Mengambil Spirit Iedul Qurban dalam Menghadapi Tantangan Dakwah


Pertama-tama kita panjatkan syukur alhamdulillah, yang dengan bimbingan inayah, rahmat dan hidayah-Nya, kita masih diberi kesehatan dan kekuatan keimanan untuk melaksanakan salah satu syariat-Nya dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah Saw, yakni ibadah jum’at Amien

.

Ikhwatu iman, jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah

Allah swt telah memposisikan kita, umat Islam sebagai umat dakwah, sebagai umat terbaik yang diturunkan di tengah-tengah pergaulan manusia, dengan sebuah catatan,jika kwalitas iman dan kwalitas dakwah kita juga baik. Hal ini seperti diisyaratkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ- ال عمران : 110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran : 110)

Jika selama ini dirasakan atau dinilai umat Islam dalam posisi tersudutkan atau termarjinalkan, kemungkinan penyebabnya ada pada umat Islam sendiri (internal), yakni akibat kwalitas iman atau kwalitas dakwah yang belum baik. Dan dari pihak non muslim (eksternal) yang hendak merobohkan dienullah.

Dakwah juga merupakan tugas yang amat mulia, dan memiliki nilai penting dalam memelihara keselamatan umat manusia dari bencana, malapetakan atau azab Allah swt. Hal ini dijelaskan Allah swt dalam firman-Nya :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ – فصلت :33

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat :33).

Nabi saw bersabda :

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا – ر مسلم وابن ماجة

“Barangsiapa yang menuntun kepada kebaikan, lalu tuntunan itu diamalkan, maka baginya akan mendapatkan pahala sebesar pahala orang-orang yang mengamalkannya, tidak dikurangi dari pahalanya itu sedikitpun. Dan barangsiapa yang menuntun kepada keburukan, lalu keburukan itu diamalkan, maka ia akan mendapatkan dosa sebesar dosa orang-orang yang mengamalkannya, tidak akan dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa itu.” (HR.Muslim dan Ibnu Majah)

Dalam sebuah kesempatan ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi saw : “ Ya, Rasulallah, A Tuhlika al-Qaryatu wa fiha as-shalihun ? “ (Ya Rasulullah, Mungkinkah penduduk sebuah negeri oleh Allah dibinasakan, padahal di negeri itu masih ada orang-orang shaleh ? ) Nabi saw menjawab : “ Na’am” ( ya, bisa !). Sahabat tersebut bertanya lagi agak heran : “ wa bi ma, ya Rasulallah ? “ (bagaimana bisa ya Rasulullah ?). Beliau menjawab: “ Bi sukutihim wa tahawunihim ‘ala ma’ashillahu “ ( Disebabkan orang-orang salehnya berdiam diri, dan cuek, tidak mau tahu terhadap kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah ). (HR. Ath-Thabrani )

Tugas amar makruf dan nahi munkar bukanlah hanya tugas sekelompok orang, melainkan tugas seluruh kaum muslimien, apapun jabatan dan profesi dia, sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya, melalui berbagai pendekatan yang bisa dilakukan dengan ma’ruf. Hal ini seperti tecermin pada sabda Nabi saw :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ – ر مسلم

“ Barangsiapa di antara kamu mendapatkan kemunkaran maka hilangkanlah kemunkaran itu dengan kekuasaannya, jika tidak bisa, maka dengan omongannya, dan jika tidak bisa lakukanlah dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman. “ (HR. Muslim).

Ikhwatu iman, jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah

Para nabi dan rasul semuanya mendakwahkan tentang ketauhidan, nabi Isa ‘alahi salam sekalipun tidak pernah mendakwahkan trinitas. Dalam hal penyampaian dakwah tersebut, para nabi dan rasul senantiasa mendapatkan tantangan dari kaumnya sendiri, sebut saja nabi Nuh ‘alahi salam, nabi luth ‘alahi salam, nabi Ibrahim ‘alahi salam sampai kepada nabi Muhammad Saw, khatamun nabiyin (penutup para nabi).

