkan Islam dari dalam juga mereka lakukan dengan massif dan sistemik dengan memanfaatkan penyakit   ” Hubbud dunya ” kaum intelektual dan cendekiawan muslim, melalui upaya-upaya sekulerisasi dan liberalisasi Islam.

Sekulerisme secara etimologis berasal dari bahasa Latin Saeculum yang aslinya berarti ” Zaman sekarang ini ” ( the present age ). Secara  terminologis sekulerisme mengacu kepada doktrin atau praktik yang menafikan peran agama dalam fungsi-fungsi Negara. Dalam Webster Dictionary  sekulerisme didefinisikan : ” A System of doctrines and practices that rejects any form of religious faith and worship. “ ( Sebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apapun dari keimanan dan upacara keagamaan ).  Jadi Sekulerisme  adalah paham pemisahan agama dari kehidupan  (fashlud dien ‘anil hayat ), yakni pemisahan agama dari segala aspek kehidupan, yang dengan sendirinya akan melahirkan pemisahan agama dari Negara dan politik. Agama hanya diakui eksistensinya  pada urusan privat atau pribadi saja, hubungan manusia dengan tuhannya. Tapi agama tidak boleh dibawa-bawa ke wilayah publik, yang mengatur hubungan antar manusia, seperti masalah sosial, politik, ekonomi, dsb.

Liberalisme juga berasal dari bahasa Latin, liber, yang artinya ‘bebas’ atau ‘merdeka’. Sebagai adjektif, kata ‘liberal’ dipakai untuk menunjuk sikap anti feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka (independent), berpikiran luas lagi terbuka (open-minded). Dalam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan kecenderungan yang berlawanan dengan dan menentang ‘mati-matian’ sentralisasi dan absolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik menggantikan kerajaan-kerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini.

Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebas dimana intervensi pemerintah dalam perekonomian dibatasi, jika tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal ini dan pada batasan tertentu, liberalisme identik dengan kapitalisme. Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi wanita, penyetaraan gender, pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan. Sedangkan dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak dan selera masing-masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat. Artinya, konsep amar ma’ruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama suka. Maka tidak salah jika liberalisme dipadankan dengan sekularisme

Sebagai contoh, dampak buruk dari liberalisasi di bidang sosial budaya bisa kita simak artikel di majalah The Economist edisi 28/2-5/3-2004 yang menyebutkan : United State is the most religious countries in the industrialized world (Amerika adalah Negara paling religius atau agamis di era / dunia industri ), 80 persen penduduk Amerika mengaku percaya kepada Tuhan dan 40 persennya mengaku pergi ke gereja setiap minggu. Dalam wang dollar tertulis kalimat :   In God We Trust   ( Kami percaya kepada Tuhan ).  Namun karena kuatnya sekulerisme, dimana agama itu hanya dianggap sebagai urusan pribadi dengan Tuhan, tidak boleh dibawa ke wilayah publik, tidak boleh dicampur aduk dengan kehidupan sosial kemasyarakatan dan bernegara ; maka budaya yang berkembang adalah budaya hedonistik, konsumeris, narkotikis dan permisif. . Sebuah kehidupan yang longgar terhadap nilai-nilai moral dan agama, kesenangan duniawi menjadi tujuan utama , sehingga tidak heran jika  HIV/AIDS Surveilance Report 1/12-2003 menyebutkan bahwa penderita AIDS yang terditeksi oleh Departemen Kesehatan AS sampai tahun 2002 sebanya 886.575 orang dan yang mati karena AIDS sebanyak 501.669 orang.  Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) memperkirakan 60 persen peredaran narkoba di dunia ada di Amerika.  Dari sekian banyak kegiatan bisnis AS :   senjata, elektronik, pesawat udara, dsb. maka bisnis prostitusi menempati rangking keempat. Surat Kabar Al-Ahram Mesir edisi no. 39713 menginformasikan bahwa di AS tindak kekerasan terjadi tiap 17 detik, pencurian kendaraan tiap 18 detik, pembunuhan terjadi tiap 21 menit, perampokan bersenjata tiap 4 jam, perampokan ke rumah tiap 10 jam.  Lebih dari satu juta ABG ( 12-13 tahun ) pertahun  menjadi korban pemerkosaan.

Dengan dalih globalisasi, demokratisasi dan Penegakkan HAM , Imperialism culture (Imperialisme budaya ) dan sekulerisasi telah mewarnai berbagai aspek kehidupan , politik, sosial, ekonomi, budaya dan bahkan agama, dan telah mewabah ke berbagai belahan dunia,   tak terkecuali negara-negara berpenghuni mayoriytas muslim, termasuk Indonesia.

