Pemimpin Panutan Umat


Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 yang setahun lagi akan digelar, tak pelak membuat para pejabat mulai menebar pesona dan melakukan pencitraan, dari mulai politisi partai politik, maupun dari pejabat independen, bahkan dari kalangan selebriti dan pengacara pun tidak ketinggalan; yang samar-samar mengenalkan diri lewat iklan di media massa, sampai yang mengikrarkan diri untuk maju sebagai calon Presiden.

Hingar bingar menjelang Pemilihan anggota DPR dan Presiden tersebut diperankan begitu paradoks oleh para politisi. Mereka menampilkan kepada masyarakat bahwa dunia politik penuh dengan intrik, sehingga tidak aneh bila ditengah jalan mereka saling jegal, baik dari kawan seiring maupun dari lawan politik, sehingga seolah-olah masyarakat melihat politik itu kotor, dan dampak dari itu semua masyarakat apatis akan keberadaan para politisi dan partai politik.

Melihat fenomena tersebut, maka umat tidak ada pilihan untuk mencari sosok pemimpin, sebab para pemimpin saat ini jauh dari sosok panutan, sehingga jabatan yang merupakan amanah, malah menjadi alat untuk memperkaya diri. Karakter pemimpin bangsa ini jauh dari sifat para sahabat Nabi Saw.

Dalam tarikh, banyak para sahabat yang merupakan sosok pemimpin panutan umat. Hingga ketika wafat Rasulullah saw, tidak sepi kader; umat tidak bingung mencari pemimpin, sebab para sahabat sudah mendapat gemblengan dari Rasulullah saw.

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ يُؤَمَّرُ بَعْدَكَ قَالَ إِنْ تُؤَمِّرُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَجِدُوهُ أَمِينًا زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ وَإِنْ تُؤَمِّرُوا عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَجِدُوهُ قَوِيًّا أَمِينًا لَا يَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ وَإِنْ تُؤَمِّرُوا عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَلَا أُرَاكُمْ فَاعِلِينَ تَجِدُوهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا يَأْخُذُ بِكُمْ الطَّرِيقَ الْمُسْتَقِيمَ – ر احمد

Dari Ali ra berkata, Rasulullah saw ditanya : Siapakah yang akan Anda angkat sebagai pemimpin sesudah Anda? Beliau menjawab : Jika kalian memilih Abu Bakar, kalian akan mendapatkan ia sebagai orang yang jujur, zuhud, semangat dalam beribadah. Jika kalian memilih Umar, kalian akan mendapatkan ia sebagai orang yang kuat, jujur, tidak takut dalam memperjuangkan agama Allah dari celaan orang yang mencela. Jika kalian memilih Ali, dan aku melihat kalian tidak akan melakukannya, kalian akan mendapatkan ia orang yang mendapat petunjuk yang akan menuntun kalian ke jalan yang lurus. (HR. Ahmad)

Dalam hadits diatas bagaimana Rasulullah saw menggambarkan para sahabat yang sudah tahan uji mampu untuk memimpin umat, seperti : Abu Bakar, sosok beliau pada saat ini sangat diperlukan, dimana para politisi bukannya menampilkan kejujuran dan zuhud, namun sifat korup, glamour dan hedonistik yang dikedepankan.

Sosok Umar bin Khattab pun tak kalah dari perhatian Rasulullah saw, sebagai salah satu kandidat pemimpin terbaik, beliau bersabda:kalian akan mendapatkan ia sebagai orang yang kuat, jujur, tidak takut dalam memperjuangkan agama Allah dari celaan orang yang mencela”. Karakter Umar tersebut sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi dienullah dari serangan musuh-musuh Islam, dimana saat ini penistaan terhadap agama Islam begitu marak dan terang-terangan dari mulai penyerangan terhadap “simbol” Islam sampai kepada syari’at Islam, yang dilakukan musuh Islam, dari gerakan sempalan sampai kaum kafir.

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda: Jika kalian memilih Ali, dan aku melihat kalian tidak akan melakukannya, kalian akan mendapatkan ia orang yang mendapat petunjuk yang akan menuntun kalian ke jalan yang lurus. Sebagai politisi unggulan pada zamannya, Ali merupakan kader terbaik, sehingga tidak aneh bila Rasulullah saw bersabda demikian. Sebagai sahabat yang dikader Rasulullah saw sejak remaja, menjadikan Ali sebagai kandidat pemimpin panutan umat yang sudah teruji.

Selain ketiga sahabat tersebut, masih banyak kader-kader dan kandidat pemimpin umat yang terbaik dikalangan para sahabat. Maka karakter para sahabat tersebut, merupakan hasil kerja keras Rasulullah saw dalam mendidik mereka. Dalam sirah kita mengenal pendidikan ala Rasulullah saw, sebagaimana diungkapkan Dedeng Rosyidin dalam karyanya Konsep Pendidikan Formal Islam (2009: 31) di Mekkah Rasulullah saw mencetak kader pemimpin tersebut di dua tempat, yaitu: rumah Arqam ibn Arqam dan kuttab, di Madinah Rasul menggembleng para sahabat dengan masjid sebagai basis pendidikan, sehingga muncul “madrasah” Ashabus Suffah. Dengan demikian, untuk menghasikan pemimpin panutan umat, maka sejak dini ulama mulai mencetak calon-calon pemimpin melalui pendidikan karakter ala Nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s