Fiqih Dakwah (5)


Mengikuti dakwah Rasulullah Saw sebagai bukti cinta kepada Allah s.w.t.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran [3] : 31)

Ayat yang mulia ini[1] menilai setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, sedangkan sepak terjangnya bukan pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad Saw; bahwa sesungguhnya dia adalah orang yang dusta dalam pengakuannya, sebelum ia mengikuti syariat Nabi Saw. dan agama yang dibawanya dalam semua ucapan dan perbuatannya. Seperti yang disebutkan di dalam hadis shahih, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَأَلْتُ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ رَجُلٍ لَهُ ثَلَاثَةُ مَسَاكِنَ فَأَوْصَى بِثُلُثِ كُلِّ مَسْكَنٍ مِنْهَا قَالَ يُجْمَعُ ذَلِكَ كُلُّهُ فِي مَسْكَنٍ وَاحِدٍ ثُمَّ قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Sa’ad bin Ibrahim, dia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Al Qasim bin Muhammad tentang seorang lelaki yang mempunyai tiga rumah. Setelah itu, ia mewasiatkan sepertiga tiap-tiap rumah darinya. Al Qasim bin Muhammad berkata, ‘Semua wasiat itu dikumpulkan dalam satu rumah.’ Kemudian ia berkata, “Aisyah pernah menceritakan kepada saya bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak termasuk amalan agama kami, maka sesungguhnya amalan itu tertolak.” (H. R. Muslim)

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al Anbiyaa’ [21]: 107)

Barangsiapa yang menerima rahmat ini, dan bersyukur dengan nikmat ini, ia bahagia di dunia dan akhirat, dan barangsiapa yang menolak, ia rugi di dunia dan akhirat. Ibnu Abbas berkata: barangsiapa yang mengikuti Nabi maka ia mendapat rahmat di dunia dan akhirat dan kalau tidak mengikutinya ia merugi.

Retorika Dakwah Rasulullah Saw

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ

Dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata, “Apabila Rasulullah SAW berkhutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya tinggi dan keras berapi-api seolah beliau adalah komandan pasukannya, beliau berkata, ‘Jagalah dirimu setiap saat’. Rasulullah SAW bersabda, ‘Antara aku diutus dan datangnya hari kiamat bagai dua jari ini.’ Beliau merapatkan dua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah) lalu bersabda, ‘Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW sejelek-jelek urusan (agama) adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan (bid’ah) adalah sesat’ Beliau bersabda lagi, ‘Bagi setiap mukmin. aku lebih berhak (diikuti) daripada dirinya. Barang siapa (mati) meninggalkan harta, maka harta itu menjadi hak keluarganya, dan barang siapa (mati) meninggalkan hutang atau keluarganya yang terlantar, maka akulah yang bertanggung jawab”‘ (H.R. Muslim)

Rasulullah Saw melakukan pengulangan dalam dakwahnya agar bisa dipahami oleh umat

حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَارُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Abdullah Ash Shafar Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna berkata; Tsumamah bin Abdullah telah menceritakan kepada kami dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila berbicara diulangnya tiga kali hingga dapat dipahami dan bila mendatangi kaum, Beliau memberi salam tiga kali. (H.R. Bukhari)

[1] Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hlm. 326

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s