Begitullah kehidupan dalam berdakwah, senantiasa mendapat tantangan dari kaum kuffar. Hal tersebut juga pada saat ini, bahkan tantangan dakwah yang kita hadapi kini dan ke depan terasa semakin berat dan kompleks.
Dari sekian banyak problematika dan tantangan dakwah bisa kita identifikasi antara lain sebagai berikut :

Pertama, Harakah Irtidad, Gerakan pemurtadan. Terutama gerakan kristenisasi.
Meski menurut firman Allah di QS. Ali Imran : 49 bahwa Nabi Isa as adalah “ Rasulan ila Bani Israila” Seorang rasul untuk Bani Israel, dan Nabi Muhammad saw dalam sabdanya riwayat Imam Al-Bukhari menegaskan : “ Wa kana an-Nabiyyu Yub’atsu ila qoumihi khashshatan, wa bu’itstu ila an-nasi ‘ammatan “ Para nabi itu ( termasuk Nabi Isa as) diutus hanya kepada kaumnya saja, sedang aku diutus kepada seluruh umat manusia. Namun ternyata dalam agama mereka ada doktrin atau kewajiban dakwah mengajak bukan hanya kepada Bani Israel, tapi kepada semua manusia termasuk umat Islam untuk masuk ke dalam agama mereka. Diantara doktrin itu : “ Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi, oleh karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dengan nama Bapak, Anak, dan Roh Kudus “ (Matius 28 : 20)

Dengan doktrin tersebut serta dukungan financial yang kuat, mereka berdakwah begitu giat, intensif bahkan eksesif dengan menggunakan berbagai cara dan pendekatan, terutama dengan mengeksploitasi kemiskinan dan ketertinggalan di bidang pendidikan sebagian masyarakat muslim, melalui iming-iming materi untuk menarik mereka pindah agama, atau murtad dari Islam.
Allah swt. Sudah mengingatkan kita dalam firman-Nya :

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ -البقرة : 109

“ Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( QS. Al-Baqarah : 109)

Kedua, Bermunculannya Aliran dol-Mudil, Aliran Sesat dan Menyesatkan serta bermunculannya mereka yang mendakwakan diri sebagai nabi, alias nabi palsu. Hal ini tentu tidak bisa dan tidak boleh dibiarkan, sebab akan menjadi preseden buruk bagi kemurnian ajaran Islam serta akan sangat merugikan bagi para pengikutnya kelak di hadapan Allah Swt. Terkait dengan ini Allah Swt sudah mengingatkan bahwa kelak di akhirat akan ada banyak orang yang menyesal disebabkan telah salah langkah, dengan meninggalkan ajaran Al-Qur’an dan as-Sunnah, malah mengikuti aliran sesat dan menyesatkan.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا(66)وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا(67)رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا(68) – الاحزاب

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. Al-Ahzab : 66-68)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Rakernasnya tahun 2007 telah menetapkan sepuluh kriteria Aliran Sesat, sebagai pedoman bagi masyarakat dan pemerintah dalam mewaspadai dan menyikapi sebuah kelompok atau aliran keagamaan, yakni : 1) Mengingkari Rukun Iman dan Rukun Islam. 2) Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil-dalil syar’i (Al-Qur’an dan As-Sunnah). 3) Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an. 4) Mengingkari otentisitas dan kebenaran isi Al-Qur’an. 5) Melakukan penafsiran Al-Qur’an tidak berdasar Kaidah Tafsier. 6) Mengingkari kedudukan Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam. 7) Melecehkan atau merendahkan para Nabi dan Rasul. 8) Mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. 9) Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan Syari’ah. Dan 10) Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i.

Kita juga sangat prihatin dengan semakin banyaknya dukun, paranormal atau ”orang pintar” melalui televisi membodohi masyarakat kita, dengan mengundang masyarakat untuk diramal nasib dan masa depannya dengan cara mengirim pertanyaan melalui sms. Padahal soal nasib dan masa depan merupakan masalah gaib, merupakan rahasia Allah Swt. Allah swt berfirman :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ – النمل : 65
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Namal: 65)

Nabi saw sudah mengingatkan kita untuk tidak mempercayai ramalan kahin alias dukun :