Liberalisasi di bidang politik misalnya Politik dianggap atau dinilai sekedar seni meraih dan mempertahankan kekuasaan, dengan segala cara. Politik harus dibebaskan dari moralitas, yang penting berkuasa. Demi meraih kekuasaan, berbagai cara kotor dan tidak terpujipun ditempuhnya. Tipu sana tipu sini, sogak sana sogok sini, bukan soal lagi. Bahkan, jika perlu, teror pun digunakan, demi kekuasaan. Prinsipnya : Raih ,rebut dan pertahankan kekuasaan, dengan cara apa pun!

Itulah politik bebas nilai. Sebuah bentuk politik yang secara sistematis diteorikan oleh Niccolo Machiavelli. Politik dibebaskan dari nilai-nilai moral dan agama.  Dalam sejarah pemikiran politik, nama Machiavelli memang monumental. Oleh para pemikir di Barat kemudian, karya Machiaveli, The Prince, dianggap memiliki nilai yang tinggi yang memiliki pengaruh besar dalam social politik umat manusia. Sebuah buku berjudul “World Masterpieces” yang diterbitkan oleh WW Norton&Company, New York, tahun 1974 (cetakan kelima) menempatkan karya Machiaveli ini sebagai salah satu karya besar dalam sejarah umat manusia yang muncul di zaman renaissance.
Perjalanan hidup Machiavelli sendiri cukup menyedihkan. Ia pernah ditahan dan disiksa. Ia  dituduh melawan pemerintah Italia sekitar tahun 1495. Ia menulis The Prince pada umur 44 tahun, dan baru dipublikasikan tahun 1532, lima tahun setelah kematiannya. Machiavelli dianggap sebagai salah satu pemikir yang mengajak penguasa untuk berpikir praktis demi mempertahankan kekuasaannya, dan melepaskan nilai-nilai moral yang justru dapat menjatuhkan kekuasannya. Karena itu, banyak yang memberikan predikat sebagai “amoral”. Tujuan utama dari suatu pemerintahan adalah “survival” (mempertahankan kekuasaan).

Politik semacam itu melampaui nilai-nilai moral keagamaan. Dengan membuang  faktor “baik dan buruk” dalam kancah politik, Machiavelli memberikan saran, bahwa seorang penguasa boleh menggunakan cara apa saja untuk menyelamatkan negara. Penguasa-penguasa yang sukses, kata dia, selalu bertentangan dengan pertimbangan moral dan keagamaan. Maka, kata Machiavelli lagi, “Jika situasi menjamin, penguasa dapat melanggar perjanjian dengan negara lain, dan melakukan kekejaman dan terror.    Sejarawan Marvin Perry, mencatat dalam bukunya, Western Civilization: A Brief History, (New York: Houghton Mifflin Company, 1997), bahwa nilai penting dari pemikiran Machiaveli adalah usahanya melepaskan pemikiran politik dari kerangka agama dan meletakkan politik semata-mata urusan ilmuwan politik.  “In secularizing and rationalizing political philosophy, he initiated a trend  of thought that we recognized as distinctly modern,” tulis Perry. Jadi, sumbangan terbesar Machiavelli adalah menghilangkan faktor agama dalam politik, dengan memandang masalah politik dan negara, semata-mata sebagai faktor saintifik yang rasional. Inilah yang dipandang sebagai politik modern

