Manajemen Konflik Internal Gerakan Islam


إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaff : 4)

Pada perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang belum lama ini digelar, umat dipertontonkan dengan konflik internal ditubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dimana elit PPP terpecah menjadi dua kubu, keduanya mempunyai kepentingan politik, yakni yang satu pro Koalisi Merah Putih (KMP), besutannya capres Prabowo, kubu yang lain menginginkan berkoalisi dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Puncaknya pasca pilpres, kedua kubu ini saling mengklaim keabsahaan kepemimpinan di PPP dengan masing-masing kubu menggelar Muktamar.

Hal ini membuat miris Umat, dimana PPP yang merupakan Partai Politik Islam terjadi konflik internal ditingkat elit. Sehingga umat berasumsi bahwa elit hanya rebutan kursi kekuasaan bukan untuk kemaslahatan umat, dan ini tidak jauh berbeda dengan Partai Nasionalis-Sekular.

Konflik internal memang terjadi dimana saja, baik ditubuh gerakan sekular maupun ditubuh gerakan Islam. Namun peran media massa menjadi penting sekali disini. Bila terjadi konflik internal ditubuh sekular media massa –yang nota bene kepemilikan saham lebih banyak kaum sekular- konflik tersebut hanya diberitakan sekilas, namun bila konflik internal terjadi ditubuh gerakan Islam, media massa begitu massif memberitakannya, sama halnya dengan kasus-kasus yang lain, seperti: korupsi, suap dan skandal seksual yang menimpa politisi.

Konflik internal bukan hanya terjadi di Partai Politik, namun bisa terjadi diberbagai lini organisasi seperti di Jam’iyyah, DKM, Sekolah, Kantor dan lain-lain. Banyak sebab yang melatar belakangi terjadinya konflik internal, bisa terjadi faktor dari luar (baca: rival atau musuh), bisa juga terjadi karena faktor dari dalam itu sendiri.

Kasus konflik internal yang disebabkan oleh musuh adalah Serikat Islam (SI), gerakan Islam di Indonesia pimpinan HOS Tjokroaminoto, dimana SI mulai terbelah menjadi dua faksi, yakni faksi SI putih dan SI merah. SI putih yang masih mempertahankan ideologi Islam, sedangkan SI merah menginginkan ideologi Komunis –sehingga SI merah ini kemudian hari menjadi Partai Komunis Indonesia/PKI-. Konflik internal di tubuh SI ini merupakan hasil kerja Sneevliet gembongnya Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang berideologi Marxisme/Leninisme, dengan strategi “blok dalam” (block within), yaitu strategi yang didalamnya para kader komunis masuk organisasi tertentu dan berusaha untuk merebut kendali kepemimpinan atas organisasi itu dari dalam.

Dengan strategi “blok dalam” ini, ISDV berhasil menarik simpati para pemimpin cabang SI seperti Semaun dan Darsono (Semarang), Alimin dan Muso (Batavia), dan H. Misbach (Solo) pada ajaran komunisme (Yudi Latif, 2005 : 198, 207).

Itu merupakan salah satu contoh gerakan Islam yang terinfiltrasi oleh gerakan musuh Islam, yang memunculkan konflik internal dan berakhir dengan pembentukan kubu lain, hal tersebut bahkan terjadi pada masa-masa Orde Baru bahkan orde Reformasi saat inipun pasti ada pihak luar yang tidak menginginkan umat Islam bersatu dalam naungan Ukhuwah Islamiyah.

Konflik internal bisa terjadi karena berbeda pendapat, apakah itu ideologi atau kesepahaman, bahkan bisa terjadi berbeda “pendapat-an” (baca: materi/harta dan kekuasaan).

Bila dibandingkan gerakan politik Islam pada abad 20 dengan gerakan politik Islam sekarang, keduanya sama-sama menginginkan kekuasaan berada ditangan, adapun perbedaannya, gerakan Islam yang pertama memperjuangkan ideologi (Islam) sedangkan yang kedua memperjuangkan kursi jabatan. Kalau ini benar, yakni perjuangan mencari harta dan jabatan, hendaknya gerakan politik Islam bekaca pada peristiwa perang Uhud pada zaman Nabi Muhammad Saw, kekalahan demi kekalahan akan terus berulang, Parpol-parpol Islam di Indonesia tidak akan pernah meraih mimpi menjadi pemenang Pemilu.

Kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud pada zaman Nabi Muhammad Saw, harus menjadi pelajaran berharga bagi kaum muslimin saat ini, selain sudah ketentuan Allah Swt, kekalahan tersebut tidak lepas dari keteledoran kaum muslimin sendiri, dimana peraturan Rasulullah Saw yang dilanggar oleh kaum pemanah agar tidak turun dari bukit, peraturan tersebut sediakala hilang sirna tatkala mereka melihat musuh tunggang langgang –padahal itu merupakan strategi dari Khalid bin Walid yang masih dibarisan musuh- dan melihat ghonimah, sehingga peraturan Nabi sirna tatkala melihat harta yang melimpah ruah, yang ditinggal oleh musuh. Namun itu merupakan jebakan musuh, agar kaum pemanah ini turun dan langsung dihajar habis-habisan, sehingga kaum muslimin kewalahan bahkan Nabi pun didesuskan wafat terbunuh, sehingga tambah getir kaum muslimin saat itu.

Munculnya konflik internal akan menyebabkan roda gerakan Islam terhambat, rancangan jihad terbengkalai, umat terabaikan dan yang pasti musuh akan bertepuk tangan. Maka dengan memahami konflik internal tersebut, baik di Jam’iyyah, DKM, Sekolah, Kantor Perusahaan maupun di Partai Politik, baik penyebabnya dari luar maupun dari dalam, maka solusinya adalah menjalin ukhuwah Islamiyah, jangan sampai bercerai berai, firman Allah SWT:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali-Imran : 103)

Kedua, Menta’ati garis komando pemimpin dan tidak terbuai dengan godaan materi/harta yang hal tersebut merupakan jebakan musuh, serta kesadaran mau kembali menggunakan Al-Qur’an dan Al-Hadits bila berbeda pendapat, firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa’ : 59).

Dan yang ketiga adalah berdamai/islah, firman Allah SWT:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat : 10).

DAFTAR PUSTAKA

Depag RI.1992. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: PT. Tanjung Mas Inti Semarang.

Muhammad Sa’id Ramdhan Al-Buthy. 1999. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw, Jakarta: Robbani Press.

Siswanto. 2005. Panduan Praktis Organisasi Remaja Masjid, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Yudi Latif. 2005. Intelegensia Muslim dan Kuasa Genealogi Ineteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20, Bandung : PT Mizan Pustaka.

 

Televisi :

Metro Tv

TV One (majalah Risalah no 10 Th 52, Januari 2015, hlm.82)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s