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ر احمد

Barangsiapa yang datang kepada dukun atau “ orang pintar” dan mempercayai omongannya, maka ia telah kufur kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Ketiga, Penyakit Masyarakat (Pekat) atau munkarat yang makin merajalela, baik kwantitatif maupun kwalitatif. Berupa: Prostitusi dan aborsi, perjudian, Narkoba dan zat adiktif, minuman keras, serta sadisme. Jutaan kasus aborsi pertahun yang sebagian besar dilakukan oleh mereka yang hamil di luar nikah alias hasil zina, ditemukannya pabrik-pabrik ekstasi besar, ditangkapnya banyak penyelundup heroin dalam jumlah yang spektakuler, maraknya kasus mutilasi, merupakan problematika dakwah dan indikasi lemahnya gerakan nahi munkar serta penegakkan hukum di negeri ini. Membiarkan merajalelanya al- fahisyah atau kejahatan-kejahatan tersebut bisa mengundang turunnya bencana, malapetaka dan azab Allah. Seperti yang pernah menimpa masyarakat zaman dulu. Umat Nabi Luth as yang terkenal sebagai komunitas homoseks dan lesbi pertama dimuka bumi yang dihujani batu, umat Nabi Su’eb as yang disambar-sambar halilitar akibat kecurangan dan ketidak adilan dalam bidang ekonomi, umat Nabi Nuh as yang ditenggelamkan dengan banjir bandang yang dahsyat karena mengingkari dakwah Nabi Nuh as yang menyeru kepada agama tauhid, umat Nabi Musa seperti Korun, konglomerat bakhil dan culas yang ditelan bumi, dsb. Allah menjelaskan :

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ- العنكبوت : 40

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. ( QS. Al-Kabut : 40 ).

Keempat, Liberalisme. Dalam Bidang Politik, Sistem demokrasi liberal yang diterapkan di berbagai negara termasuk di Indonesia, disamping mungkin mengandung nilai positif, ternyata implikasi negatifnya juga tidak sedikit. Maraknya money politik dan riswah (suap), regim yang korup, konflik horizontal dan terkurasnya energi masyarakat. Sementara pemimpin yang dihasilkan belum tentu yang terbaik seperti yang didambakan masyarakat itu sendiri.

Dalam Bidang Ekonomi, liberalisme menunjuk kepada sistem pasar bebas, dimana peran dan intervensi pemerintah sangat dibatasi. Negara-negara miskin cenderung menjadi wilayah pinggiran bagi perekonomian negara-negara kaya. Peran pemerintah yang mestinya melayani dan melindungi kepentingan rakyatnya, bergeser menjadi melayani dan melindungi kepentingan para pemodal atau investor internasional yang telah menginvestasikan modalnya di negara tersebut. Bahkan tidak jarang kebijakan ekonomi negara-negara miskin secara terang-terangan mengambil posisi berlawanan dengan aspirasi rakyat mereka sendiri.

Di Bidang Sosial kaum liberalis telah melegalkan Homoseksual. Fakta yang fenomenal terjadi ketika Nopember 2003 seorang pendeta bernama Gene Robinson yang notabene seorang homoseks telah dilantik menjadi Uskup Gereja Anglikan di New Hampshire. Liberalisme mengajarkan bahwa Seks bebas dan aborsi sebagai privasi individu yang tidak boleh dicampuri oleh aturan agama atau nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, selama individu tersebut senang, sukarela, suka sama suka. Masyarakat dan agama tidak boleh menghakimi mereka. Padahal dampak terkejam dari prilaku seks bebas adalah kecenderungan manusia untuk lari dari tanggung jawab. Ketika terjadi kehamilan, jalan yang ditempuh adalah aborsi. Dengan demikian esensi dari free-sex itu adalah pembunuhan terhadap manusia. Kaum liberalis menuntut emansipasi wanita, kesetaraan gender dengan mengabaikan nilai-nilai agama. Dengan jargon kebebasan (liberty) dan persamaan (egality), kaum feminis secara ekstrim telah memunculkan semangat melawan dominasi laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga. Banyak pria atau wanita yang lebih memilih hidup sendiri. Kebutuhan seksual dipenuhi dengan zina (free-sex), kebutuhan akan anak dipenuhi dengan adopsi dan bertindak sebagai single parent. Jika tidak mau direpotkan dengan anak, maka aborsi jadi solusi. Sejumlah negara Barat telah melakukan ” Revolusi Jingga “ dengan mengesahkan undang-undang yang melegalkan perkawinan sejenis.