Apa yang dilakukan Machiaveli yang kemudian disebut sebagai “politik modern” tentu saja tak lepas dari arus besar renaissance (kelahiran kembali) masyarakat Eropa, yang selama hampir 1.000 tahun hidup di bawah sstem politik teokrasi (kekuasaan Tuhan). Tuhan – melalui wakilnya di bumi – mendominasi segala aspek kehidupan, termasuk politik. Pemerintahan dianggap tidak sah, jika tidak disahkan oleh wakil Tuhan. Contoh yang menarik terjadi pada konflik antara Paus Gregory VII dan Raja Henry IV pada paruh abad ke-11. Konflik bermula ketika Gregory melarang keterlibatan Raja dalam pengangkatan pejabat gereja. Paus berargumen, bahwa konsep Gereja sebagai monarkhi berasal dari tradisi Imperium Romawi. Paus sendiri yang berhak mengangkat dan memberhentikan para uskup, mengadakan suatu Sidang Umum dan mengeluarkan peraturan moral dan keagamaan. Jika Paus mengucilkan seorang penguasa, maka penguasa itu berarti telah berdiri di luar tubuh Kekristenan, dan karena itu ia tidak dapat menjadi penguasa di wilayah Kristen (Christendom). Raja Henry IV menolak klaim Paus tersebut, dan menyatakan bahwa kekuasaan raja juga datang langsung dari Tuhan. Menghadapi tentangan itu, Paus menyerukan kepatuhan pasif terhadap Henry IV. Pada akhir pertarungan, Henry  IV takluk dan dipaksa menemui Paus Gregory di Canossa pada 1077. Paus kemudian meringankan hukuman atas Henry tetapi tidak memulihkan kekuasaannya. Kasus ini menunjukkan keefektivan kekuasaan Paus atas pemerintah. Institusi kepausan, meskipun tanpa tentara, mampu melakukan pengucilan terhadap Raja yang sangat besar kekuasaannya. Dominasi kekuasaan kaum agamawan dalam politik kemudian menyulut berbagai protes.  Tahun 1887, Lord Acton seperti menyindir  hegemoni kekuasaan agama dan menulis surat kepada Bishop Mandell Creighton. Isinya antara lain: “All power tends to corrupt; and absolute power corrupts absolutely.”  ( Semua penguasa cenderung korup, dan penguasa otoriter sudah pasti korup ).

Berbagai penyimpangan sistem teokrasi kemudian melahirkan semangat pemberontakan terhadap agama. Revolusi Perancis (1789) yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”, secara terbuka menyingkirkan – bukan hanya sistem monarkhi – tetapi juga dominasi kaum agamawan dalam politik. Sebelumnya, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan.  Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Perancis.
Kekeliruan sebagian tokoh agama dalam politik yang menindas rakyat akhirnya memunculkan trauma masyarakat Barat terhadap peran agama dalam politik. Bahkan, kemudian muncul fenomena “anti-clergicalism/kependetaan” di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu:  “Berhati-hatilah, jika anda berada didepan wanita, hatilah-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a women if you are in front of her, a mule if you are behind it, and a priest wether you are in front or behind).”
Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.

Dalam prroses Pemilihan Umum Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden beberapa waktu lalu, di Indonesia, kita menyaksikan bagaimana parpol-parpol Islam atau parpol berbasis masa Islam, juga masyarakat pemilihnya ada trends tidak lagi mengedepankan aspek-aspek ideology, nilai-nilai agama dan moral, melainkan lebih mementingkan aspek materi dan kekuasaan semata.

Liberalisasi di bidang agama telah lama menjangkiti Agama Yahudi, sehingga saat ini Liberal Judaism (Yahudi Liberal) secara resmi telah masuk dalam salah satu aliran dalam agama Yahudi. Demikian juga Kristen, liberalisasi dalam agama Kristen  sudah sangat jauh dan parah.

Agama Kristen mulai bersinar di Eropa ketika pada tahun 313, Kaisar Konstantin mengeluarkan surat perintah (Edik) yang isinya memberi kebebasan warga Romawi untuk memeluk agama Kristen. Tahun 380 Kristen dijadikan sebagai agama negara oleh Kaisar Theodosius. Menurut Edik Theodosius, semua warga negara Romawi diwajibkan menjadi anggota gereja Katolik. Agama-agama di luar itu dilarang. Bahkan, sekte-sekte Kristen di luar “gereja resmi” pun dilarang. Dengan berbagai keistimewaan yang dinikmatinya, Kristen kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Akan tetapi, Kristen telah tergerus oleh arus yang tak dapat dihindarinya, yaitu sekularisasi dan liberalisasi. Jika dicermati lebih jauh, perekembangan gereja-gereja di Eropa kini sudah memprihatinkan. Seorang aktivis Kristen asal Bandung memaparkan dengan jelas kehancuran gereja-gereja di Eropa dalam bukunya yang berjudul Gereja Modern, Mau ke Mana? (1995). Kristen benar-benar kelabakan dihantam nilai-nilai sekularisme, modernisme, liberalisme, dan ‘klenikisme’.

Di Amsterdam, misalnya, 200 tahun lalu 99% penduduknya beragama Kristen. Kini tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja. Mayoritas dmereka sudah sekuler. Di Perancis yang 95% penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13%-nya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Di Jerman pata tahun 1987, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya mengatakan bahwa agama sudah tidak diperlukan lagi. Di Finlandia, yang 97% Kristen, hanya 3% yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90% Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3% yang rutin ke gereja tiap minggu. Masyarakat Kristen Eropa juga tergila-gila pada paranormal, mengalahkan kepercayaan mereka pada pendeta atau imam Katolik. Di Jerman Barat–sebelum bersatu dengan Jerman Timur–terdapat 30.000 pendeta. Tetapi, jumlah paranormal (witchcraft) mencapai 90.000 orang. Di Perancis terdapat 26.000 imam Katolik, tetapi jumlah peramal bintang (astrolog) yang terdaftar mencapai 40.000 orang.

 Sejumlah gereja sudah mulai menerima praktik-praktik homoseksualitas. Eric James, seorang pejabat gereja Inggris, dalam bukunya berjudul Homosexuality and a Pastoral Church, mengimbau agar gereja memberikan toleransi pada kehidupan homoseksual dan mengizinkan perkawinan homoseksual antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita.

Sejumlah negara Barat juga telah melakukan “revolusi jingga”, mereka secara resmi telah mengesahkan perkawinan sejenis. Di berbagai negara Barat, praktik homoseksual bukanlah dianggap sebagai kejahatan, begitu juga praktik-praktik perzinaan, minuman keras, pornografi, dan sebagainya. Barat tidak mengenal sistem dan standar nilai (baik-buruk) yang pasti. Semua serba relatif: diserahkan kepada “kesepakatan” dan “kepantasan” umum yang berlaku. Maka, orang berzina, menenggak alkohol, mempertontonkan aurat, dan sejenisnya bukanlah dipandang sebagai suatu kejahatan, kecuali jika masyarakat menganggapnya jahat. Homoseksual dianggap baik dan disahkan oleh negara. Bahkan, para pastor gereja Anglikan di New Hampshire AS telah sepakat mengangkat seorang  homoseks bernama Gene Robinson pada November 2003.sebagai Uskup.

Liberalisasi juga telah menjangkiti Islam.  Di Indonesia liberalisasi Islam sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an. Secara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi: (1) liberalisasi bidang aqidah, dengan penyebaran pluralisme agama, (2) liberalisasi bidang syariah, dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan (3) liberalisasi konsep wahyu, dengan melakukan dekonstruksi terhadap Al-Qur’an.

(1) Liberalisasi Aqidah Islam: Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham Pluralisme Agama. Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga karena kerelatifannya, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya sendiri yang lebih benar dari agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.

Pluralisme, sebuah teologi yang muncul dan didesain dalam setting sosial-politik humanisme sekuler Barat yang bermuara pada tatanan demokrasi liberal.  Pluralisme ingin tampil sebagai klaim kebenaran baru yang humanis, ramah, santun, toleran, cerdas, dan demokratis. Hal ini dikatakan oleh tokohnya, John Hick.  Semua agama, baik yang teistik maupun non-teistik, dianggap sebagai sama, sebagi ruang atau jalan yang bisa memberikan keselamatan, kebebasan, dan pencerahan, semua agama benar. Karena pada dasarnya semua agama merupakan respon yang beragam terhadap hakikat ketuhanan yang sama.  Agama dianggap sebagai pengalaman keagamaan. Kemungkinan datangnya agama dari Tuhan atau Dzat Yang Maha Agung dinafikan dan ditolak mentah-mentah. Tokoh seperti Joachim Wach, seorang ahli perbandingan agama kontemporer bahkan mendefinisikan bahwa pengalaman keagamaan sebagai agama itu sendiri. Lahirlah kesimpulan bahwa semua agama sama secara penuh tanpa ada yang lebih benar daripada yang lain. Sebuah kesimpulan yang menyulitkan mereka sendiri, ketika muncul pertanyaan : “ Apakah agama Kristen, dan Islam sama persis dengan agama-agama primitif dan paganis ( penyembah berhala ) yang kanibalistik ?”

Dalam wacana pemikiran Islam , Pluralisme Agama masih merupakan hal baru dan tidak memiliki akar idiologis dan teologis yang kuat. Pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh penetrasi kultur Barat. Malah ada yang menyebut merupakan rekayasa Freemasonry Internasional, sebuah organisasi Yahudi yang sejak awal mengusung slogan :  “ Liberty, Egality dan Fraternity” (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan ), dan mempropagandakan persaudaraan universal tanpa memandang etnis, bangsa, dan agama. Organisasi ini muncul sebagai ‘baju’ untuk menyerukan penyatuan tiga agama ( Yahudi, Nashrani dan Islam ) dengan agama universal dan mengikis belenggu fanatisme terhadap agamanya.  Dalam Islam Wacana Pluralisme ini baru muncul pasca perang Dunia II, ketika terbuka kesempatan bagi generasi muda muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat, terutama mereka yang mengambil jurusan Studi Islam dengan dosen-dosen Yahudi dan Krsiten atau Para Orientalis. Dalam waktu yang bersamaan, gagasan Pluralisme agama ini menembus dan menyusup ke dalam wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir-pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon ( Abdul Wahid Yahya ) dan Frithhjof Schon ( Isa Nuruddin Ahmad ). Buku-buku mereka seperti The Transcendent Unity of Religion, sangat sarat dengan tesis-tesis  atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh dan berkembanganya wacana pluralisme agama.  Sayyed Hossein Nasr, seorang tokoh  Syi’ah, termasuk yang ikut mempopulerkan teologi Pluralisme.  Nasr telah menuangkan tesisinya tentang Pluralisme agama dalam kemasan Sophia perennis atau perennial wisdom ( Al-Hikmat al-Khalidah atau kebenaran abadi ), yaitu sebuah gagasan menghidupkan kembali kesatuan metafisikal ( metaphysical unity ) yang tersembunyi di balik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal sejak zaman Nabi Adam as. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga telah memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran yang hakiki dan abadi. Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada simbol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu.