Liberalisasi Agama, Liberalisme muncul di Eropa sebagai reaksi dan perlawanan atas otoriteritas gereja yang dengan mengatasnamakan Tuhan telah melakukan penindasan. Konon tidak kurang dari 32.000 orang dibakar hidup-hidup atas alasan menentang kehendak Tuhan. Galileo, Bruno dan Copernicus termasuk di antara saintis-saintis yang bernasib malang karena melontarkan ide yang bertentangan dengan ide Gereja. Untuk mengokohkan dan melestarikan otoriteritas itu, Gereja membentuk institusi pengadilan yang dikenal paling brutal di dunia sampai akhir abad 15, yaitu Mahkamah Inkuisisi. Despotisme Gereja ini telah mengakibatkan pemberontakan terhadap kekuasaan Gereja. Kaum liberal menuntut kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja maupun raja. Liberalisme membolehkan setiap orang melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya. Manusia tidak lagi harus memegang kuat ajaran agamanya, bahkan kalau ajaran agama tidak sesuai dengan kehendak manusia, maka yang dilakukan adalah melakukan penafsiran ulang ayat-ayat Tuhan agar tidak bertabrakan dengan prinsip-prinsip dasar liberalisme. Wajar jika kemudian berbagai tindakan amoralpun seperti : homoseksual, sek bebas, aborsi, dan juga berbagai aliran sesat dan menyesatkan dalam agama dianggap legal karena telah mendapatkan justifikasi ayat-ayat Tuhan yang telah ditafsir ulang secara serampangan dan kacau.

Liberalisasi di bidang Agama juga sudah merasuk kaum muslimin di Indonesia. Liberalisasi Islam dilakukan melalui tiga bidang penting dalam Islam, yaitu (1) Liberalisasi bidang aqidah dengan penyebaran paham Pluralisme Agama. Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Semua agama benar. Maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa hanya agamanya saja yang benar. Menurut mereka, salah satu ciri agama jahat adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak atas agamanya sendiri. Tuhan manusia itu sama, hanya berbeda dalam memberi sebutan atau panggilan. Orang Islam memanggil Allah, Orang Kristen Tuhan Bapak, orang Hindu Sang Hyang Widi Wase, dsb. Hakikatnya yang dipanggil sama. (2) Liberalisasi konsep wahyu dengan melakukan dekontruksi terhadap Al-Qur’an. Para Liberalis Islam telah memposisikan diri sebagai epigon terhadap Yahudi dan Kristen yang melakukan kajian “ Biblical Criticism “. Kajian kristis terhadap Bible yang memang bermasalah. (3) Liberalisasi Syariat Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah qath’i dan pasti dibongkar dan dibuat hukum baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara yang jadi barometernya bukan lagi Al-Qur’an dan As-Sunnah tapi : Domokrasi, HAM, kesetaraan Gender dan Pluralisme. Ketentuan warits laki-laki dua bagian perempuan, Terhalangnya hak warits karena beda agama, pernikahan muslimah dengan non muslim, mereka nilai bertentangan dengan Demokrasi, HAM, Pluralisme dan Kesetaraan gender. Kalau orang menyakini bahwa semua agama benar, bahwa tuhan semua agama itu sama hanya berbeda dalam memanggil, bahwa semua kitab suci itu sama mukjizat, masih patut dikatagorikan sebagai seorang muslim dan Mukmin ?

Itulah sekelumit ilustrasi betapa berat dan komplesnya tantangan dakwah. Sebagai sebuah Sunnatullah, yang harus kita antisipasi, kita sikapi dan hadapi dengan berbagai cara dan pendekatan yang ma’ruf, melalui berbagai media yang tersedia, melalui berbagai kegiatan kehidupan (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, seni dan budaya), dilakukan secara simultan, terorganisasi, dengan senantiasa memohon inayah dan rahmat serta hidayah Allah swt.

Sehubungan jum’at kali ini berbarengan dengan Idul ‘Adha, maka alangkah baiknya kita ambil spirit hari raya Qurban ini, oleh sebab itu suasana Iedul Qurban saat ini tentu tidak hanya diwarnai oleh semangat berkurban dalam bentuk kurban hewan. Tapi juga semangat berkurban fikiran, tenaga, harta dan jiwa untuk mengemban tugas dan kewajiban dakwah. (Disampaikan dalam Khutbah Jum’at di Masjid Al-Furqon Cikendal, 26 Oktober 2012 M/ 10 Dzulhijjah 1433 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s