Budhy Munawar Rahman , dosen filsafat di Universitas Paramadina Jakarta, dalam tulisannya di situs www.Islamlib.com, 13 Januari 2002 , Ia mencoba memaksakan teologi Pluralis dengan melihat agama-agama lain sebanding dengan agama Islam. Terhadap QS. Ali Imran : 19 dan 85 dia mengajak orang-orang untuk memahaminya dengan semangat inklusivisme, semangat  “Agama Universal “ dimana Islam diberi makna sebagai agama yang penuh kepasrahan kepada Allah swt. Sehingga semua agama bisa dimasukkan ke dalamnya, asalkan berpasrah diri kepada Allah.

Muhammad Ali, Dosen UIN Jakarta dalam tulisannya di harian  Republika, tgl 14 Maret 2002  dalam judul Hermeneutika dan Pluralisme Agama, juga mengajak agar tidak memahami QS. Ali Imran : 19 dan 85 itu dalam bingkai teologi eksklusif yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui Islam. Ayat-ayat itu harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi Inklusif.  Nurcholis Madjid yang merupakan salah seorang tokoh pengusung telogi Pluralisme dalam kata pengantar  buku Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman menyatakan : “ Kendatipun cara, metoda atau jalan keber-agamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah yang Maha Esa. “ Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa ia mengakui keberadaan dan kebenaran semua agama, dan menyejajarkan satu agama dengan agama lainnya, sehingga Islam sama dengan agama Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Majusi, Shinto, Konghuchu, dsb ? Karena semua agama menuju tuhan yang sama dengan cara yang berbeda.  Quraisy Shihab dalam mengomentari QS. Al-Baqarah : 120 yang menyatakan : “ Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridla kepadamu sampai engkau  mengikuti agama mereka “ menyatakan bahwa ayat tersebut dikhususkan kepada orang Yahudi dan Kristen tertentu yang hidup pada zaman Nabi Muhammad saw, dan bukan kepada umat Kristen dan Yahudi secara keseluruhan. Demikian juga tetang izin Allah untuk memerangi orang kafir, itu bukan diperuntukkan terhadap Yahudi dan Kristen yang termasuk Ahlul Kitab. ( Pluralitas Agama, Kerukunan dan Keragaman : 26 ).

Paham Pluralisme Agama berakar pada paham relativisme akal dan relativisme iman. Banyak cendekiawan yang sudah termakan paham ini dan ikut-ikutan menjadi agen penyebar paham relativisme ini, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam. Paham relativisme akal dan relativisme iman merupakan virus ganas yang berpotensi menggerogoti daya tahan keimanan seseorang. Dengan paham ini, seseorang menjadi tidak yakin dengan kebenaran agamanya sendiri. Dari paham ini, lahirlah sikap keragu-raguan dalam meyakini kebenaran. Jika seseorang sudah kehilangan keyakinan dalam hidupnya, hidupnya akan terus diombang-ambingkan dengan berbagai ketidakpastian.

Al-A’idin wal-A’idaat,

Lihatlah kehidupan manusia-manusia seperti ini. Simaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga mereka; cermatilah teman-teman dekat mereka;  perhatikan akhir hayat mereka.  Mereka sudah membuang jauh-jauh keimanan dan keyakinan akan nilai-nilai yang abadi, kebenaran yang hakiki. Mereka tidak percaya lagi kepada wahyu Allah, dan menjadikan akal dan hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan. Al-Qur’an sudah menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu ini:

“Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allah mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka, siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jaatsiyah: 23).

Keyakinan akan kebenaran dinul Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah adalah konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Karena itu, para cendekiawan dan ulama perlu menjadikan penanggulangan paham syirik  ini sebagai perjuangan utama, agar jangan sampai 10 tahun lagi paham ini menguasai wacana pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia, sehingga akan lahir dosen-dosen, guru-guru agama, khatib, atau kiyai yang mengajarkan paham persamaan agama ini kepada anak didik dan masyarakat.

(2) Liberalisasi Al-Qur’an : Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “dekonstruksi kitab suci”. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni bidang ini dan menulis satu buku berjudul Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testament.

Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk “melirik” Al-Qur’an dan mengarahkan hal yang sama terhadap Al-Qur’an. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan, “Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”

Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi Al-Qur’an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bible. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum muslimin bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bebas dari kesalahan. Beratus-ratus tahun wacana itu hanya berkembang di lingkungan orientalis Yahudi dan Kristen. Tetapi, saat ini suara-suara yang menghujat Al-Qur’an justru lahir dari lingkungan perguruan tinggi Islam. Dari kalangan cendekiawan muslim.  Mereka menjiplak dan mengulang-ulang apa yang dahulu pernah disuarakan para orientalis.

Di dalam buku Menggugat Otentisitas Wahyu, hasil tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang ditulis oleh Aksin Wijaya, ditulis secara terang-terangan hujatan terhadap kitab suci Al-Qur’an. “Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dahulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Aksi Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan [Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004], hlm. 123).

Aktivis Islam Liberal, Dr. Luthfi Assyaukanie, juga berusaha membongkar konsep Islam tentang Al-Qur’an. Ia menulis: “Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa AlQuran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formasilasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan AlQuran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.” (Luthfi Assyaukani, “Merenungkan Sejarah Alquran”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 1).

Pada bagian lain buku terbitan JIL tersebut, ada juga yang menulis, bahwa ‘Al-Qur’an adalah perangkap bangsa Quraisy’, seperti dinyatakan oleh Sumanto Al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang. Ia menulis: “Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan ‘perangkap bangsa Arab’, dan Alquran sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi ‘perangkap’ bangsa Quraisy sebagai suku mayoritas. Artinya, bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain.” (Sumanto Al-Qurtubhy, “Membongkar Teks Ambigu”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed) Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 17). Jadi, di berbagai penerbitan mereka, kalangan liberal dan sejenisnya memang sangat aktif dalam menyerang Al-Qur’an secara terang-terangan.

(3) Liberalisasi Syariat Islam : Inilah aspek yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah pasti dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti dijelaskan Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah “kontekstualisasi ijtihad”. Salah satu hukum yang banyak dijadikan objek liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar-agama, khususnya antara muslimah dengan laki-laki non-muslim.

Dalam buku Fiqih Lintas Agama tertulis: “Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihad dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antara agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena keududukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.” (Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama [Jakarta: Paramadina & The Asia Foundation, 2004], hlm. 164).
Nuryamin Aini, seorang dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta, juga membuat pernyataan yang menggugat hukum perkawinan antar-agama. Ia menulis: “Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fikih yang mendasari larangan bagi perempuan muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim …. Isu yang paling mendasar dari larangan PBA (Perkawinan Beda Agama, red) adalah masalah sosial politik. Hanya saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya larangan PBA itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis.” (Lihat buku Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 220-221).
Dari IAIN Yogyakarta muncul nama Muhidin M. Dahlan, yang menulis buku memoar berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang memuat kata-kata berikut: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.” (Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005, cetakan ke-7).

Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia. “Bentuk riil gerakan yang harus dibangun adalah (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” (Lihat buku Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual [Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005], hlm. 15)

Pada bagian penutup buku tersebut, anak-anak fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut menulis kata-kata yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh seorang muslim pun: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”

Para Pengusung Liberalisme dan Pluralisme ini juga sangat menentang penerapan Syari’at Islam, karena akan mendeskriditkan penganut agama lain, akan menzalimi kaum wanita, banyak syari’at Islam yang dinilainya bertentangan dengan HAM, Demokrasi, Gender Equality  (Kesetaraan Gender) dan Pluralisme. . Ulil Absar Abdalla pengerek bendera JIL pernah mengatakan :  “ Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami “ dan “ mereka “ , antara Hizbullah ( golongan Allah ) dan Hizbus Syaithan ( golongan syetan) adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia.”  Dia juga mengatakan bahwa amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan ‘baju’ yang dipakai, sementara mereka lupa  inti ‘memakai baju’  adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok : penyerahan diri kepada Yanga Maha Benar. Dengan pemikiran ini berarti dia ingin menganulir firman Allah yang membagi manusia menjadi dua golongan, Hizbullah dan Hizbus syaithan seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an :

 وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ – المائدة : 56

 Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.  QS. Al-Maidah : 56

 اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ – المجادلة : 19

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.  QS. Al-Mujadilah : 19

Dengan demikian bagi kaum pluralis  dan liberalis , semua manusia sama, tidak ada mukmin tidak ada kafir, tidak ada manusia tha’at dan tidak ada manusia bejat, mereka telah mengangkat kesesatan dan kekufuran  dan kemusyrikan sejajar dengan hidayah, tauhid dan ketakwaan. Dan pada akhirnya sikap antipati terhadap segala mecam kesesatan dan kemunkaran akan sirna. Menurut slogan kaum pluralis : “ Agama-agama seperti Yahudi, Nashrani dan Islam , ibaratnya seperti keberadaan empat madzhab fiqih di tengah-tengah kaum muslimin, semuanya pada hakikatnya menuju kepada Allah. Dampaknya lainnya dari pemahaman seperti ini, ketika semua agama dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang “ sendiko dawuh “ dengan paham pluralisme ini tidak akan memiliki ghirah atau kecemburuan dalam beragama. Baginya tidak ada keistimewaan pada Islam jika dibanding dengan Kristen misalnya. Karena semua agama sama, dengan tuhan yang sama hanya beda cara memanggil atau menyebut dengan baju dan cara yang beda. Pada saat yang bersamaan , secara finansial para missionaris Kristen yang banyak melakukan pendekatan dakwah dengan finansial, secara logika manusia normal, ketika seseorang harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap benar, tentunya variable lain yang akan dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Mereka akan dengan ringan melepas ‘baju ‘ Islam untuk mendapatkan duit atau materi dengan memakai ‘ baju ‘ Kristen. Dan ini akan merupakan kontribusi atau sumbangan sangat berharga kaum pluralis dan Liberalis bagi suksesnya missi kristenisasi.

Teologi Pluralisme yang diusung kaum Liberalis ini sebenarnya telah ketinggalan zaman, kalau kita memperhatikan pernyataan para pakar sejarah dan teolog Kristen, seperti : 1) Uskup John Shelby Spong dalam bukunya Why Cristianity Must Change or Die ( 1998 ) ( mengapa agama Kristen harus berubah atau akan Mati ) menyatakan: “ Kita harus membebaskan Yesus dari kedudukannya sebagai Juru Selamat…. Ajaran ini harus dicabut dan dibuang. “   2) Reverend DR Charles Francis Potter dalam bukunya The Lost Years of Yesus Revealed ( 1992 ) menyatakan : “ Para pemuka agama Kristen tidak dapat dimaafkan untuk ( memepertuhankan Yesus ) dengan memanfaatkan keterbatasan berfikir orang-orang palestina 2000 tahun yang lalu. “  3) John Davidson dalam bukunya The Gospel of Yesus ( 1995 ) menyatakan : “Barangkali kita ( umat Kristen ) telah tersesat selama 2000 tahun.”   Ketiga contoh di atas memperlihatkan ketiga pakar dan teolog tersebut bukannya mengatakan bahwa agama mereka, Krsiten, adalah agama yang benar, mereka malah mengakui sebaliknya, agama mereka ternyata agama yang salah dan menyesatkan.   John Shelby Spong dalam bukunya Rescuing the Bible From Fundamentalism ( 1991 ) malah menyatakan : “ Dia ( Paus Paulus ) tidak menulis firman Allah, yang dia tulis adalah kata-katanya sendiri yang khusus, penuh keterbatasan serta memiliki kelemahan sebagai ciri seorang manusia. “. Aneh bin ajaibnya  kaum Pluralis liberalis di Indonesia malah ngotot menyatakan bahwa Kristen sama dengan Islam ?

Seorang tokoh JIL dalam Jawa Pos ( 11/1-2003 ) menyatakan : “ Bagi saya All Scriptures are Miraccles “  ( Semua kitab suci adalah mukjizat ), Subhanallah ! Berarti Al-Qur’an bagi dia sejajar dengan kitab Weda dan Bagawad Gita-nya Hindu, Tripitaka-nya Budha, Su Si-nya Konghuchu, Tao The Ching-nya  Taoisme, Darmo Gandul dan Gatholoco-nya Aliran Kebatinan.  Padahal tentang Taurat  saja Allah telah berfirman :

 مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ – النساء : 45

 “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan ( dalam Taurat ) dari tempat-tempatnya”.  QS. An-Nisa : 45

 Tentang Injil yang dikarang oleh para penulisnya , Allah telah menegaskan :

 فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُون – البقرة : 79

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. QS. Al-Baqarah : 79

 Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no 153 yang diberi judul bab oleh Imam An-Nawawi  “ Wujubul Iman bi Risalatin Nabi saw Ila Jami’in Nasi Wa Naskhul Milali bi Millatihi “  menegaskan : “ Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini, baik orang Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa,  pasti ia kan masuk neraka. “

 Allah swt dalam banyak ayat juga telah dengan tegas menyatakan bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir:

 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّة  (6)إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ(7) – البينة

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. QS. Al-Bayyinah : 6-7

 لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار

ٍلَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ – المائدة : 72-73

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. QS. Al-Maidah 72-73

Jika Allah swt dan Rasul-Nya telah menegaskan bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir, beberapa teolog dan pakar sejarah Kristenpun telah menyatakan bahwa agama mereka salah dan menyesatkan, sementara para pengusung dan pejuang Pluralisme agama dengan mendasarkan ajarannya kepada : demokrasi, HAM, gender equality dan Pluralisme masih menganggap dan meyakini  serta mengkampanyekan bahwa semua agama sama, semua kitab suci sama sebagai mukjizat, tuhan yang disembah sama,  sehingga praktis mensejajarkan Allah dengan Yesus, Uzeir, Roh Kudus, Sang Hyang, Sang Budha dan Dewa, agama hanya dianggap baju . Pertanyaannya : “ Masih beragamakah Orang yang seperti ini? Kalau masih, agama apakah itu ?

Al-A’idien wal-A’idaat,

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lilahi alhamdu,

Dari uraian khutbah ini diharapkan kita semua menyadari akan banyaknya tantangan dakwah yang kita hadapi, sehingga kita dituntut untuk merapatkan shaf perjuangan kita. Kita juga semakin menyadari akan bahaya yang ditimbulkan dari gerakan sekulerisasi dan liberalisasi yang dilakukan musuh-musuh Islam dan muslimien dengan mengeksploitasi penyakit Hubuddunya yang telah menjangkiti kalangan intelektual dan cendekiawan muslim, dan jika kita biarkan akan meracuni alam fikiran dan akidah serta akhlak generasi muda muslim ke depan. Semoga Allah swt mengampuni segala kealfaan, kelengahan, dan ketidak pedulian kita akan masalah Islam dan muslimin, dan memberi kekuatan dan kemampuan kepada kita untuk melakukan perlawanan terhadap berbagai perang pemikiran yang membahayakan ini.

Akhirnya mari kita berdo’a

أللهم ربنا اننا ظلمنا انفسنا و ان لم تغفر لنا و ترحمنا لنكوننا من الخاسرين ؛ربنا لا تؤاخذنا ان نسينا او اخطأنا ؛ ربنا لا تزغ قلوبنا بعد اذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة انك انت الوهاب ؛

 اللهم اجعل أول هذا اليوم صلاحا , واوسطه فلاحا , واخراه نجاحا , وأسألك خيري الدنيا والاخرة , يارحم الراحمين

 اللهم انا نسألك الرضى بعد القضى , وبرد العيش بعد الموت , ولذات النظر الى وجهك الكريم , والشوق الى لقائك , فى غير ضراء مضرة ولا فتنة مضلة

 اللهم اصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا , واصلح لنا دنيانا التى فيها معاشنا, واصلح لنا اخرتنا التي اليها معادنا , واجعل الحياة و الحرية زيادة لنا من كل خير, واجعل الموت راحة لنا من كل شر

  اللهم لا تدع لنا ذنبا الا غفرته , ولا عيبا الا سترته , ولا هما الا فرجته , ولا دينا الا قضيته , و لا حاجة من حوائج الدنيا والاخرة هي لك رضا  ولنا صلاح الا قضيتها

 اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات , والمسلمين والمسلمات , اللهم أعز الاسلام 2

والمسلمين, والف بين قلوبهم ,واصلح ذات بينهم , وانصرهم على أعدائك واعداء الدين , اللهم أذل الشرك والمشركين 2, اللهم العن كفارت اهل الكتاب , الذين يصدون عن سبيلك ويكذبون رسولك , ويقتلون أولياءك

اللهم خلف بين كلمهم , وزلزل بين اقدامهم , واشدد وطئتك عليهم

 اللهم انك تسمع كلمى وترى مكاني وتعلم سر وعلنية نسأءلك الاجابة , ربنا اتنا فى الدنيا حسنة و فى الاخرة حسنة و قنا عذاب النار

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s